
Di pemakaman Fiona, terdengar suara tangisan dari semua keluarga. Mereka semua tidak percaya jika Fiona sudah tiada, gadis itu meninggal begitu tragis.
Saat semua sudah pergi meninggalkan pemakaman, Jullian masih berdiri di makam Fiona. Dia memberikan satu bunga Lily kesukaan gadis itu.
"Beristirahatlah dengan tenang, Fiona!" ucapnya.
Dan hal itu dilihat oleh Irene dari kejauhan, Irene semakin merasa bersalah dan merasa menjadi penyebab kematian Fiona.
Irene akhirnya mencari Gwen, dia ingin tinggal dengan mertuanya untuk sementara waktu.
"Kau ada masalah dengan Jullian? Kalian kan baru saja menikah, kenapa berpisah?" tanya Gwen bingung.
"Jullian selalu ingin menanam lobaknya, aku takut akan menyakiti bibit-bibit lobak yang ada di dalam perut. Jullian selalu bermain lama," sahut Irene memberi alasan.
"Yah, aku tidak heran!" Gwen hanya bisa geleng kepala.
Gwen akhirnya membawa Irene bersama Sheria ke tempat di mana Trevor dan Gwen akan membangun peternakan sapi.
...*****...
Irene melihat para pekerja yang tengah membangun peternakan di lahan kosong sebuah desa. Suasana di sana begitu damai sekali, jauh dari hiruk pikuk kota dan udara yang masih bersih.
"Trey sedang memesan sapi-sapi terbaik jadi kami akan memerah susu sapi-sapi itu untuk dijadikan susu kemasan," jelas Gwen.
"Jadi, mommy dan daddy akan membuka pabrik susu kemasan?" tanya Irene memastikan.
"Ya begitulah, Sheria sangat berbakat. Dia dan Keiner yang memesan alat-alat untuk pengolahan susu nanti," tambah Gwen.
Bahkan mertuanya sudah memikirkan masa tua mereka seperti itu. Sementara Jullian?
"Jullian belum mendapat pekerjaan juga?" tanya Gwen.
Irene hanya mengangguk. "Katanya Jullian ingin membuka kafe tapi aku tidak yakin."
"Kau meragukan Jullian?" tanya Gwen lagi. Dia semakin penasaran dan mencoba bertanya pelan-pelan.
"Tidak juga," keluh Irene dengan wajah tertunduk.
Irene langsung terdiam dan memeluk perutnya, dia juga ingin masalahnya dengan Jullian cepat selesai.
Malam harinya, Julian menyusul Irene di kediaman orang tuanya yang baru. Dia tahu pasti Irene masih merasa menjadi perusak hubungannya dengan Fiona.
"Sayangku Irene...." teriak Jullian saat sampai.
"Wah, suami pengangguran akhirnya datang juga," sambut Trevor dengan nada ejekan yang kental.
"Aku akan membuka sebuah kafe! Aku membutuhkan bantuan Sheria, di mana dia?" tanya Jullian dengan mata menelisik mencari bocah itu.
"Sheria sedang mengerjakan tugas sekolahnya, jangan ganggu dia!" timpal Gwen yang tidak mau konsentrasi belajar Sheria terganggu.
"Baiklah, aku akan langsung menemui Irene saja!" Jullian mencari kamar di mana Irene berada.
Di dalam kamar, Irene tengah membaca buku. Gadis itu ingin banyak tahu seputar kehamilan. Kebetulan Gwen mempunyai buku-buku yang dibutuhkan Irene.
"Sayang..." panggil Jullian yang membuat Irene langsung menatap suaminya.
Irene hanya diam saja yang membuat Jullian bingung sendiri.
"Apa yang sedang kau baca?" tanya Jullian basa-basi.
Irene masih diam yang membuat Jullian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Awas loh kalau kebanyakan diam nanti kotak suaranya rusak," ucap Jullian yang menakut-nakuti istrinya.
"Memangnya kita punya kotak suara?" tanya Irene mulai terpancing.
"Tentu saja punya jadi jangan diam terus nanti suaranya jadi bababubibububiboba..."
Irene seketika langsung tertawa yang membuat Jullian langsung memeluk istrinya.
"I love you, Irene," ucapnya.