
Sebenarnya Jullian masih cukup mempunyai uang tapi jika dia tidak bekerja, uangnya pasti juga akan habis dengan sendirinya mengingat kebutuhan terus berjalan apalagi calon anaknya ada 4 orang.
"Jullian, aku tidak bermaksud merendahkanmu tapi kau tidak cocok dengan dunia perkantoran," ungkap Juvel yang tahu bagaimana kakaknya itu.
"Bagaimana kalau kau membuka bisnis, Keiner akan membantumu!" tambahnya.
Keiner juga berpikiran sama. "Aku bisa membantu di tehnik marketing!"
"Bisnis apa? Yang aku bisa hanya berbisnis ilegal," keluh Jullian.
"Lebih baik aku tanyakan pada Irene dulu, kalian harus membantuku sampai aku mempunyai pekerjaan atau bisnis yang tetap!"
Setelah berkata seperti itu, Jullian undur diri. Dia mengkhawatirkan Irene yang dia tinggal sendirian di apartemen. Sebelum pulang, Jullian menyempatkan diri singgah di kedai makanan untuk membelikan beberapa menu untuk calon istrinya.
Di sana Jullian jadi berpikiran untuk membuka sebuah kafe.
"Apa aku bisa?" gumam Jullian.
...*****...
Sementara di apartemen, Irene sudah terbangun dari tidurnya. Dia tidak mendapati Jullian yang membuat gadis itu menggerutu sebal, Jullian memang sering meninggalkannya.
"Aku lapar!" keluh Irene sambil menyeret kakinya ke dapur. Dia ingin memasak tapi bahan masak di kulkas kosong.
"Ish, Jullian belum berbelanja!"
Irene kemudian duduk di meja makan sambil memegangi perutnya, dia akan menunggu Jullian pulang.
Tak lama bell apartemen berbunyi yang membuat Irene bingung, seharusnya kalau itu Jullian, dia langsung masuk saja karena tahu password pintu apartemen.
"Siapa yang datang?" gumam Irene.
Gadis itu berdiri dan membuka pintu apartemen, rupanya Fiona yang datang.
"Hai, Irene!" sapa Fiona bersahabat.
Irene tidak terlalu mengenal Fiona tapi dia tahu jika gadis itu sepupu Jullian.
Fiona masuk dan menelisik tempat itu seperti mencari sesuatu.
"Kau mencari Jullian? Dia sedang ada di luar," ucap Irene sepertinya tahu apa yang dicari Fiona.
"Oh ya? Aku akan menunggu Jullian pulang!" Fiona duduk di sofa ruang tamu sambil bermain ponsel. Dia enggan mengobrol dengan Irene.
Irene sendiri kembali ke dapur untuk membuat minum. Dia membuat teh hijau untuk Fiona, biasanya gadis seperti Fiona akan menyukai teh hijau.
"Minumlah," ucap Irene yang menaruh secangkir teh hijau di meja.
Fiona melirik dengan tersenyum manis sekali. "Terima kasih!"
Kemudian Fiona kembali bermain ponsel lagi yang membuat Irene jadi canggung memulai pembicaraan.
Beberapa menit berlalu pintu apartemen terbuka karena Jullian yang datang.
"Irene sayang, aku pulang..." Jullian berteriak tapi dia langsung terdiam karena melihat ada Fiona di apartemen.
"Jullian..." Fiona berdiri dan langsung memeluk lelaki itu. "Aku menunggumu!
"Lepaskan aku! Ada Irene yang melihat nanti dia salah paham!" Jullian berusaha mendorong tubuh Fiona.
"Kau harus menjelaskan semua padaku!" tuntut Fiona yang membuat Jullian bingung sendiri.
"Aku memilih Irene. Lupakan aku Fiona!" ucap Jullian dengan tegas.
Fiona memukul dada Jullian sambil terisak. "Kau jahat Jullian, selama ini aku menunggumu tapi kau..."
Irene yang melihat interaksi keduanya jadi bingung sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kalian menjalin hubungan?" tanya Irene memberanikan diri.
Fiona langsung menatap Irene dengan derai air mata. "Jullian adalah kekasihku Irene, kami sudah berpacaran dua tahun lamanya tapi semenjak kau muncul, Jullian jadi berubah padaku!"
"A--apa?" Irene merasa syok dengan apa yang dia dengar. Refleks dia memeluk perutnya sendiri. "Bibit-bibit lobaknya bagaimana?"