
Gwen turun dari kuda kemudian mendekati Juvel yang masih berada dipelukan Keiner.
"Mommy membelamu bukan berarti membenarkan apa yang telah kau lakukan, sekarang ikut mommy," ucap Gwen tegas yang membuat Juvel tidak bisa berkata-kata.
Keiner tentu tidak terima jika istrinya dibawa pergi. "Mom, biarkan Juvel bersamaku!"
Gwen memicingkan matanya pada Keiner. "Lepaskan putriku! Kita semua harus berpisah dan merenungkan kesalahan masing-masing."
Gwen mencoba membimbing Juvel yang wajahnya semakin memucat. "Kau harus segera diperiksa ke dokter! Kita akan tinggal sementara waktu di mansion Erik sampai keadaan kembali tenang!"
Sementara Erik sendiri berusaha mendekati Trevor dan membuat emosi adik iparnya itu mereda.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, itulah yang aku rasakan bertahun-tahun pada orang tuaku dulu. Karena musuh kita adalah keluarga kita sendiri," ucap Erik dengan menepuk pundak Trevor. "Aku akan mengurus Gwen dan Juvel! Saat kau sudah tenang, pintu mansion ku terbuka lebar untukmu!"
Kemudian Erik membawa Gwen dan Juvel pergi dari mansion Keiner, ada sebuah mobil limusin menanti Juvel untuk membawa gadis itu ke rumah sakit dulu untuk memeriksa kandungan.
Ditambah ada sebuah truk besar untuk membawa kuda-kuda Erik pergi dari sana.
Kini tertinggal Trevor dan Keiner yang memandangi mobil-mobil Erik pergi.
"Lantas kuda-kuda itu untuk apa?" tanya Keiner dengan gelengan kepala.
"Itu supaya terlihat keren, bodoh!" sahut Trevor dengan ketus, sepertinya dia sudah mulai menguasai dirinya.
"Aku menyebutnya mempersulit diri," ucap Keiner dengan helaan nafas. Dia mencoba mengalihkan pikirannya karena benar kata Gwen, dia harus berpisah sementara dengan istrinya sampai suasana menjadi kondusif.
Keiner melirik ke arah Trevor yang masih bergeming di tempatnya, matanya fokus melihat tangan Trevor yang gemetaran memegang pedangnya.
Tak lama pedang itu terjatuh yang membuat Keiner ingin membantu mertuanya tapi justru Keiner mendapat sorot mata tajam dari Trevor.
"Berani kau memegang pedangku, aku akan benar-benar memotong tanganmu!" ketus Trevor dengan mengambil pedangnya kembali.
"Seharusnya mommy mertua memberi satu kudanya untuk daddy mertua!" gerutu Keiner sambil memegangi lehernya yang terluka.
Keiner duduk di kursi kayu yang berada di halaman mansion dan sedetik kemudian Lucas datang setelah menembus kemacetan.
"Tuan..." Lucas panik melihat leher Keiner yang terluka.
"Aku tidak apa-apa, kau urus mayat bodyguard yang dihabisi oleh mertuaku. Beri kompensasi yang besar pada keluarga mereka!" perintah Keiner kemudian.
*****
Trevor menuju ke sebuah pemakaman, di mana kakek dan ayahnya di makamkan. Wilson dan Noah.
Makan Wilson dan Noah saling berdekatan, Trevor berdiri di antara dua makam itu kemudian dia menancapkan pedangnya dan bersimpuh.
Trevor tertunduk dengan tangan yang bertumpu pada pedangnya.
"Apa kalian pernah merasakan apa yang aku alami?" tanya Trevor dengan mata berkaca-kaca. "Pedang kalian yang terasa berat!"
Rintik hujan mulai turun di pemakaman tapi Trevor tetap bersimpuh dengan mata terus menatap makam Wilson dan Noah.
Sampai Trevor merasakan ada sebuah payung yang melindunginya dari hujan berada di atas kepalanya. Trevor langsung menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita tua tersenyum padanya. Violet!
"Mom..." panggil Trevor yang langsung berdiri.
Trevor bingung kenapa Violet berada di pemakaman seharusnya Violet berada di rumah singgahnya. Setelah kematian Noah, Violet memang lebih memilih tinggal di rumah singgah dari pada hidup bersama Trevor yang sering berpindah-pindah tempat.
"Pedangmu sudah mulai terasa berat?" tanya Violet kemudian.