The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 42 - Tidak Peka



Chade berlari, tujuannya mencari Harold yang berada di ballroom hotel. Tapi saat di tengah perjalanan justru dia menabrak seseorang.


"Sorry," lirihnya sambil menunduk.


"Adik kecil, kau tidak apa-apa?" tanya seorang gadis yang ditabrak oleh Chade.


Suara itu begitu lembut sampai membuat Chade menegakkan kepalanya.


"Hei, kenapa wajahmu?" tanyanya lagi saat melihat pipi Chade yang memerah.


Gadis yang tak lain adalah Irene itu segera menggendong Chade untuk pergi.


Sebelumnya, Irene berhasil menendang perut Chloe kemudian dia juga kabur dari ruangan rias. Dan sekarang malah tanpa sengaja di tabrak oleh Chade.


Irene membawa ke lobby hotel dan meminta kompres dingin pada petugas hotel.


"Kakak kompres ya pipinya, supaya tidak bengkak," ucap Irene hati-hati.


Chade hanya mengangguk, hati kecilnya sudah bisa menilai jika Irene adalah orang yang baik.


"Adik kecil menghadiri pesta di hotel ini ya?" tanya Irene lagi.


"Iya, yang menikah hari ini adalah kakak ku." akhirnya Chade membuka suaranya.


Irene mengerutkan keningnya dalam, berarti bocah menyedihkan ini dari pihak mempelai laki-laki?


"Di mana mommy mu? Ayo kakak bantu cari, kau pasti tersesat, 'kan?" Irene mencoba membantu Chade menemukan orang tuanya.


Chade langsung menggelengkan kepalanya. "Mommy seperti monster, aku takut!"


Sepertinya Irene mulai mengerti, tangannya mengusap pipi Chade yang masih tampak merah.


"Apa ini perbuatan mommy mu?" tanya Irene kemudian.


Chade tidak menjawab tapi bocah itu kembali meneteskan air matanya.


"Mommy bilang aku anak haram, aku tidak mengerti itu apa. Apa karena itu mommy membenciku?" tanya Chade diisak tangisnya.


"Mommy mu bicara seperti itu?" Irene sampai tidak percaya. "Keterlaluan!" batinnya.


"Siapa nama mommy mu?" tanya Irene gusar.


Irene jadi semakin emosi, ternyata keluarga Clara tidak hanya kejam padanya tapi wanita itu juga kejam pada anaknya sendiri.


"Irene!"


Tiba-tiba suara itu mengalihkan atensi Irene, dia melihat Jullian mendekat padanya.


"Aku mencarimu dari tadi, aku mendapat laporan dari perias pengantin jika ada yang menyerangmu!" ucap Jullian cemas.


"Aku tidak apa-apa. Ada hal yang jauh lebih penting!" Irene mendekat pada Jullian dan berbisik di telinga lelaki itu, Irene menceritakan tentang Chade pada Jullian.


Jullian mendengarkan dengan seksama, dia mulai merangkai dan menyambungkan cerita Irene dengan apa yang dia ketahui.


"Jadi anak itu keponakanmu," gumamnya. "Yang aku tahu dia juga adik dari Keiner!"


Irene juga mengatakan jika Chade mengaku kalau Clara memanggilnya anak haram.


"Kita harus membawa anak itu pada Juvel, sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan!" ucap Jullian sambil berjongkok membelakangi Chade, dia meminta Chade untuk naik ke punggungnya.


Tapi Chade menggeleng karena takut pada Jullian.


"Tidak apa-apa, paman itu badannya memang besar dan sekeras batu tapi dia baik," bujuk Irene.


Mau tidak mau, Chade menurut. Bocah itu naik ke punggung Jullian.


Kemudian Jullian menggandeng tangan Irene dan mereka berjalan bersama menuju kamar di mana Juvel berada.


Saat akan masuk ke dalam lift, Jullian melihat pantulan mereka di dinding kaca lift.


Sangat aneh, seorang Jullian menggendong seorang anak sekarang dan di sampingnya ada gadis mungil kesukaannya. Mereka seperti keluarga kecil sekarang.


"Coba lihatlah!" Jullian meminta Irene juga melihat pantulan bayangan mereka.


"Ya ampun!" seru Irene.


"Kau juga merasakan, apa yang aku rasakan, 'kan?" tanya Jullian.


Irene mengangguk. "Iya, aku merasa pendek sekali. Tinggiku hanya sampai di ketiakmu saja!"


Jullian memutar bola matanya jengah. "Dasar gadis tidak peka!"