The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 56 - Cara Lain



Sebelumnya Dylan mengamati keluarga Trevor yang berada di pemakaman. Dia tidak mengenal atau mempunyai dendam dengan keluarga mafia itu hanya saja setelah keluar dari penjara Dylan bergabung ke dalam organisasi mafia The Green Hornet.


The Green Hornet sendiri organisasi yang jauh di bawah organisasi Black Mamba, mereka dikenal justru dengan reputasinya yang buruk. Tapi mereka berambisi untuk menggulingkan klan mafia lain supaya klan mereka diakui sebagai klan mafia kelas kakap sekelas Black Mamba.


Setahun Dylan mengabdi akhirnya dia bisa menjadi orang kepercayaan ketua mafia The Green Hornet.


Tujuan utama Dylan saat ini adalah membawa Chade pergi bersamanya.


Tidak butuh waktu lama, Dylan sudah berhasil menemukan keberadaan anaknya, ada pengkhianat di kubu Trevor yang memudahkan aksi Dylan.


Saat sampai di apartemen, Dylan tanpa ragu menghabisi anak buah Jullian yang berjaga, karena itulah dia datang dengan berlumuran darah.


"Di mana anakku, hah!?" teriak Dylan setelah berhasil masuk ke apartemen.


Chade yang mendengar kegaduhan dan melihat Irene terduduk di lantai segera mendekat.


"Kak Irene!" seru Chade yang berlari ingin menolong gadis itu.


Dylan melihat Chade yang wajahnya begitu mirip dengannya.


"Anakku!" panggilnya.


Sebelum Chade menjangkau Irene, Dylan sudah duluan mengangkat bocah itu.


"Lepaskan aku! Kau jahat karena membuat kak Irene terluka!" ronta Chade yang tidak mau dan berusaha melawan saat Dylan menggendongnya.


Dylan tetap memaksa Chade untuk naik ke gendongannya bahkan dia memeluk bocah itu. "Kau adalah hartaku satu-satunya!"


"Jangan ambil Chade!" Irene yang sudah berdiri mencoba mengambil Chade tapi tenaganya tentu saja tidak bisa menandingi Dylan.


"Kak Irene!" Chade juga berusaha berontak.


Karena tidak sabaran dan juga kewalahan dengan perlawanan Irene dan Chade akhirnya Dylan membius keduanya.


Irene dan Chade langsung tak sadarkan diri.


*****


Jullian sampai di apartemen tapi pada saat itu, dia mendapati beberapa polisi yang tampak melakukan evakuasi.


Beberapa kantong mayat digotong yang membuat Jullian penasaran ingin melihatnya, Jullian meminta izin untuk membuka salah satunya. Dan Jullian terkejut karena itu adalah wajah anak buahnya.


Jullian berlari supaya cepat sampai di unit apartemen dan saat sampai ternyata memang kejadian perkara ada di unit apartemennya.


"Apa ada gadis remaja dan anak kecil tadi?" tanya Jullian pada salah satu polisi.


"Tidak ada, saat kami sampai hanya ada mayat yang berada di depan pintu!"


Jullian mengusap wajahnya kasar, dia tidak mau berlama-lama di sana atau polisi justru akan mencurigainya.


Lelaki berbadan besar itu bingung harus mencari kemana sementara kamera cctv pada hari itu mati.


"Irene, kau di mana?" Jullian tampak frustasi.


Di sisi lain, Juvel tidak menyadari apapun. Dia sengaja mematikan ponselnya karena Keiner yang masih berduka. Juvel ingin fokus mengurus suaminya dahulu.


"Minumlah teh chamomile ini, Babe." Juvel memberikan teh yang sudah dia buat dengan susah payah.


Keiner yang menghargai kerja keras istrinya mengambil gelas teh chamomile dan meminumnya.


"Buh!" Keiner langsung menyemburkan teh yang dia minum. "Kenapa rasanya asin?"


"Benarkah? Ya ampun, aku pasti salah memasukkan garam!" Juvel jadi tidak enak hati. "Aku akan membuatnya lagi!"


"Tidak perlu!" Keiner menarik pinggang Juvel sampai istrinya itu duduk di pahanya. Keiner menyenderkan kepalanya di dada Juvel. "Cukup begini saja!"


Juvel membelai rambut suaminya. "Everything is okay. Keluargaku jadi keluargamu juga!"


"Oh iya? Sepertinya daddy mertua mempunyai dendam padaku!"


"Aku rasa daddy masih menganggap kau telah memperkosaku!"


Keduanya kemudian tertawa bersama sampai Juvel bertanya dengan nakal. "Apa mulutmu masih merasa asin, Babe?"


"Memangnya kenapa?"


Juvel membuka kancing depan bajunya. "Mungkin dengan menyusu rasa asinnya menghilang!"


"Aku mungkin gagal jadi peternak sapi dan penjual susu tapi aku bisa menjual susu dengan cara lain!


Keiner tergelak mendengarnya. "Kau memang penjual susu sejati!"