
Keiner ikut masuk ke dalam ruangan operasi, dia ingin melihat sendiri proses kelahiran bayinya. Tapi yang paling penting dia harus memastikan istrinya baik-baik saja.
"Keiner..." lirih Juvel yang takut saat akan disuntik obat bius. "Bagaimana Jullian?"
"Jullian baik-baik saja, jangan terlalu banyak pikiran nanti tekanan darahmu naik lagi," sahut Keiner yang mencoba menenangkan istrinya.
Juvel mencoba mengatur nafasnya, dia akan mulai mengalihkan semua pikirannya pada bayinya.
Saat obat bius akan disuntikkan, Juvel menggenggam tangan Keiner dengan erat.
"Hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah bisa mengandung bayimu," ucap Juvel dengan mata berkaca-kaca.
Keiner langsung menyatukan keningnya dengan Juvel. "Kita sudah sepakat menyebutnya dengan bayi kita!"
"Bayi mafia?"
"Ya, bayi mafia. Jadi berjanjilah kalian akan baik-baik saja!"
Di luar ruangan operasi, Trevor mondar mandir dengan gelisah karena tidak tenang memikirkan keadaan putri dan calon cucunya ditambah was-was karena takut Jullian yang akan merasakan sakitnya operasi.
Tapi sudah selang setengah jam, Jullian tampak baik-baik saja.
Justru samar-samar Trevor mendengar tangisan bayi. Hatinya langsung membuncah bahagia.
"Aku harus melihatnya," ucap Trevor tidak sabaran.
"Lebih baik tunggu bayinya saat berada di ruangan bayi nanti," sahut Gwen yang mencoba menenangkan suaminya padahal dia juga sama tidak sabarnya. Bayi mafia adalah cucu pertama mereka.
Sementara Jullian sendiri merasa kesenangan karena perutnya masih utuh tanpa sayatan. Ternyata simpatik itu menghilang bersamaan dengan Trevor yang melepas dunia mafianya, seperti teguran dari Tuhan dan terlepasnya kutukan. Bahkan tremor yang diderita Trevor berangsur membaik semenjak dia melepas pedangnya.
"Asyik, aku bisa menanam lobak dengan leluasa malam ini!" ucap Jullian sumringah.
Irene tiba-tiba menunduk karena takut-takut berbicara pada Jullian.
"Jullian, sepertinya di perutku sekarang ada bibit-bibit lobak," ucapnya kemudian.
"A--apa? Maksudnya kau hamil?" tanya Jullian kaget. Dia selama ini memang tidak pernah memakai pengaman saat menanam lobak.
"Aku telat datang bulan," ungkap Irene.
Tanpa babibu lagi, Jullian langsung memeriksakan Irene ke dokter kandungan. Dia tidak bisa membayangkan tubuh mungil Irene akan mengandung bayi.
"Wah, selamat! Janinnya kembar 4!" ucap dokter kandungan yang memeriksa Irene karena terdapat 4 kantong janin setelah dilakukan USG.
"Irene, kita harus menikah secepatnya sayang sebelum perutmu membesar!"
*****
Tangisan bayi laki-laki memenuhi ruangan Juvel dirawat, Keiner menggendong bayinya dan mencoba menimang dengan hati-hati.
"Tenanglah, Baby. Daddy akan menggendongmu dengan nyaman," ucap Keiner yang langsung jatuh cinta pada bayinya. Bayi itu perpaduan antara wajahnya dan Juvel.
Juvel melihat Keiner dengan tersenyum sambil menahan sakit diperutnya.
"Babe, bawa kemari bayi kita," pinta Juvel yang ingin mencoba menyusui bayi mafia.
Keiner duduk di samping istrinya dan memberikan bayi di gendongannya pada Juvel. "Aku sudah memikirkan namanya!"
"Siapa?" tanya Juvel sambil membuka kancing bajunya.
"Ares Volstaire!" sahut Keiner mantap. "Aku mengambil nama dewa perang karena aku ingin bayi mafia menjadi kuat untuk melindungi keluarganya!"
"Aku menyukainya," ucap Juvel yang mendapat ciuman dari Keiner.
Keduanya berciuman begitu mesra dan hal itu dilihat oleh Trevor dari celah pintu.
"Biarkan mereka menikmati waktu mereka menjadi orang tua!" ucap Gwen sambil menepuk pundak Trevor.
Trevor hanya tersenyum kecil, dia merasa tenang anak-anaknya sudah memiliki pasangan masing-masing. Sekarang dia bisa menghabiskan masa tuanya menjadi pensiunan mafia.
"I love you, Gwen!"
Gwen langsung menatap Trevor tidak percaya setelah puluhan tahun menikah, Gwen baru mendengar kalimat itu terlontar dari mulut suaminya. Karena Trevor lebih suka mengungkapkan cinta dengan tindakan dari pada lisan.
"Setelah semua yang kita lalui, aku baru sadar jika cinta tidak cukup kita buktikan dengan tindakan tapi ungkapan cinta itu sendiri yang sebenarnya pasangan kita butuhkan jadi..."
"Aku akan mengucapkan untaian kata cinta padamu setiap hari!"
Gwen terkekeh geli. "Setelah pensiun jadi mafia ternyata kau jadi seorang pujangga, Trey!"
...*****...
...TAMAT...