The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
Bibit Lobak - Ramalan



Setelah melakukan percintaan yang begitu panas, Jullian menyelimuti tubuh polos Irene sambil tangannya yang terus mengusap perut istrinya.


"Thanks sudah kembali," ucap Jullian yang tak henti-hentinya bersyukur.


"Saat aku menikah denganmu berarti aku harus menerima semua masa lalumu jadi aku akan melupakan semuanya," sahut Irene bijak.


"Kau sudah dewasa sayang, jangan merasa bersalah atas kematian Fiona, kita doakan semoga dia tenang di atas sana,"


"Hm, aku juga berpikir seperti itu. Tapi kau tidak akan memperlakukanku seperti Fiona, kan? Kau akan meninggalkan aku saat menemukan wanita yang lebih menarik,"


"Aku memang brengseek, Irene. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu, aku sudah berjanji untuk setia padamu di hadapan Tuhan,"


Irene merapatkan tubuhnya pada Jullian, ibu hamil itu akan percaya sepenuhnya pada suaminya mulai sekarang.


"I love you, Jullian."


Jullian mengecup kening Irene sangat dalam. "I love you too, Irene."


...*****...


Keesokan paginya, Jullian membuat sarapan. Dia ingin menunjukan pada Irene jika kini dia sudah bisa memasak dan membuat beberapa menu.


"Kau yang memasaknya?" tanya Irene saat masakan Jullian sudah jadi.


"Hm, cobalah. Aku rasa sudah lumayan. Waktu pertama kali mencoba, aku membuang beberapa kilo bahan karena gagal terus, ternyata memang tidak mudah," sahut Jullian sambil memberikan sebuah sendok pada Irene.


"Aku akan mencobanya." Irene menyuapkan satu sendok penuh dalam mulutnya dan matanya berbinar karena masakan suaminya memang enak. "Aku menyukai ini!"


Jullian jadi begitu optimis sekarang, dia ingin pergi tapi akan membawa Irene hari ini, dia tidak mau meninggalkan istrinya sendirian.


"Bukankah mommy dan daddy ada di mansion Keiner? Aku akan mengantarmu ke sana karena hari ini aku harus ikut pelatihan dan aku juga akan ke kantor Keiner," ucap Jullian kemudian.


Irene tertawa kecil rupanya Jullian memang benar-benar sibuk.


"Aku juga ingin menemui baby Ares," sahut Irene.


"Baik-baik ya kalian," ucap Jullian sambil mengusap perut Irene sebelum gadis itu turun dari mobil.


Irene melambaikan tangannya saat mobil Jullian menjauh pergi. Dia kemudian diantar oleh penjaga mansion untuk masuk ke dalam.


"Jangan seperti itu, Trey. Gendong yang benar!" Gwen mengomeli suaminya karena Trevor menggendong baby Ares dengan kaku.


"Ini sudah benar, jangan terus menggangguku, Gwen," ucap Trevor sambil menjauhkan diri.


Gwen hanya bisa geleng kepala sampai atensinya beralih pada Irene yang baru saja masuk.


"Kau kesini, Irene?" tanyanya.


"Jullian ada pelatihan jadi dia memintaku kesini saja," sahut Irene yang langsung duduk. "Di mana baby Ares dan Juvel?"


"Ares bersama grandpa-nya, Juvel masih berada di atas. Kau bisa menyusul Juvel, dia sedang bersama Sheria,"


"Baiklah,"


Irene naik ke atas dan menuju kamar Juvel, di dalam sana Juvel sedang merapikan rambut Sheria.


"Irene!" seru Juvel saat melihat kakak iparnya masuk.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Kami akan mengecat rambut, apa kau mau ikut?"


"Tidak, aku melihat kalian saja." Irene mendudukkan diri karena dia merasa cepat lelah.


Juvel kemudian mendekati Irene dan melihat perkembangan kehamilan Irene yang tampak sehat.


"Apa sudah ketahuan jenis kelaminnya?" tanya Juvel penasaran.


Sheria yang mendengar itu langsung ikut bergabung. "Aku ramal bayinya 2 laki-laki dan 2 perempuan!"