
Irene langsung dibawa ke rumah sakit terdekat dan dokter menyarankan untuk melakukan operasi caesar.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan bayi-bayi saya," ucap Jullian pada dokter yang menangani Irene.
Dan hari itu, Irene melakukan proses operasi caesar untuk mengangkat bayi-bayi wuba.
Jullian dan anggota keluarga lain harap-harap cemas mengingat kondisi Irene yang melahirkan di usia muda.
"Ingat Sheria, kau harus menikah di usia yang tepat nanti," ucap Gwen sambil mengelus rambut anak angkatnya itu.
"Aku ingin membantu dan tidak mau jauh-jauh dari Grandma," sahut Sheria sambil memeluk Gwen.
Gwen terharu karena kesetiaan Dozer dan Ruby melekat pada Sheria. Dia berjanji akan memberikan yang terbaik untuk anak itu sampai Sheria bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.
Sementara Trevor sendiri bersama dengan Neil dan Zack untuk membicarakan bisnis baru mereka yaitu produk susu.
"Aku akan mengurus peternakan sapi sementara kalian harus mengurus produksi dan pemasaran!" ucap Trevor yang menawarkan pekerjaan karena usaha kedua bujang lapuk itu gagal total.
Neil dan Zack langsung memeluk Trevor, mereka sudah terbiasa diperintah dan melayani lelaki itu jadi saat mereka berpisah rasanya ada sesuatu yang kurang.
"Bagi kami, kau akan selalu jadi bos kami," ucap mereka.
Trevor membalas pelukan orang-orang kepercayaannya itu. Mereka yang selalu ada dari dulu sampai sekarang. Trevor tidak mau kehilangan lagi.
"Ada apa, Babe?" tanya Keiner yang melihat istrinya meneteskan air mata.
Juvel menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya saja..."
"I know, kau tidak perlu menjelaskan semuanya." Keiner mengangkat baby Ares ke pangkuannya kemudian merangkul pundak Juvel. "Berterima kasihlah pada Tuhan karena skenarionya yang membuat jalan keluargamu jadi penuh berkat!"
Juvel dan Keiner kemudian mencium baby Ares bersama-sama.
Dan Chade yang melihat itu jadi tertunduk, dia masih merasa bukan bagian dari keluarga Volstaire.
"Kau kenapa, Chade?" tegur Sheria. "Jangan bersedih!"
Sheria bisa merasakan apa yang dirasakan bocah itu, Sheria menggandeng tangan Chade untuk melihat bayi-bayi wuba.
"Ayo kita melihat bayi-bayinya, mereka sudah ada di ruangan bayi!"
Sheria dan Chade berlari kecil ke ruangan bayi dan melihat bayi-bayi Irene dan Jullian yang berada di dalam inkubator.
"Ramalanku benar, 'kan? 2 laki-laki dan 2 perempuan," ucap Sheria kesenangan.
"Apa kau bisa meramal masa depan kita?" tanya Chade kemudian.
Sheria tampak berpikir sejenak. "Aku ramal, kita akan bersama saat dewasa!"
"Bersama bagaimana?"
Chade agak kecewa dengan ramalan Sheria karena yang dia harapkan lebih dari itu.
Sampai beberapa jam berlalu akhirnya bayi-bayi wuba masuk ke ruangan Irene dirawat.
Keempat bayi itu menangis bersama yang membuat anggota keluarga bingung. Mereka menggendong satu masing-masing.
"Siapa nama mereka?"
Jullian melihat keempat bayinya bergantian, dia sudah memikirkan nama-nama bayinya jauh-jauh hari.
"Albert, Kenneth, Liliosa, Lilledelle. Itu nama-nama mereka." Jullian mendekati Irene yang masih menahan sakitnya. "Kau suka nama mereka kan sayang?"
"Aku suka!" jawab Irene yang bersyukur.
Seorang gadis terbuang seperti dirinya bisa mendapat kasih sayang dan sekarang bisa memproduksi banyak anak.
"Setelah ini kita pasti akan kerepotan tapi tenang saja, mereka pasti tidak akan rewel seperti Ares!" ucap Jullian percaya diri.
Bersamaan dengan itu, baby Albert yang berada di gendongan Jullian menangis dan disusul ketiga saudaranya.
Alhasil ruangan di sana menjadi lomba tangis yang membuat semua anggota keluarga bingung cara menenangkan bayi-bayi wuba.
Irene menahan tawanya melihat semua orang kerepotan mengurus bayi-bayinya.
Sampai akhirnya keempat bayi itu kembali tertidur saat mendapat susu. Terpaksa mereka meminum susu formula terlebih dahulu.
"Daddy dan mommy pergi dulu, besok kami kembali lagi," pamit Gwen.
"Aku juga harus pergi karena Chade besok sekolah pagi-pagi." Juvel ikut undur diri.
Semuanya kabur saat bayi-bayi Jullian dan Irene sudah tertidur.
"Ck! Aku tahu kalian tidak mau repot!" decak Jullian kesal. Dia harus cepat memanggil pengasuh bayi untuk membantunya.
"Jullian!" panggil Irene supaya suaminya duduk di sampingnya.
"Kenapa? Apa ada yang kau butuhkan?" Jullian duduk di samping istrinya dan sedetik kemudian dia merasakan sapuan bibir dari Irene.
"Terima kasih," ucap Irene tulus.
Jullian mengusap wajah Irene dan membalas ciuman istrinya. "I love you, Irene."
...*****...
...TAMAT...
Jangan di unfavorit dulu ya kak nanti kalo cerita Sheria dan Chade udah launching, aku umumin di sini. Aku tamatin ceritaku yang ada dulu🙂