
"Kau sudah tahu cara menanam lobak, ya?" goda Jullian yang merangkak mendekati Irene.
"Tentu saja tahu, mommy Gwen yang memberitahuku. Kata mommy Gwen rasanya sakit jadi aku tidak boleh melakukannya. Dan katanya penanaman lobak harus dilakukan setelah menikah, jadi aku tidak mau!" Irene langsung menjauhkan dirinya.
Jullian agak kaget, dia langsung mengumpat dalam hatinya. Irene jadi tidak penurut seperti biasanya.
"Jangan dengarkan kata mommy Gwen, percayalah padaku!" bujuk Jullian kemudian.
"Jadi kau mau bilang jika mommy Gwen berbohong?" tanya Irene.
"Bukan begitu." Jullian jadi bingung sendiri. "Bilang pada mommy Gwen kalau kau lebih memilih bersamaku, Irene."
"I need you."
Jullian menarik Irene kemudian memeluk gadis itu. "Aku merindukanmu!"
Mendengar itu, Irene jadi merona. Sebenarnya dia juga merindukan Jullian.
"Bilang pada mommy Gwen, okay." Jullian terus membujuk dengan mengelus rambut Irene.
"Aku takut mommy Gwen marah," sahut Irene yang tubuhnya masih tenggelam dalam dekapan Jullian.
"Kalau kau yang bicara, mommy Gwen tidak akan marah!"
"Ta--tapi..."
Belum sempat Irene melanjutkan kalimatnya, pintu kamar digedor dari luar. Suara Gwen menggema di sana karena dia yakin Irene tengah bersama Jullian.
"Jullian... Jullian... Kembalikan Irene!" teriak Gwen.
Irene langsung melepaskan diri dari Jullian, dia berlari dan membuka pintu kamar.
"Kau kemana saja? Pasti Jullian menculikmu, 'kan?" tanya Gwen saat melihat Irene, ternyata benar dugaannya.
"Jullian merindukanku, Mom," jawab Irene polos seperti biasa.
Gwen memutar bola matanya malas, dia segera membawa Irene pergi, tertinggal Jullian yang berteriak di kamar.
"Irene...." teriaknya.
*****
"Selesaikan make up mu, mommy mau melihat Juvel," ucap Gwen yang mengantar Irene ke ruangan rias sebelumnya.
"Baik, Mom." Irene menurut dan tersenyum dengan manis.
"Lihatlah Irene yang sekarang," ketus Chloe yang merasa iri hati.
"Bukankah itu adalah mommy nya Juvel? Jadi Irene diangkat anak oleh keluarga Juvel?" tanya Clara yang mulai menyimpulkan hubungan antara Irene dan Gwen.
"Apa?" Chloe semakin tidak percaya dengan nasib Irene sekarang. "Dia itu hanya gadis simpanan!"
"Aku dengar Juvel mempunyai saudara laki-laki, apa dia yang kau maksud?"
"Kalau memang iya, aku harus merebutnya dari Irene. Aku yang lebih cocok di posisi gadis kumal itu!"
Chloe tidak terima jika hidup Irene lebih bahagia dari dirinya apalagi jika pasangan Irene sekelas Jullian yang menjadi tipenya.
"Pantas saja gadis kumal itu ada di sini," gerutunya. Chloe mendatangi Irene ke ruangan rias, kebetulan dia juga mendapat jatah make up di sana.
Saat itu Irene kembali di make up dan rambutnya juga mulai dirapikan. Gaun yang dia akan pakai untuk pengiring pengantin juga sudah siap.
"Oh, jadi kau adalah pengiring pengantin? Wah, kebetulan sekali, aku juga jadi pengiring pengantin dari keluarga pria," ucap Chloe saat masuk dan mendekati Irene.
Tubuh Irene bergetar saat Chloe mendekatinya, jadi Chloe adalah bagian keluarga dari mempelai pria. Dunia sempit sekali.
"Gadis kumal menjelma jadi gadis cantik, boleh juga," komentar Chloe saat melihat wajah Irene.
Chloe meraih dagu Irene tapi Irene buru-buru menghempasnya.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya.
"Wah, kau mulai berani, ya?" Chloe menjadi geram sendiri karena Irene mulai berubah, dimatanya Irene hanyalah gadis lemah yang mudah ditindas.
Irene berdiri, dia lebih baik keluar dari tempat itu dari pada harus berurusan dengan Chloe lagi.
Tapi saat dia melangkah rambutnya ditarik oleh Chloe.
"Akh... Sakit!" keluh Irene karena kuatnya tarikan pada rambutnya.
"Urusan kita belum selesai, Irene!"
"Lepaskan aku atau Jullian akan memotong tanganmu!"
Irene mengancam menggunakan nama Jullian.
"Oh, jadi namanya Jullian." Chloe menguatkan tarikan tangannya sampai tubuh Irene mendekat padanya. "Dengarkan aku, Jullian akan menjadi milikku!"