The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 78 - Menanam Lobak



Jullian menghapus air mata Irene, lelaki itu tengah menyusun rencana untuk membebaskan Sheria tapi tiba-tiba justru Sheria menghubungi Neil.


Jullian sudah menduga jika Irene ada sangkut pautnya.


"Kau memintaku pergi tapi aku tidak tahu kemana aku harus pergi," ucap Irene yang terus memandangi wajah Jullian.


Irene mengulurkan satu tangannya untuk mengusap wajah Jullian. "Bawa aku pergi bersamamu, aku mohon!"


Jullian tidak bisa menahannya lagi, pertahanannya runtuh dengan gadis mungilnya.


"Bawa Sheria beristirahat! Aku ada urusan sebentar!" Jullian berbicara pada Neil melalui panggilan telepon. Kemudian Jullian mengangkat tubuh Irene. "Bukankah ada motel di sekitaran sini?"


Irene mengangguk dengan wajah merona.


Di salah satu kamar motel yang sudah disewa Jullian, Irene duduk di tepi ranjang dengan jantung berdebar.


Sementara Jullian yang berdiri di hadapan gadis itu perlahan melepas baju atas yang Irene kenakan. Jullian ingin melihat luka di dada Irene.


"Apa sakit?" tanyanya.


"Tidak sesakit saat jauh darimu," jawab Irene yang membuat Jullian terkekeh.


"Ternyata putri duyung sudah pintar merayu," ucap Jullian yang langsung menyambar bibir Irene.


Jullian melumaat habis-habisan bibir Irene, dia sangat merindukan bermain indera pengecap dengan gadis itu. Sampai ciuman Jullian berpindah untuk menyesap leher Irene yang membuat gadis itu memekik kecil karena merasa tubuhnya bergetar.


Jullian menggigit baju atas Irene dan mencoba menaikkan ke atas, Irene tak acuh dia juga ikut melepas pakaian yang ada di tubuhnya. Sebenarnya dia sangat malu tapi Irene tahu jika Jullian saat ini ingin menanam lobaknya jadi Irene memberi jalan itu.


"Aku ingin memilikimu, Irene," ucap Jullian dengan membuka kaki gadis yang wajahnya semerah tomat sekarang.


Jullian memandangi tubuh Irene yang polos. "Kulitnya sungguh putih dan halus, lihatlah dua bukit kembarnya, sangat imut!" batinnya.


Jullian kembali mencium bibir gadis putri duyungnya, dia tahu ini adalah pengalaman pertama bagi Irene jadi Jullian akan bermain dengan selembut mungkin.


"Mmmm...." Irene mulai gelisah saat lobak Jullian akan ditanam di ladangnya. Irene mencoba rileks dengan kedua tangan memeluk leher Jullian.


Saat lobak berusaha masuk, Irene merasa begitu kesakitan. Dia menjerit dalam ciuman sampai lobak itu perlahan masuk yang membuat air matanya tumpah.


"Sakit..." rintih Irene.


"Sebentar lagi sakitnya hilang, tahan sebentar, ya?" Jullian berusaha membujuk dengan terus memasukkan lobaknya lebih dalam.


Badan Irene terus menggeliat tidak jelas sampai Jullian bergerak perlahan yang membuat mulut Irene tanpa sadar menganga dan mengeluarkan desahaan.


Jullian dan Irene menyatu dalam tubuh, Jullian merasa jika Irene sudah mulai terbiasa dengan lobaknya. Untuk itu, Jullian mempercepat gerakannya.


Bunyi tepukan daging menghiasi penyatuan kedua anak manusia itu.


"Akh! Jullian..." Irene merasakan sesuatu yang sangat asing terjadi pada tubuhnya.


"Keluarkan semuanya sayang." Jullian mengecup kening Irene untuk memberikan waktu gadis itu menikmati pelepasannya.


Tubuh Irene mulai melemah tapi tubuh itu kembali terguncang karena Jullian bergerak lagi. Kali ini gerakannya sangat cepat sampai Irene merasakan semburan hangat masuk ke dalam rahimnya.


Jullian masih menindih tubuh mungil itu, dia belum ingin mencabut lobaknya. Dia berusaha menetralkan nafasnya sejenak.


"Bagaimana rasanya?" tanya Jullian sambil menatap wajah Irene yang masih basah dengan keringat.


"Aku masih tidak menyangka jika lobaknya akan muat," jawab Irene yang sebelumnya sangat takut dengan lobak super besar itu.