The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 35 - Si Agresif



Waktu makan malam, semua berkumpul di meja makan dengan pasangan mereka masing-masing.


Gwen menyiapkan makanan untuk suaminya, Irene juga menyiapkan menu kesukaan Jullian. Saat Irene ingin undur diri karena merasa bukan bagian dari keluarga, Gwen menahannya.


"Mulai sekarang kau harus makan satu meja dengan kami," ucap Gwen.


"Ta--tapi..." Irene berusaha menolak.


"Dan panggil aku mommy juga, kau anak angkatku sekarang," tambah Gwen yang membuat Irene meneteskan air matanya.


Di saat ibu dan saudara tirinya membuangnya, sekarang justru dia mendapat keluarga baru yang sayang padanya, walaupun mereka keluarga mafia, Irene tidak mempermasalahkan itu.


"Gadis mungilku." Jullian yang melihat Irene menangis jadi mencuri kesempatan. Lelaki itu berusaha memeluk Irene.


Tapi Gwen tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Jangan menyentuh putri kecilku, anak nakal," ucapnya dengan menjauhkan Irene. "Dia masih kecil harus banyak belajar jika bersamamu kau akan terus mengajarinya aneh-aneh!"


"Mom... Aku butuh Irene!" protes Jullian.


"Butuh untuk apa?" Gwen yang tahu jika Jullian butuh Irene untuk bermain lobak, tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Keiner terkekeh melihat keluarga barunya, rasanya sudah lama dia tidak merasakan kehangatan keluarga. Walaupun keluarga Juvel di luar ekspektasinya tapi mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.


Kemudian Keiner menatap Juvel yang duduk di sampingnya.


Juvel tampak menikmati makanannya sampai ada makanan yang tertinggal di bibirnya, Keiner mengusap bibir Juvel dengan ibu jarinya.


"Kenapa cara makanmu selalu belepotan," komentarnya.


"Tidak dibersihkan memakai bibir lagi?" tanya Juvel yang mengingat ciuman pertama mereka karena saos di bibir.


"Sepertinya kau ketagihan dengan ciumanku," goda Keiner dengan mengeluarkan kesombongannya. "Siapa juga yang bisa menolak!"


Trevor yang melihat interaksi keduanya jadi jengah sendiri, dia menatap tajam ke arah Keiner seolah berkata. "Awas kau!"


"Jika aku mendengar atau melihat Juvel kau sakiti sedikit saja..." Trevor langsung menancapkan pisau di meja. "Entah bagaimana nasibmu!"


"Dad..." Juvel berusaha menghentikan Trevor yang terus saja mengancam.


Selesai makan, Juvel membawa Keiner ke atap markas. Tempat favoritnya.


Mereka berdua dan berbaring menatap langit di malam hari.


"Sepertinya akan turun hujan, bintangnya tidak ada, sayang sekali. Padahal kalau tidak mendung dan cerah, bulan dan bintang sangat terlihat jelas dari sini," ucap Juvel.


"Bulan dan bintang? Kau memang mafia berhati hello kitty," komentar Keiner.


"Ish, kenapa kau selalu seperti itu. Mulai sekarang kau harus menganggapku wanita!" pinta Juvel yang tidak mau dipandang sebelah mata.


Juvel merapatkan dirinya pada Keiner dan lelaki itu langsung memeluk Juvel. Satu tangannya mengusap perut Juvel yang masih rata.


Lalu keduanya saling bertatapan, Keiner tentu mulai merasa nyaman dengan Juvel. Setelah berpisah dari Clara, dia begitu menutup diri dan Juvel adalah gadis pertama yang dia sentuh setelah bertahun-tahun lamanya.


Tapi Keiner masih membentengi dirinya karena tidak mau jatuh ke lubang yang sama.


"Kalau saja waktu itu benihmu tidak tertukar, apa kau dan Angel akan kontak fisik seperti ini?" tanya Juvel kemudian.


"Aku tidak tahu tapi dalam surat perjanjian, Angel akan tinggal di mansionku sampai dia melahirkan!" jawab Keiner apa adanya.


Juvel mengulurkan satu tangannya di dada Keiner, kemudian jari jemarinya membuat pola-pola di dada lelaki itu.


"Awalnya aku sangat membenci kejadian tertukarnya benih ini tapi sekarang aku bersyukur karena bayi ini membuka jalan kehidupan baru kita berdua," ucap Juvel yang memajukan wajahnya supaya lebih dekat dengan Keiner.


"Dan aku bisa sedekat ini denganmu!" Juvel langsung mencium bibir Keiner, dia memutuskan akan bersikap agresif mulai sekarang.