
Di markas The Green Hornet, Ronan mengumpulkan para anak buahnya untuk merencanakan penyerangan terhadap keluarga Trevor sebelum klan mafia lain yang menyerang duluan.
Berita semakin tersebar di kalangan mafia yang membuat semua ingin menguasai wilayah Black Mamba tapi untuk mencapai itu semua mereka harus menghabisi Trevor dan antek-anteknya dulu.
"Keadaan semakin mudah karena mereka terpecah belah, kita akan menyerang mereka disaat bersamaan," ucap Ronan yang merencanakan misinya.
Kemudian dia menatap Dylan dan berkata. "Kau memimpin untuk penyerangan Jullian sementara aku akan menyerang Juvel, saat aku menyerang anak perempuan Trevor yang hamil pasti Trevor akan datang dengan sendirinya!"
Rupanya pembicaraan itu didengar oleh Chade, bocah itu jadi mencemaskan keadaan orang-orang yang dikenalnya.
"Bagaimana ini?" gumam Chade jadi takut sendiri.
Chade menuju kamarnya dan menunggu Dylan datang, dia akan mencoba berbicara pada sang daddy.
Saat Dylan masuk ke kamar putranya, dia mendapati Chade yang belum tidur.
"Kenapa belum tidur?" tanya Dylan yang perhatian sambil menyelimuti tubuh kecil putranya. "Apa yang kau pikirkan?"
"Aku ingin bersekolah lagi," sahut Chade yang merindukan sekolah.
"Daddy harus melakukan pekerjaan setelah selesai pasti daddy akan mencarikanmu sekolah!" Dylan bersikap begitu lembut pada Chade karena itulah Chade memilih tinggal bersama Dylan.
"Apa kita tidak akan pernah bertemu dengan mommy Clara?" tanya Chade yang membuat Dylan bingung menjawab apa.
"It's okay. Aku tahu urusan orang dewasa sangat rumit tapi Dad..." Chade langsung memeluk Dylan dengan erat. "Jangan menyakiti orang-orang lagi!"
Dylan terpaku, bagaimana kalau Chade tahu jika dia yang telah membunuh Harold?
"I love you, Daddy!" tambah Chade yang membuat hati Dylan tersentuh.
Setelah beberapa lama Chade akhirnya tertidur juga, Dylan mengecup kening bocah itu kemudian keluar dari kamar Chade.
"Aku sudah memilih jalan ini!" gumam Dylan yang tidak mungkin pergi begitu saja dari Ronan.
Sementara Ronan berada di kamarnya, lelaki itu meneguk wine beberapa kali dan terus memikirkan Irene. Dia masih tidak menyangka jika Jullian akan tega menembak gadis itu.
Ronan jadi mengingat waktu yang dia habiskan bersama Irene, walaupun begitu, Irene adalah tempat paling nyaman saat bercerita apalagi dengan kepolosan Irene yang membuatnya gemas sendiri.
Setidaknya waktu itu jika Jullian benar-benar memberikan wilayah Black Mamba, Irene pasti masih hidup bersama Jullian. Tapi sekarang?
"Irene..." gumam Ronan sambil mengadah ke atas berharap Irene tenang di sana.
Masih hanyut dalam lamunannya, tiba-tiba Ronan mendengar suara tangisan. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan mencari sumber suara, dia berjalan menuju balkon kamarnya.
Ronan terkejut saat mendapati seorang gadis yang postur tubuhnya seperti Irene bahkan baju yang dikenakan gadis itu sama seperti yang Irene pakai terakhir kali sebelum ditembak mati Jullian.
"Hiks... Hiks..." gadis itu terus menangis sampai akhirnya dia membalik tubuhnya. "Ronan..." panggilnya.
Mata Ronan membulat saat melihat gadis itu ternyata memang Irene.
"Aku pasti mabuk dan berhalusinasi," gumam Ronan.
Tapi Irene justru mendekat padanya sambil menunjuk dadanya yang berlumuran darah.
"Di sini," tunjuk Irene. "Sakit Ronan... Hiks..."
"Kenapa kau membawaku pada Jullian?"
Irene terus mendekat yang membuat Ronan memundurkan dirinya.
"Han--- hantu!!" teriak Ronan yang ingin berlari keluar dari kamar tapi tangannya dicekal oleh hantu Irene.
Ronan semakin kalang kabut apalagi melihat wajah Irene berubah jadi menyeramkan, mulutnya bahkan mulai mengeluarkan darah.
"Aaaaa...." Ronan berteriak sampai tanpa sadar celananya basah. Ketua mafia yang langsung kehilangan harga dirinya karena mengompol di celana.