The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
Bibit Lobak - Jual Mahal



Suara tepuk tangan memenuhi ruangan ballroom hotel di mana Jullian dan Irene yang saling bertautan, mereka sudah sah menjadi suami istri.


"Sekarang aku milikmu seutuhnya, Irene!" ucap Jullian setelah ciuman mereka terlepas.


Irene tersenyum dan mengangguk kemudian mereka menghadap para hadirin yang datang ke acara pernikahan mereka.


Dari jauh Fiona terus menyesap wine dari tangannya, Jullian benar-benar milik Irene sekarang. Rasanya dia ingin menjerit di sana tapi Fiona lebih memilih keluar dari ballroom untuk menenangkan diri.


Karena memikirkan kondisi Irene, tidak ada resepsi di acara pernikahan Irene dan Jullian. Hanya ada jamuan keluarga setelah acara pemberkatan.


Keluarga Trevor dan Erik menyantap hidangan di satu meja hanya Fiona saja yang tidak ada di sana.


"Jadi kita mempunyai anggota keluarga baru, Sheria dan Chade," ucap Erik saat melihat kedua bocah yang ikut bergabung bersama.


"Ya, Sheria akan ikut aku untuk mengembangkan bisnis ternak sapi sementara Chade akan jadi calon presdir," tanggap Trevor kemudian.


"Nasib mereka berbeda jauh bukan?" timpal Maudy yang langsung disikut oleh suaminya. "Ah, bukan maksudku..."


"Tidak apa-apa, kami juga akan memberikan sekolah terbaik untuk Sheria!" ucap Gwen.


Sementara Chade terus memandangi Sheria, dia sebenarnya tidak mau jauh-jauh dari Sheria tapi dia juga harus menurut pada Keiner.


"Suatu hari aku pasti akan membebaskanmu dari peternakan sapi," ucap Chade penuh tekad.


...*****...


Setelah acara jamuan selesai, semua anggota keluarga menginap di hotel dan akan pulang keesokan harinya.


Juvel dan Keiner yang melihat ada kesempatan menitipkan baby Ares pada Trevor dan Gwen.


"Ck! Yang menikah siapa yang bulan madu siapa," decak Trevor yang sebenarnya tidak keberatan sama sekali mengurus baby Ares yang tidak pernah rewel.


"Ayo kita bawa ke kamar," ajak Gwen sambil mencari Sheria dan Chade untuk mereka bawa juga.


Masa tua Trevor dan Gwen disibukkan dengan mengurus anak kecil dan cucu.


Di kamar pengantin, Jullian mempersiapkan air hangat dan juga taburan bunga di bath up yang berbentuk seperti kolam. Dia akan mengajak istrinya berendam bersama, akhir-akhir ini Irene tampak murung. Dan Jullian tahu penyebabnya, Jullian akan menegaskan jika hanya Irene yang ada dihatinya.


"Sayang..." panggil Jullian dari dalam kamar mandi.


Tak lama Irene ikut masuk yang membuat Jullian tersenyum lebar sekali sampai gigi kelincinya kelihatan.


"Kemarilah dan buka bajumu!" ucap Jullian.


Irene menurut, dia membuka bajunya yang menyisakan pakaian dalam saja dan ikut masuk ke dalam bath up bergabung bersama suaminya.


"Nyaman bukan?" tanya Jullian yang langsung memeluk istrinya.


Irene hanya menganggukkan kepala yang membuat Jullian gemas sendiri.


"Kemana suara gadis mungilku, kenapa akhir-akhir ini dia tidak banyak bicara dan hanya mengangguk seperti burung pelatuk!" ucap Jullian sambil meraba perut rata Irene kemudian bibirnya mengecup bahu istrinya. "Please, jangan begini sayang. Lebih baik kau marah terang-terangan padaku dari pada kau mendiamkan aku seperti ini!"


"Oh, jadi kau ingin aku marah terang-terangan?" akhirnya Irene bersuara juga.


"Iya, supaya masalahnya cepat selesai dan tidak berlarut-larut! Aku hanya milikmu bukan siapapun, kau berhak sepenuhnya atas lobakku!" bujuk Jullian.


"Maaf Tuan tapi aku sekarang tidak terlalu tertarik dengan lobakmu itu!" ucap Irene dengan ketus. Irene sedang belajar yang namanya jual mahal.