The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 79 - Nona Mafia



Irene terus tersenyum dengan kepala menyender di dada Jullian, dia masih mengingat percintaan yang baru dia lakukan dengan lelaki itu.


Sementara Jullian sendiri hanya terdiam yang membuat Irene bertanya. "Kenapa?"


"Hanya bingung membawamu pulang ke mana," jawab Jullian yang mengingat semua markasnya sudah tidak ada.


Sebenarnya masih ada mansion dan pulau pribadi keluarganya tapi Jullian tidak mau membawa Irene ke sana.


"Aku akan ikut ke mana pun kau pergi," ucap Irene yang akan menempel terus pada Jullian.


"Tapi bagaimana dengan Ronan? Apa kau akan membiarkan dia begitu saja? Chade juga masih ada di sana karena anak itu merasa ayah kandungnya menyayanginya," tambah Irene.


"Kau tahu kabar runtuhnya Black Mamba pasti terdengar di mana pun sekarang, mereka pasti akan berbondong-bondong merebut daerah kekuasaan Black Mamba karena tahu sekarang kita kalah jumlah," timpal Jullian yang sedang memikirkan segala kemungkinan yang ada.


"Sebenarnya aku punya satu cara, aku tidak tahu ini berhasil atau tidak tapi kita bisa mencoba untuk menyerang kubu Ronan," ucap Irene yang mempunyai ide.


Jullian mengerutkan dahi dan menunggu kalimat Irene selanjutnya.


"Ronan menganggap aku sudah mati bukan? Jadi aku ingin memanfaatkan itu!" jelas Irene.


"Aku menyebutnya The Ghost!"


*****


Di sisi lain, Juvel yang berada di mansion Erik tengah berjalan berdua dengan sepupunya, Fiona.


Kedua gadis itu menyusuri peternakan kuda yang dimiliki Erik.


"Ada kuda yang baru melahirkan minggu ini, apa kau mau melihat anaknya?" tawar Fiona.


Fiona ingin mencoba menghibur Juvel yang murung, kondisi Juvel sekarang akan bisa mempengaruhi kondisi janin yang dia kandung.


Setelah mendengar kabar kematian Violet, Juvel semakin merasa bersalah. Gwen pergi mencari Trevor sementara Juvel masih tertinggal di mansion Erik.


"Boleh," jawab Juvel yang mengikuti langkah Fiona menuju kandang kuda keluarganya.


Di sana ada seekor kuda kecil yang sedang menyusu pada induknya.


"Kau boleh memberinya nama, Juvel!" ucap Fiona yang memberi izin sepupunya untuk memberi nama kudanya.


"Count? Sepertinya cocok!" respon Fiona dengan terkekeh. "Aku punya satu rahasia yang akan aku bagi denganmu!"


"Apa?" tanya Juvel penasaran.


"Dulu saat masih sekolah, aku sering mencuri makanan di kantin sekolah," celetuk Fiona yang mempunyai darah mafia.


"Apa uncle Erik tahu? Puteri bangsawan tidak boleh melakukan hal itu bukan?"


"Aku hanya melakukannya sesekali!"


Fiona menghela nafasnya. "Bahkan seorang bangsawan pun bisa melakukan kesalahan!"


"Tapi kesalahan yang aku buat terlalu besar," ungkap Juvel yang kembali merasakan keram di perutnya.


"Kalau terus-terusan begini, kau bisa keguguran Juvel!" Fiona menjadi cemas sendiri.


Akhirnya Fiona membawa Juvel kembali ke mansion, Juvel kembali beristirahat di kamarnya. Dan Fiona mencoba menghubungi Keiner dari ponsel Juvel, sepertinya Juvel membutuhkan suaminya.


Beberapa jam berlalu, Juvel merasakan sebuah pelukan dari belakang yang membuatnya terjaga dari tidurnya.


Saat dia menoleh sudah ada sosok Keiner yang dia rindukan tapi lelaki itu pasti hanya memperdulikan bayinya seperti biasa.


"Bayinya baik-baik saja," ucap Juvel kemudian.


"Aku datang bukan untuk bayinya," sahut Keiner dengan membelai wajah Juvel. "Tapi aku datang untuk ibunya!"


Keiner ingin mengungkapkan perasaannya, selama jauh dari Juvel hatinya tidak tenang. Keiner tidak bisa tidur dan terus memandangi vitamin hamil Juvel di kamarnya.


Biasanya dia akan khawatir setengah mati jika Juvel tidak meminum vitamin atau susu hamilnya tapi sekarang yang dia khawatirkan adalah keadaan istrinya. Bagaimana Juvel makan, bagaimana istrinya tidur? Apa Juvel senang atau sedih?


Keiner mengecup kening Juvel dengan memejamkan matanya. "I love you, Nona Mafia!"


"Aku menyukaimu bukan karena kau yang bisa membuatku tidur atau karena kau yang mengandung anakku tapi..."


"Karena kau adalah Juvelian Brown!"