The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
Bibit Lobak - Bumil Menggoda



Sesuai dengan saran Juvel, Jullian mengikuti kelas barista. Dia benar-benar memulainya dari dasar bahkan Jullian juga mengikuti kelas memasak.


Kini Jullian tahu apa saja yang ingin dia jual nanti, Jullian perlu melatih kemahirannya membuat kopi dan dessert.


Lalu dia membuat konsep dan dibantu oleh Keiner mematangkan konsepnya.


"Aku rasa ini sudah cukup bagus, sekarang harus menentukan lokasi yang strategis," ucap Keiner.


"Kalau masalah itu, aku menyerahkan semua padamu, adik ipar," sahut Jullian yang mengandung sejuta modus.


Keiner memutar bola matanya malas tapi dia senang karena Jullian berusaha keras merancang masa depannya.


Setelah menemui Keiner, Jullian kembali ke apartemen. Dia ingin mengistirahatkan diri setelah bekerja kerasa selama beberapa bulan ini.


Saat sampai di apartemen, Jullian mencium aroma masakan dari arah dapur.


"Irene!" seru Jullian yang melihat istrinya berkutat di dapur.


Mata Jullian membulat karena melihat tubuh mungil Irene, perutnya sudah membuncit.


"Oh God!" Jullian mendekat dan langsung menunduk untuk mencium perut Irene.


Irene akhirnya luluh juga, dia mengalah untuk menemui Jullian duluan karena Jullian benar-benar tidak pergi lagi ke peternakan sapi.


"Mommy sudah tidak marah lagi, 'kan?" tanya Jullian yang seolah berbicara pada calon bayi-bayinya.


"Marah pun percuma," sahut Irene yang justru kesal karena Jullian yang tidak datang mengunjunginya.


"Daddy sedang merancang masa depan untuk kalian, supaya bisa beli es krim dan mainan," ucap Jullian sambil mengusap-ngusap perut Irene. "Pasti berat, 'kan?"


Irene berjalan menuju meja makan dan mendudukkan diri.


"Makanlah, aku sudah masak banyak," ucap Irene sambil mengambil piring untuk Jullian.


Jullian senang sekali karena Irene sudah kembali seperti dulu. Dia memandangi wajah Irene yang tampak berisi.


"Sepertinya peternakan sapi memang cocok untukmu sayang," komentar Jullian.


"Di sana memang menyenangkan tapi aku merasa kesepian," ungkap Irene yang merindukan suaminya.


"Pasti merindukan lobakku, 'kan?"


"Uhuk!"


Irene langsung tersedak yang membuat Jullian tertawa kesenangan.


"Dulu kau seringan kapas tapi sekarang..."


"Aku gendut karena bayi-bayi wubamu!"


"Siapa yang bilang gendut? Kau begitu seksi sayang!"


Jullian membaringkan Irene di atas ranjang dan dengan cepat Jullian langsung membuka bajunya.


"Aku merindukanmu, Irene," bisik Jullian dengan mengecupi leher istrinya. "Aku buka bajunya, ya!"


"Aku malu," tolak Irene yang tubuhnya seperti dulu lagi.


"Tidak apa-apa." Jullian tetap memaksa sambil melepas baju Irene satu persatu. "Siapa yang mengantarmu kesini sayang?"


"Mommy dan daddy. Mereka sekalian mengunjungi baby Ares," jawab Irene dengan memejamkan matanya.


Kini tubuhnya sudah polos sepenuhnya. Tapi dia berusaha menutupi tubuhnya.


"Kenapa? Tidak apa-apa," bujuk Jullian yang justru mencumbu tubuh Irene.


"Jangan malu dan takut, aku tidak akan menyakitimu dan bayi-bayi wuba kita. Mereka pasti senang ketika disiram," tambah Jullian.


Akhirnya Irene menurut dan badannya tersentak saat lobak Jullian memasukinya.


"Kenapa sayang?"


"Aku lupa rasanya, sepertinya lobaknya membesar!"


"Ini tidak membesar tapi ladangmu saja terlalu sempit!"


Irene mencoba rileks dan menikmati permainan suaminya.


Peluh mulai membanjiri pelipis Irene dan dia merasakan Jullian begitu bersemangat.


"Pelan-pelan!" pinta Irene sambil memegangi bisep suaminya.


"Kau begitu menggoda, Irene. Aku tidak bisa berhenti!" Jullian justru semakin bersemangat menggoyangkan pinggulnya.


Pada saat itu Jullian melihat bayi-bayi wubanya juga ikut bergerak.


"Sayang, mereka pasti kesenangan ditengok oleh daddy-nya!"