
Juvel dan Keiner yang memutuskan untuk menjadi orang tua dari bayi mereka, terus mencoba membuka diri satu sama lain.
Mereka menceritakan baik buruknya diri masing-masing dan tidak menutup-nutupi apa yang ada pada diri mereka.
"Aku suka mengupil dan membuat upilnya jadi bola-bola kecil," ucap Juvel sambil memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang hidungnya.
Keiner yang melihat Juvel berperilaku jorok segera menghentikan aksi istrinya, bukannya apa mereka saat ini tengah berjalan di tempat umum.
"Jangan menunjukkan hal seperti itu padaku!" cegah Keiner.
"Ish, kau pasti juga mempunyai hal yang memalukan bukan? Ayolah, Babe. Ceritakan padaku!" rengek Juvel pada suaminya.
Keiner berdehem dulu sebelum menceritakan hal memalukan yang pernah dia alami.
"Tapi ini rahasia, okay. Aku pernah melakukan rapat penting dan saat itu pencernaanku bermasalah, di tengah presentasi tanpa sengaja aku buang gas dan semua yang ada di ruang rapat mencium baunya. Dan kau tahu apa yang aku lakukan?"
"Aku menuduh Lucas yang melakukannya!"
Setelah bercerita Keiner tertawa begitu lepas, mulutnya menganga lebar rasanya baru kali ini Juvel melihat suaminya tertawa lepas seperti itu.
Padahal ceritanya tidak lucu tapi karena melihat Keiner yang tertawa, Juvel juga ikut tertawa.
"Sepertinya ada konser musik di sana, bagaimana kalau kita melihatnya?" ajak Keiner sambil menunjuk kerumunan yang ada di depan mereka.
"Konser musik di tengah jalan? Aku belum pernah melihat hal seperti itu!" ucap Juvel yang mengikuti langkah suaminya.
Konser musik jalanan itu begitu ramai, Keiner dan Juvel ikut masuk dalam kerumunan, mereka menikmati hal baru yang selama ini mereka belum pernah rasakan.
"Ternyata menjadi orang biasa lumayan menyenangkan," ucap Keiner dan Juvel kompak.
Mereka kemudian saling bertatapan dan kembali tertawa bersama karena isi pikiran mereka yang sama. Keiner selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya dan Juvel yang selalu mengurus urusan dunia gelap yang melelahkan.
Mereka saling membuka pakaian sampai hanya menyisakan pakaian dalam saja. Keiner membimbing Juvel untuk masuk kamar mandi.
"Kita mandi bersama," bisiknya.
Juvel yang tahu jika mandi mereka bukan mandi biasa menganggukkan kepala dan pasrah saat tubuhnya digendong oleh suaminya.
Mereka berdua berendam di bathup dengan Juvel yang menyender di tubuh Keiner, Juvel memejamkan matanya karena Keiner memainkan semua anggota tubuhnya.
"Aku tidak tahan, cepatlah Keiner!" pinta Juvel saat tubuhnya mulai terasa panas oleh sentuhan suaminya.
Tapi pada saat itu tiba-tiba Keiner melihat ada cairan merah di dalam bath up, dia langsung panik karena takut Juvel pendarahan dan bayi mereka terancam.
"Babe..." Keiner memeriksa tubuh istrinya dan dugaannya salah karena ternyata lengan Juvel yang terluka.
"Ada apa ini?" tanya Keiner yang bingung karena lengan istrinya tiba-tiba terluka dan mengeluarkan darah.
"Pasti Jullian sedang terluka!" jawab Juvel yang sangat yakin itu adalah ulah saudaranya.
Tanpa menunggu lama Keiner langsung beranjak untuk mencari kotak P3K lalu Keiner segera mengobati luka Juvel.
"Jadi begini kembar simpatik kalian?" tanya Keiner sambil mengingat penjelasan Juvel mengenai kembar simpatik waktu itu dan dia juga mengingat luka di punggung istrinya. "Bukankah ini berbahaya?"
"Bagaimana kalau Jullian terluka di perutnya? Itu berbahaya untuk bayi kita!"
Juvel tentu saja tahu akan hal itu tapi dia percaya jika Jullian akan baik-baik saja.
"Tenanglah, Babe. Aku yakin Jullian bisa menjaga diri!" bujuk Juvel.
"Katakan pada Jullian, dia harus waspada!" Keiner jadi emosional. Dia tidak mau kehilangan bayinya lagi.