
"Fiona!" teriak Jullian. Dia tidak mau membuat Irene semakin salah paham.
Tapi rupanya Fiona tidak berhenti sampai disitu.
"Kenapa Jullian? Aku sudah lelah bersembunyi..." Fiona meluapkan perasaannya yang terpendam. "Selama ini kita menjalani hubungan sembunyi-sembunyi, aku tidak masalah akan hal itu tapi semenjak ada Irene, kau mengabaikan aku!"
"Itu karena hubungan kita salah! Aku menjauhimu dan lebih memilih Irene sekarang! Aku ingin kau melupakan hubungan kita!" jelas Jullian.
Sebenarnya Jullian sudah lama memutuskan hubungan mereka tapi Fiona masih belum menerimanya.
"Kau perusak hubungan Irene!" teriak Fiona yang kini menyalahkan gadis itu.
"Apa Jullian mengatakan kalau dia mencintaimu? Dia juga melakukannya padaku! Siap-siap saja, sebentar lagi kau akan ditinggal oleh Jullian!"
Setelah berkata seperti itu, Fiona memakai kaca matanya dan keluar dari apartemen.
Irene yang sudah terlanjur syok, memilih masuk ke kamarnya. Dia dibandingkan dengan Fiona tentu bukan apa-apa.
"Sayang..." panggil Jullian yang menyusul Irene ke kamar.
Jullian langsung memeluk Irene dari belakang. "Jangan salah paham! Fiona adalah masa laluku!"
Irene tidak bisa menjawab apa-apa, dia tidak mengerti tentang hubungan Fiona dan Jullian tapi dia merasa seolah-olah menjadi penyebab retaknya hubungan mereka.
"Kita akan segera menikah dan menanti kelahiran si kembar empat," bujuk Jullian.
"Kau percaya padaku, 'kan?"
Irene hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.
Dan semenjak hari itu Irene menjadi pendiam.
...*****...
Acara pernikahan Jullian dan Irene segera digelar sebelum perut Irene membesar. Pernikahan sederhana yang hanya didatangi oleh keluarga inti diadakan di sebuah hotel berbintang lima.
"Ada apa?" tanya Gwen perhatian saat melihat wajah Irene yang tampak murung di hari pernikahannya sendiri.
"Tidak apa-apa, hanya tubuhku cepat lelah sekarang," sahut Irene memberi alasan.
"Tidak ada acara resepsi, hanya ada acara pemberkatan setelah itu selesai," bujuk Gwen.
Irene kembali tersenyum, dia berjalan dituntun oleh Gwen tak lama Trevor juga ikut bergabung. Mereka mengantar Irene pada calon suaminya.
Sementara Jullian sudah menunggu calon istrinya datang. Jullian berpenampilan begitu gagah hari itu yang membuat Fiona terus memperhatikan lelaki itu.
Fiona kembali mengingat masa-masa yang dia habiskan bersama Jullian.
"Kenapa?" tegur Maudy sang ibu. "Kau ingin menikah juga? Daddy mu sudah memilihkan calon untuk mu tapi kau selalu menolaknya!"
"Aku masih belum mau menikah, Mom," sahut Fiona sambil berdiri. "Aku akan mendatangi Juvel, aku ingin melihat baby Ares!"
Pada saat itu baby Ares tertidur di stroller baby. Juvel dan Keiner menjaga bayi mereka, mereka menunggu mempelai perempuan tiba.
"Bukankah baby Ares semakin hari semakin mirip denganku, Babe?" tanya Keiner yang tak jemu terus memandangi bayinya.
"Bagiku, baby Ares jauh lebih tampan!" ungkap Juvel dengan kekehan.
"Aku tidak akan cemburu dengan anakku sendiri!" Keiner tidak akan terpancing oleh godaan Juvel.
Fiona yang mendekat melihat bagaimana Juvel yang bahagia sekarang.
"Ehem! Apa aku mengganggu? Aku ingin melihat baby Ares!" ucap Fiona kemudian.
"Baby Ares tidur, kemarilah!" Juvel meminta Fiona untuk duduk di sampingnya.
Sedetik kemudian mempelai perempuan tiba, semua mata tertuju pada Irene termasuk Fiona.
"Lupakan Jullian, Fiona. Jika kau mengganggu Irene, kau akan berhadapan denganku!" bisik Juvel penuh ancaman, tentu saja dia tahu hubungan rahasia antara Fiona dan Jullian.