
Chade yang tahu jika Sheria ada di mansion Keiner buru-buru mempercepat kepulangannya dari sekolah bahkan dia memakai uang jajannya untuk membelikan Sheria cemilan.
Saat sampai, bocah itu berlari masuk dan langsung mencari Sheria.
"Kau dikejar hantu?" tegur Gwen saat melihat Chade masuk.
"Aku ingin menemui Sheria, Grandma. Di mana dia?" tanya Chade sambil menelisik setiap ruangan di lantai bawah.
"Biasakan memanggil Sheria itu kakak, dia lebih tua tiga tahun darimu," sahut Gwen yang ingin menanamkan kebiasaan itu sejak dini.
Chade langsung menggeleng. "Aku tidak mau! Sheria bukan kakakku!"
"Ck! Anak-anak mafia ini," decak Gwen dalam hatinya.
Pada saat itu bertepatan dengan jam makan siang jadi Sheria dan yang lain turun ke lantai bawah.
"Chade, kau sudah pulang?" tanya Juvel sambil mendekati bocah itu. "Cepat ganti bajumu setelah itu kita makan siang bersama!"
Bukannya menuruti Juvel, Chade justru terpaku karena melihat perubahan penampilan Sheria. Gadis kecil itu mengecat rambutnya jadi warna pirang.
"Sheria!" panggil Chade setengah berlari. "Rambutmu?"
"Bagus tidak?" tanya Sheria sambil mengibaskan rambutnya.
"Bagus sekali!" Chade memegang ujung rambut Sheria. "Tunggu aku dewasa ya!"
"Kenapa aku harus menunggumu dewasa." Sheria jadi bingung sendiri. Dia menjauhi Chade dan ikut bergabung dengan yang lain.
Sementara Gwen mencoba membangunkan Trevor yang tertidur dengan baby Ares di kursi malas yang berada di dekat kolam renang.
"Bukankah ini berbahaya?" gumam Gwen sambil menepuk pundak Trevor. "Trey, bangunlah! Makan siang sudah siap dan jangan tidur sambil menggendong bayi kalau Ares terjatuh, bagaimana?"
Trevor sayup-sayup mendengar suara istrinya. Dia mengeratkan gendongannya, baby Ares tidak rewel sama sekali, Trevor menyukainya.
"Bukankah Ares waktunya minum susu?" tanya Trevor saat membuka mata.
"Iya, ayo masuk! Sini biar Ares, aku gendong!" Gwen ingin menggendong cucunya juga.
"Trey, kau tidak memberiku kesempatan menggendong cucuku sendiri!"
"Kau tunggu anak-anak Jullian saja sayang, mereka ada empat jadi kau akan puas menggendongnya nanti!"
"Masih beberapa bulan lagi, aku ingin menggendong yang ada dulu!"
Gwen tetap memaksa tapi Trevor tidak mau memberikannya. Trevor justru masuk ke dalam dan mencari pengasuh baby Ares untuk meminta susu Juvel yang sudah diperah.
"Biar Ares menyusu langsung dari sumbernya, Dad!" Juvel ingin mengambil alih bayinya. Dia sebenarnya sangat merindukan baby Ares yang semenjak Trevor datang, bayi itu dikuasai oleh pensiunan mafia itu.
"Kau juga ingin mengambil milikku! Ares tenang bersama daddy jadi berikan susu perah saja," tolak Trevor yang tidak mau melepas cucunya.
Bersamaan dengan itu Keiner dan Jullian datang, mereka sengaja pulang lebih awal karena ingin makan siang bersama. Jarang-jarang anggota keluarga berkumpul bersama.
"Ares, daddy pulang!" Keiner sangat merindukan bayinya.
"Pasti kau juga akan mengambil milikku!" Trevor waspada. Dia menjauhkan diri dari semua orang.
"Daddy mertua, mau dibawa kemana bayiku?" Keiner mengejar Trevor yang membuat seisi mansion tertawa.
Juvel terkekeh sambil ikut menyusul suaminya. "Kapan mereka akan benar-benar akur?"
"Dad! Biarkan Ares minum susu dulu!"
Keiner yang mendengar itu jadi emosi karena bayinya belum minum susu.
"Daddy mertua! Kau mau membunuh cucumu sendiri ya!? Tolong jangan bersikap seperti itu pada bayi tidak berdosa!" teriak Keiner.
Tiba-tiba saja Trevor berhenti dan memberikan baby Ares pada Keiner dengan suka rela.
"Ares sepertinya memang merindukan daddy-nya!" Trevor bergegas berlari setelah baby Ares berada digendongan Keiner.
Keiner mencium bau tidak sedap, sudah dipastikan baby Ares pup dan Trevor yang tidak mau repot, memberikan bayi itu begitu saja.
"Inikah yang dimaksud sekali mafia tetap mafia?" gerutu Keiner.