
Juvel berusaha menutupi tubuhnya saat Keiner melepas kain penghalang di tubuhnya satu persatu. Dia sangat malu.
"Wajahmu memerah, Babe." Keiner menunduk dan berbisik di telinga istrinya yang membuat jantung Juvel berdebar makin kuat.
Keiner yang tahu jika ini adalah pengalaman pertama istrinya terus berusaha membuat Juvel nyaman. Dia mencium bibir Juvel dengan terus melucuti kain yang tersisa di tubuh istrinya sampai tubuh berkulit putih itu menjadi polos.
Tangan Keiner terus mengelus dan memberi rangsangan pada bagian sensitif istrinya yang membuat Juvel melenguh beberapa kali.
"Keiner!" Juvel memanggil nama suaminya saat merasakan sesuatu yang aneh. Keiner mencicipi tubuh bawahnya dan Juvel merasa ledakan kenikmatan untuk pertama kalinya.
Nafas Juvel memburu, dia pikir akan selesai tapi ternyata permainan baru akan dimulai. Keiner kembali membuka kakinya dan tak lama suaminya itu melakukan penyatuan yang membuat Juvel kaget setengah mati.
Awalnya dia sangat merasa asing dengan benda yang memasuki tubuhnya tapi karena Keiner melakukannya dengan lembut dan hati-hati, Juvel mulai menyesuaikan diri.
Saat tubuhnya terus terguncang, dia lebih fokus memandangi wajah suaminya dari bawah. Kedua tangannya mengalung di leher kokoh Keiner yang membuat Keiner menunduk dan mencium bibir istrinya.
"You so tight, Babe. Argh!" Keiner mengerang saat mendapatkan pelepasannya setelah hampir setengah jam mengebor istrinya.
Juvel memejamkan matanya saat merasakan ada sesuatu yang meledak dalam tubuhnya. Serangan nuklir yang begitu dahsyat.
Tubuh besar Keiner ambruk di samping Juvel, dia mengatur nafasnya sejenak. Setelah nafasnya kembali teratur barulah dia mendekap istrinya yang kelelahan.
"Babe, jangan tidur!" cegah Keiner yang melihat Juvel memejamkan matanya.
"Aku lelah!" keluh Juvel yang tubuhnya masih belum terbiasa dengan serangan nuklir suaminya.
"Kau sudah lelah? padahal itu baru serangan pertama, aku rencana akan melakukan sepuluh serangan!" ungkap Keiner yang langsung membuat Juvel membuka matanya lebar-lebar karena tidak percaya.
"Se--sepuluh?"
Juvel masih bergelut dengan pikirannya tapi tubuhnya langsung diangkat oleh Keiner yang membuat gadis itu naik di atas perut suaminya.
"Mau apa ini?" tanya Juvel panik.
"Gaya baru." Keiner menjawab dengan begitu santai sambil membimbing istrinya untuk bergerak di atas tubuhnya.
"Kenapa nuklirmu ingin meledak terus-terusan?" keluh Juvel saat merasakan benda panjang itu masuk lagi dalam tubuhnya.
"Sudah aku bilang, 'kan. Aku sebelumnya hanya menahan diri tapi kau terus menggodaku saat aku bersedia mengobral tubuhku padamu seharusnya kau senang," ucap Keiner dengan kedua tangannya yang berada di pinggul istrinya. Dia membimbing supaya Juvel bergerak naik turun.
Juvel mengikuti arahan Keiner yang membuat lelaki itu tersenyum puas saat merasa istrinya sudah bisa bergerak sendiri, kedua tangan Keiner berpindah pada kedua benda bulat milik Juvel yang masih sangat ranum, Keiner yang berpengalaman bisa melihat jika kedua benda itu tidak pernah dijamah.
Kemudian Keiner menegakkan badannya supaya bisa menjangkau kedua benda itu.
Suara lenguhan dan desahaan Juvel semakin menjadi-jadi. Apalagi saat Keiner terus mengajarinya berbagai macam posisi.
Mereka benar-benar menghabiskan waktu bulan madu hanya dengan penyatuan demi penyatuan.
"Keiner!" suara itu menjadi favorit Keiner karena Juvel akan terus mengelu-elukan namanya saat istrinya itu mendapatkan pelepasannya.
Dan saat mereka selesai adalah momen favorit kedua Keiner karena pada saat itu dia dan istrinya bisa bermesraan dengan saling membuka diri satu sama lain.
"Keiner genggam tanganku," pinta Juvel sambil menautkan tangannya dengan tangan suaminya.
Lalu Juvel mengadah menatap suaminya yang tengah memeluknya dari belakang saat ini.
"Apa kau yakin akan melepasku?" tanyanya penuh harap jika Keiner akan mempertahankannya.