The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 30 - Pawang Betina



Keiner menunduk untuk mengambil pedang yang berada di bawah kakinya. Dia tidak tahu akan bisa menang atau tidak, tapi dia akan berusaha melawan calon mertuanya itu.


"Nyalimu cukup besar juga," komentar Trevor saat melihat Keiner yang sudah siap menerima serangannya.


Trevor kemudian maju dan tanpa ragu mengayunkan pedangnya.


Trang!


Keiner berhasil menangkis serangan itu sambil membatin. "Ternyata dia memang tidak main-main!"


Pemandangan itu dilihat oleh Jullian memakai teropongnya, timbul ide di kepalanya untuk merebut Irene. Gadis mungil itu saat ini tengah belajar membaca dengan Gwen dan Juvel.


Jullian segera mendatangi mereka yang berkurung diri di kamar Irene.


"Mom..." Jullian mengetuk pintu kamar Irene tapi tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Jullian langsung saja berteriak. "Daddy akan membunuh Keiner, mereka bertarung di depan!"


Seketika pintu langsung terbuka dan Gwen menyembul keluar.


"Apa itu benar?" tanya Gwen jadi cemas.


"Benar, kalau tidak percaya lihat saja sendiri!" jawab Jullian tampak meyakinkan.


Gwen buru-buru mengajak Juvel pergi untuk melihat sendiri keadaan Keiner dan Trevor.


"Ayo Juvel! Jangan sampai bayimu lahir tanpa sosok ayah!" ajaknya.


Juvel menggelengkan kepalanya karena ayah dan calon suaminya yang terus-terusan berselisih.


Setelah kepergian ibu dan adiknya, Jullian merasa kegirangan. Dia bergegas masuk ke kamar Irene dan mengunci pintunya.


Irene yang sebelumnya mendengar perkataan Jullian jadi bertanya. "Apakah di markas ada masalah?"


"Jangan dipikirkan, mommy dan Juvel pasti akan membereskan masalah itu!" Jullian mendekati Irene dan duduk di samping gadis itu. "Sudah sampai di mana belajarnya?"


Irene mencoba membaca, walapun masih terbata dan banyak kata yang salah. Jullian memakluminya.


"Tidak perlu buru-buru!" Jullian mengusap puncak kepala Irene. "Kalau sudah belajarnya, temani aku!"


"Temani aku mandi, aku kepanasan dan kau harus menggosok punggungku!"


Irene menggigit bibir bawahnya karena lagi-lagi Jullian akan memperlihatkan tubuhnya yang tanpa busana.


"Penasaran apa?" Jullian tampak kesenangan karena Irene yang penasaran padanya.


"Apa di sekolah tidak diajari tentang rasa malu? Kenapa kau tidak malu memperlihatkan tubuhmu yang telanjang seperti bayi padaku?" tanya Irene kebingungan.


Jullian mengusap wajahnya kasar. "Haruskah aku bilang jika aku ingin menidurinya! Argh..."


*****


Di luar markas, keadaan semakin tegang karena Trevor yang terus menyerang Keiner tapi lelaki itu juga berhasil menangkis serangan brutal dari calon ayah mertuanya.


Para anggota di markas utama berteriak menyoraki bos mereka.


"Stop!" teriak Gwen dengan mengacak tangannya di pinggang.


Juvel buru-buru mendatangi calon suaminya dengan wajah dibuat sepanik mungkin.


"Babe, kau tidak apa-apa?" tanya Juvel dengan meraba tubuh Keiner. Kemudian Juvel juga marah pada Trevor. "Daddy mau membunuh calon suamiku?"


"Apa Daddy tega melihatku melahirkan tanpa suami dan anakku yang tidak mempunyai ayah?"


Juvel menarik tangan Keiner untuk masuk ke dalam markas. "Ayo Babe, aku akan memeriksa tubuhmu, apa ada yang terluka atau tidak!"


Keiner tersenyum smirk dan memandang ke arah Trevor seolah berkata. "Akulah pemenangnya!"


Dan Trevor yang melihat itu juga mengancam dengan tatapan matanya yang tajam.


"Lihatlah, lelaki pemerkosa itu mengambil semua perhatian Juvel!" ketusnya.


Gwen tidak segan untuk menjewer telinga suaminya. "Pemerkosa kau bilang? Bukankah kau dulu juga memaksaku?"


"Hentikan sayang, semua anak buah melihatku sekarang!"


"Biar saja mereka melihat, aku tidak akan melepaskan tanganku sebelum kau memberi restu Juvel dan Keiner!"


Gwen semakin memutar telinga Trevor yang membuat Trevor mengaduh kesakitan.


"Wah, bos Trevor sudah tunduk dengan pawangnya!" komentar para anak buah di markas utama.