
Keiner mengecup puncak kepala istrinya karena bingung harus menjawab apa, sepertinya memang Juvel tidak main-main dengan kata-katanya tempo hari.
"Bagaimana dengan rencana peternakan sapimu?" tanya Keiner kemudian.
"Aku sudah memutuskan untuk memilihmu dan bayi kita," jawab Juvel tanpa ragu, gadis itu sedang kasmaran sekarang jadi dia akan mengorbankan mimpinya.
Keiner yang mulai terbiasa dengan kehadiran Juvel jadi bimbang. Apa dia akan memberi Juvel kesempatan?
"Pikirkan bayi kita, kalau aku pergi, bayinya akan tumbuh tanpa sosok ibu. Lagi lupa aku juga tidak akan bisa berpisah dari bayi kita karena bayinya pasti membutuhkan air susuku. Kau tidak akan memberinya susu formula, 'kan?"
"Kau memang bisa membelikan susu formula terbaik tapi itu semua tidak akan bisa mengalahkan air susuku," tambah Juvel yang sudah mempelajari sedikit demi sedikit tentang kehamilan.
Keiner sepertinya kalah telak, semua yang dikatakan Juvel benar adanya. Bukankah bayinya prioritas utama?
"Sepertinya kau memang menjeratku, Nona Mafia. Lagi pula aku masih sayang kepalaku," ucap Keiner yang mengingat ancaman Trevor.
"Daddy ku mafia sejati, dia tidak akan main-main!" Juvel menambahi ancaman itu yang membuat Keiner tidak bisa menolak. Dia jadi membayangkan kepalanya ditebas oleh mertuanya sendiri.
Keiner kemudian membalik tubuh istrinya supaya berhadapan dengannya. Mereka saling bertatapan dan berciuman dengan lembut, bukan ciuman menggebu-gebu saat mereka akan mulai bercinta.
"Jadi perjanjian itu batal, 'kan?" tanya Juvel memastikan.
"Iya, kita akan menjadi orang tua untuk bayi kita!" jawab Keiner yang membuat Juvel langsung memeluknya. Akhirnya Keiner mengakui Juvel sebagai ibu dari bayinya.
Semua rencana yang telah mereka susun sirna begitu saja.
*****
Jullian memandangi Irene yang tertidur bersama Chade. Dengan perlahan Jullian menggendong Irene dan membawanya ke kamarnya.
"Kau pasti kelelahan mengurus bocah itu, 'kan?" gumam Jullian saat membaringkan tubuh Irene.
"Jullian!" Irene langsung memeluk lelaki itu. Semenjak mereka pindah ke apartemen, Jullian sering pergi dan tidak kembali.
"Kau merindukanku?" tanya Jullian yang membalas pelukan gadis itu sampai tubuh Irene tenggelam di dadanya.
Irene menganggukkan kepalanya, dia sangat kewalahan mengurus Chade sendirian apalagi harus mengantar dan menjemput bocah itu sekolah.
"Maafkan aku!" Jullian jadi merasa bersalah karena dia justru sibuk berkencan dengan Chloe.
"Kau meminta maaf padaku? Apa aku tidak salah dengar?" Irene mencoba melepaskan diri dari dekapan Jullian.
Irene memukul dada Jullian yang keras. "Jangan pergi-pergi lagi!"
"Jangan memasang wajah imut begitu nanti aku bisa hilang kendali!" ucap Jullian yang membuat Irene langsung siaga satu.
Irene kemudian berlari menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu untuk dia laporkan pada Jullian.
"Sepertinya toko buku yang kita kunjungi waktu itu adalah penipu. Buku putri duyung ini sobek bagian ending ceritanya tapi kenapa mereka menjualnya," keluh Irene yang memberikan buku dongengnya pada Jullian. Sebagai pelaku dari penyobekan buku itu tentu saja Jullian pura-pura tidak tahu.
"Kau sudah membacanya?" tanya Jullian mengalihkan pembicaraan.
"Iya tapi aku penasaran dengan endingnya," ungkap Irene yang merasa kecewa.
"Aku akan menceritakan endingnya jadi kemarilah!" Jullian menepuk pahanya supaya Irene duduk di sana.
Irene menurut dan duduk di paha Jullian dengan wajah yang dipenuhi rasa penasaran.
"Hidup putri duyung bahagia bersama pangeran karena pangeran sadar jika yang menyelamatkan hidupnya adalah putri duyung. Mereka menikah dan bahagia, putri duyung jadi manusia sepenuhnya," ucap Jullian dengan menyelipkan rambut Irene di telinga gadis itu.
"Kau harus percaya dengan ceritaku, Irene!"