The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 76 - Menyelinap



Violet dan Trevor duduk berdua di kursi kayu panjang dengan mata yang terus melihat air hujan yang jatuh.


Mereka terdiam cukup lama sampai Violet meraih tangan Trevor dan menggenggamnya.


"Daddy mu juga pernah mengalami hal yang sama, Noah selalu mengatakan pedangnya sudah terasa berat tapi dia tidak mau berhenti!" ucap Violet membuka suara.


"Lalu aku bertanya, kenapa?"


Trevor tersenyum mendengarnya. "Pasti daddy mengatakan sekali mafia tetap mafia!"


"Ya, Noah selalu mengatakan itu," sahut Violet terkekeh mengingat suaminya.


Kemudian Violet menatap Trevor dan mengusap wajah putra semata wayangnya. "Are you happy?"


Trevor mengernyit mendapat pertanyaan seperti itu sampai Violet kembali berkata. "Juvel hanya mengambil markas dan anak buahmu, dia tidak mengambil jati dirimu!"


"Juvel juga tidak bisa keluar begitu saja dari dunia mafia karena darahnya mengalir darah mafia sekalipun dia menolaknya!"


"Kau bisa membangun markas dan mengumpulkan anak buahmu kembali, kalian bisa melakukan kejahatan lagi. Lalu, apa yang kau takutkan?"


Pertanyaan sederhana yang sulit untuk dijawab Trevor.


"Kita semua mempunyai pilihan jika kau bahagia menjadi penjahat maka lanjutkan hidupmu yang seperti itu tapi jika kau merasa lelah, istri dan anak-anakmu menunggumu," tambah Violet lagi.


Violet berdiri dan menepuk pundak anaknya. "Ambillah keputusan yang membuatmu bahagia, Boy!"


Pada saat itu, Trevor mencoba menatap Violet tapi tiba-tiba saja ibunya itu menghilang.


"Mom..." panggil Trevor kebingungan.


Trevor berlari dan mencari keberadaan ibunya tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Akhirnya Trevor memutuskan untuk pergi ke rumah singgah di mana Violet biasanya berada.


Sesampai di rumah singgah, Trevor segera mencari keberadaan Violet tapi kenyataan pahit yang harus Trevor terima, Violet ternyata sudah meninggal dari beberapa jam yang lalu.


Pihak rumah singgah mencoba menghubungi Trevor tapi nomor ponsel lelaki itu tidak aktif.


Menyesal! Hanya itu yang Trevor rasakan. Kalau saja Violet selalu berada di sampingnya pasti dia akan bisa merawat dan melihat kepergian ibu yang telah mengandungnya.


*****


Di sisi lain, Chade yang dibawa oleh Dylan ke markas The Green Hornet bertemu dengan Sheria yang selalu menangis dan tidak mau makan.


"Aku membawakan mu roti," ucap Chade yang membujuk gadis kecil itu untuk makan.


Sheria menggeleng. "Aku ingin bersama mommy dan daddy!"


Chade ikut duduk di samping Sheria dan menghembuskan nafasnya kasar. "Urusan orang dewasa sangatlah rumit!"


"Aku berharap mempunyai orang tua seperti teman-temanku di sekolah tapi aku tidak akan pernah bisa mendapatkannya! Orang tuaku adalah orang-orang yang mengerikan!"


"Mereka seperti monster!"


Chade jadi ikut menangis yang membuat Sheria menghapus air mata Chade kemudian mereka berpelukan dan menangis bersama.


"Jangan menangis, aku akan memakan rotinya!" Sheria mencoba menjadi kakak untuk Chade. Gadis kecil itu meraih roti di tangan kecil Chade kemudian memakannya, sesekali Sheria juga menyuapi Chade.


"Psst! Psst!"


Tiba-tiba terdengar suara yang membuat atensi kedua anak itu teralihkan, mereka mencari sumber suara.


"Kak Irene!" panggil Chade saat tahu siapa yang membuat suara itu.


Irene memberi kode dengan jari telunjuk di mulutnya supaya Chade jangan berteriak.


Bukannya pergi, Irene justru menyelinap ke markas The Green Hornet. Dia ingin menyelamatkan Sheria dan Chade. Pernah tinggal di markas itu, Irene tahu jalan-jalan rahasia menuju ke markas The Green Hornet.


Saat dia berhasil masuk, Irene justru mendapati Sheria dan Chade yang menangis.


"Aku bukan kelemahan Jullian," gumam Irene percaya diri.