The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
Bibit Lobak - Panik Panik



Hari terus berlalu begitu cepat, Jullian masih sabar mengurus istrinya yang moodnya naik turun. Dia harus sabar karena perut Irene yang semakin membesar apalagi saat dalam keadaan seperti itu, Jullian sering meninggalkan istrinya.


Jullian sedang sibuk mengurus kafenya yang sebentar lagi akan opening. Bangunan sudah jadi beserta karyawan yang membantunya.


Dengan koneksi Keiner semua pekerjaan Jullian terasa mudah.


"Yakin mau ikut?" tanya Jullian pada Irene.


Irene mengangguk. "Semua keluarga datang, apa kata mereka jika istri dari ownernya sendiri tidak ada!"


Hari ini pembukaan kafe Jullian jadi Irene harus datang apapun yang terjadi. Walaupun kandungan Irene sudah memasuki trimester akhir, dia mempunyai stamina luar biasa dengan tubuh mungilnya yang sekarang seperti balon mau meletus.


"Jika lelah, ada kamar pribadiku yang bisa kau gunakan sayang," ucap Jullian.


Akhirnya Jullian membawa istrinya juga. Dia begitu gugup hari ini karena takut tidak sesuai ekspektasi dari rancangannya.


"Semua akan baik-baik saja." Irene mencoba menenangkan.


Jullian tersenyum karena merasa Irene sudah dewasa sekarang.


Waktu semakin berjalan jadi Jullian bergegas berangkat.


...*****...


"Black Mamba Kafe?" tanya Irene sebelum turun dari mobil. Irene membaca nama kafe yang disematkan Jullian.


"Aku tidak mau Black Mamba hilang begitu saja jadi aku abadikan di kafeku," jelas Jullian.


"Apa kafenya bernuansa mafia?"


"Ya begitulah!"


Jullian menggandeng tangan Irene turun dari mobil, di sana semua anggota keluarga sudah berkumpul bahkan Neil dan Zack menyempatkan diri untuk hadir.


"Potong pitanya dulu!" Gwen memberikan gunting pada putranya.


"Dan jangan lupa berdoa!" sambung Trevor yang menjadi religius.


"Dad..." Jullian sampai tidak percaya. "Apa benar ini kau?"


Gwen langsung menyenggol lengan Jullian. "Jangan membuat mood daddy memburuk!"


"Okay... Okay..." Jullian akhirnya memotong pita kafe.


"Aku mencoba mengumpulkan barang yang masih tersisa dari Pulau Biru," ucap Jullian yang beberapa bulan lalu datang ke pulau pribadi keluarganya yang sudah lama ditinggalkan semenjak kepergian Noah dan Violet.


Trevor terdiam sejenak mengingat semua yang telah terjadi selama ini. Dia kemudian melihat istri dan anak-anaknya yang sekarang. Apalagi ada Sheria yang menjadi tanggung jawabnya sekarang.


Tak terasa ada setitik air mata jatuh di pipinya yang langsung diusap oleh Gwen.


"Ada apa?" tanya Gwen jadi cemas.


"Nothing. Kadang ada hal yang tidak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata," jawab Trevor.


Gwen menggenggam tangan suaminya. "Dan aku tahu apa itu!"


Mereka kemudian berciuman yang membuat Chade membulatkan matanya. Dia mencari Sheria yang sedang bermain dengan baby Ares yang sudah bisa duduk.


"Sheria! Apa kau sering melihat hal itu di peternakan sapi?" tanya Chade kemudian.


Melihat tingkah aneh Chade membuat Sheria berlari yang membuat kedua anak itu bermain kejar-kejaran di kafe.


"Kalian berhentilah! Ayo kita makan dan minum dulu!" seru Jullian yang membawakan beberapa menu makanan dan minuman di meja yang sudah disiapkan.


Semua orang duduk dan ingin mencoba menu dari kafe Jullian.


"Aku sudah berusaha sebaik mungkin, semoga tidak mengecewakan," ucap Jullian.


"Rasanya tidak buruk, aku akan membantu promosinya," sahut Keiner yang mencoba minuman lalu dia berikan pada Juvel.


"Iya aku rasa tidak buruk untuk mantan mafia seperti Jullian," tambah Juvel yang bermaksud menyindir.


Jullian memutar bola matanya malas, dia kemudian meminta pendapat pada istrinya yang sedari tadi hanya diam.


"Bagaimana sayang?"


"Sakit!"


"Hah?"


Irene memegangi perutnya. "Sepertinya bayi-bayi wuba mau keluar!"


"Apa!?" semua orang yang ada di sana seketika jadi panik.