The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
Bibit Lobak - Mencari Pekerjaan



Irene menangis haru karena dilamar oleh Jullian, siapa sangka nasibnya akan seperti sekarang. Apalagi saat melihat Jullian mengeluarkan kotak cincin, Irene sampai menutup mulutnya dengan tangan. Berarti Jullian sudah merencanakan semuanya.


Bukannya apa, Jullian masih pengangguran selama ini jadi lelaki itu selalu menunda untuk melamar Irene.


"Aku mau," ucap Irene yang membuat Jullian langsung menyematkan cincin itu di jari manisnya.


Dari kejauhan Gwen mengamati keduanya, awalnya dia ingin membawa Irene pergi karena kondisi Irene yang butuh perhatian lebih. Tapi Trevor menahan yang membuat Gwen mengurungkan niatnya.


"Biarkan Jullian mengatasi masalahnya sendiri," ucap Trevor sambil merangkul pundak istrinya.


Gwen mendengus kasar. "Lebih baik aku mempersiapkan pernikahan mereka!"


"Aku juga ingin memberitahumu sesuatu," ucap Trevor lagi.


"Apa itu?"


"Kita akan membangun peternakan sapi sesuai keinginan Juvel!"


Gwen menatap Trevor tidak percaya. "What?"


...*****...


Jullian mondar-mandir tidak jelas karena memikirkan kehamilan Irene. Sementara Irene sendiri sudah tertidur dengan pulas sepulang dari rumah sakit.


Lelaki itu kemudian mengecup kening Irene sebelum pergi lagi untuk menemui Keiner. Dia akan meminta pekerjaan dengan adik iparnya itu.


Keiner sendiri masih berada di rumah sakit, dia menunggu Juvel benar-benar pulih dan sehat sebelum membawa istrinya pulang.


Senyumnya terus terukir karena kehadiran baby Ares. Keiner tak jemu memandang bayi yang masih merah itu di dalam inkubator.


"Kau bahagia sekarang?" tanya Juvel yang melihat suaminya justru lebih perhatian dengan baby Ares daripada dirinya. Tapi Juvel tidak mempermasalahkan itu karena memang baby Ares menjadi awal mula kisah dengan Keiner.


Keiner mendekati Juvel yang duduk di bed pasien, dia ikut duduk di belakang Juvel dan membiarkan istrinya bersender padanya.


"Tapi Keiner..." Juvel jadi rendah diri. "Aku tidak berpengalaman mengurus bayi dan aku tidak bisa mengurus rumah tangga!"


"Kau lupa, ya? Aku kaya jadi kau tidak perlu melakukan semuanya sendirian," sahut Keiner yang membuat Juvel tertawa.


"Yah, aku melupakan jika suamiku kaya dan juga sombong." Juvel memutar kepalanya supaya bisa menatap suaminya. "Tapi aku menyukainya!"


Keiner langsung mencium bibir istrinya, mereka berciuman begitu dalam di mana lidah mereka saling bertautan satu sama lain.


Saat itu, Jullian sampai di rumah sakit dan langsung masuk ke ruang rawat inap Juvel. Saat masuk dia melihat adiknya bercumbu dengan suaminya.


"Ehem!" Jullian berdehem yang mana membuat Juvel dan Keiner melepaskan ciuman mereka.


"Maaf mengganggu waktu kalian!" sambung Jullian sambil berlalu ke inkubator di mana baby Ares berada. Jullian melihat bayi itu dan membayangkan jika dia akan mempunyai bayi seperti itu yang berjumlah 4 sementara dia masih pengangguran.


Jullian menggelengkan kepalanya, itu tidak boleh terjadi.


"Ada apa Jullian? Seharusnya kau menemani Irene," tegur Juvel yang membuat saudaranya itu mendekatinya.


Jullian menatap Juvel dan Keiner bergantian. Dia menurunkan ego dan harga dirinya untuk meminta pekerjaan.


"Jadikan aku kepala devisi departemen keuangan di salah satu perusahaanmu," ucap Jullian yang membuat Keiner membulatkan matanya.


"Aku tidak mungkin mempercayakan masalah keuangan begitu saja pada mantan mafia!" tolak Keiner mentah-mentah.


"Kalau begitu aku bisa menggantikan posisi Lucas!" pinta Jullian yang tidak mau menyerah.


Keiner tetap menggeleng. "Kau harus belajar dari bawah dan dasar-dasarnya kakak ipar!"


Jullian meraup wajahnya dan membatin. "Aku tidak mau jika bibit-bibit lobakku nanti ditanya teman mereka, mereka menjawab pekerjaan daddy nya adalah pengangguran banyak gaya!"