
Juvel merasa tidak tenang karena Jullian tidak kunjung memberinya kabar. Gadis itu mondar-mandir di kamarnya yang berada di markas kasino.
Sudah hampir sebulan tapi orang tua maupun kakaknya tidak ada kabar. Kalau Juvel menyusul mereka pasti Keiner tidak akan memperbolehkannya.
Tangan Juvel mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Apa yang harus aku lakukan baby?" tanya Juvel pada bayinya.
Juvel kemudian turun ke bawah dan menuju parkiran mobil, dia menunggu suaminya pulang kerja. Seharusnya sekarang waktunya Keiner pulang dari kantor.
"Sebentar lagi daddy datang!" seru Juvel tidak sabar.
Keiner kembali sibuk dengan urusan kantor yang mana membuat Juvel hanya bisa melihat suaminya dengan puas di malam hari.
Tak lama mobil yang ditunggu Juvel datang, selama tinggal di markas kasino, Keiner menyetir mobil sendiri dan harus mengatur jadwalnya ulang saat Juvel harus berpindah tempat tinggal.
"Babe..." panggil Juvel saat Keiner turun dari mobil. Gadis itu langsung memeluk suaminya dan Keiner juga mengusap perut Juvel. Dia suka bayinya tumbuh dengan baik di dalam.
"Aku membawa cake pesananmu," ucap Keiner sambil memberikan satu kotak kue pada istrinya. Keiner memang selalu menuruti semua permintaan Juvel.
"Cake stroberi, 'kan? I like it..." Juvel mengambil kotak kue dan membawanya masuk ke dalam, dia akan memakannya di dapur.
Sementara Keiner membersihkan dirinya dahulu, saat masuk kamar dia tersenyum melihat Juvel yang sudah mempersiapkan keperluannya, gadis itu sekarang juga sudah pandai memasang dasi untuknya tapi untuk urusan makan, Keiner tetap mengurusnya sendiri.
Beberapa menit berlalu, Keiner sudah selesai dan ingin melihat keadaan istrinya. Dia terkejut saat cake yang dibawanya sudah mau habis.
"Wow, kau memakan semuanya, Babe?" tanya Keiner tidak percaya, selera makan Juvel memang meningkat drastis tak khayal berat badan gadis itu juga naik banyak.
"Hm, rasanya sangat enak, aku suka!" Juvel menjawab dengan mulut penuh kue.
Keiner mendekat dan mencoba menyeka mulut Juvel dengan tisue.
"Apa Jullian sudah memberi kabar?" tanya Keiner kemudian.
"Belum," jawab Juvel yang langsung tertunduk lesu. "Aku harap mereka cepat kembali!"
Sebelum kembali ke kamar mereka, Juvel mengajak Keiner untuk bermain kartu poker di meja judi.
"Jadi apa taruhannya?" tantang Keiner.
"Yang kalah harus menerima hukuman dari yang menang!" jawab Juvel yang sangat yakin akan memenangkan permainan.
Mereka berdua bermain beberapa kali dan Keiner harus menerima kekalahannya, mau diulang berapa kali pun memang Juvel lebih unggul.
"Aku kalah," keluh Keiner yang membuat Juvel tersenyum kemenangan.
Juvel langsung mengajak Keiner ke kamar, dia sudah menyiapkan lingerie seksi yang harus dipakai suaminya.
"Hukuman untukmu Mr. Volstaire," ucap Juvel sambil memberikan lingerie itu.
"No..." tolak Keiner dengan lantang.
"Tidak boleh curang atau aku akan memberi hukuman ekstrim, tembak apel di kepala?" Juvel memberi pilihan lain.
Keiner tentu memilih memakai lingerie karena masih sayang nyawanya.
Saat Keiner memakai lingerie, Juvel tidak bisa menahan tawanya. Bayangkan saja tubuh atletis yang memakai lingerie ketat.
"Jangan terlalu banyak tertawa, ingat bayinya," ucap Keiner yang justru mengkhawatirkan jabang bayi di perut istrinya.
Keiner mengambil alat pendengar detak jantung yang dia gunakan untuk mendengarkan detak jantung bayinya setiap malam.
Dengan hati-hati Keiner menempelkan alat itu ke perut Juvel dan mencari detak jantung bayinya.
Saat mendengar detak jantung bayi diperut Juvel, hati Keiner akan terasa damai. Dia tidak sabar anaknya lahir ke dunia.
Juvel memandangi wajah Keiner yang saat ini masih fokus pada perutnya.
"Hai seksi," panggil Juvel yang membuat Keiner menoleh padanya. "Apa kau sudah mencintaiku juga?"