
Keiner memandangi Juvel yang mengganti popok bayinya, dia melihat Juvel sudah begitu lihai. Keiner tersenyum-senyum sendiri mengingat pertama kali bertemu dengan Juvel yang gayanya seperti gelandangan dan bagaimana dulu dia mencegah Juvel menggugurkan baby Ares.
"I love you," bisik Keiner sambil memeluk Juvel dari belakang.
"Ada apa, Babe?" Juvel justru malah bertanya dan berpikir kalau Keiner meminta jatah bermain nuklir.
"Memangnya mengungkapkan cinta pada istri harus ada sebabnya dulu,"
"Biasanya suami itu kalau sudah begitu, ada maunya,"
"Kalau aku gak tuh,"
Juvel tergelak sambil menggendong baby Ares. "Ayo kita turun, yang lain pasti sudah makan duluan!"
"Sini biar aku yang gendong Babe." Keiner mengambil alih baby Ares yang membuat bayi itu tertawa. "Rindu daddy ya!"
Akhirnya mereka turun ke lantai bawah dan Trevor yang melihat baby Ares ingin merebut kembali cucunya.
"Makanlah yang benar, Trey!" tegur Gwen yang membuat Trevor mengurungkan niatnya.
Irene yang melihat interaksi semua keluarga pada baby Ares jadi mengusap-ngusap perutnya sendiri.
"Kenapa? Apa mereka tidak berhenti bergerak?" tanya Jullian yang ikut mengusap perut istrinya.
"Tidak, aku hanya berpikir, apakah nanti bayi-bayi wuba juga akan seperti Ares, diperebutkan!" sahut Irene yang sudah membayangkan keempat bayinya.
"Bukan berebut tapi mereka akan bingung mau gendong yang mana,"
"Iya juga ya,"
"Mungkin hidup bayi-bayi wuba tidak akan bisa seperti Ares, mereka akan tinggal di apartemen dan mungkin aku hanya bisa mempekerjakan dua pengasuh tapi aku akan berusaha memberi mereka yang terbaik,"
"Aku percaya padamu, Jullian!"
Berbeda dengan Irene, Sheria justru tampak murung. Sheria mempercepat makannya kemudian pamit untuk ke taman mansion. Ada ayunan di sana dan Sheria duduk di ayunan itu seorang diri.
Sheria memegang kalung yang dia pakai kemudian membuka liontinnya yang ada foto Dozer dan Ruby.
"Mommy daddy, aku merindukan kalian," ucapnya sambil meneteskan air mata.
Chade yang menyusul Sheria jadi kalang kabut melihat Sheria menangis. Bocah itu berlari ke kamarnya dan mengambil cemilan yang dia beli di sekolah sebelumnya.
"Thanks." Sheria mengambil cemilan dari Chade dan langsung membuka cokelat. "Enak, daddy dulu sering memberiku cokelat diam-diam karena mommy selalu melarang aku makan cokelat dan permen!"
"Pasti karena takut gigi rusak, 'kan? Kak Keiner dan Juvel juga begitu padaku!" sahut Chade.
"Kau beruntung Chade, aku iri padamu!"
"Kenapa iri? Daddy ku di penjara dan mommy ku berada di rumah sakit jiwa, apa kau iri yang seperti itu?"
"Setidaknya kau masih bisa melihat mereka, 'kan?"
Kemudian mereka terdiam, Sheria masih memakan cokelatnya dan Chade memberanikan diri untuk memegang tangan gadis kecil itu.
"Kau genit sekali, Chade," komentar Sheria saat tangannya dipegang oleh Chade.
"Kau mau menunggu aku dewasa kan, Sheria?" tanya Chade penuh harap.
"Bukannya kita nanti akan dewasa bersama?" tanya Sheria bingung.
"Aku pasti akan membebaskanmu dari peternakan sapi jadi bersabarlah! Aku akan belajar sungguh-sungguh!" Chade berkata begitu serius.
Sheria tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Chade. "Kau kenapa, Chade? Sangat aneh mendengar itu semua!"
Karena tidak mau mendengar kalimat aneh lagi, Sheria kembali masuk dalam mansion untuk bermain bersama baby Ares.
Chade yang tertinggal mencium tangannya sendiri, tangan bekas memegang Sheria. "Aku memegang tangannya, aku pasti nanti malam tidak bisa tidur. Aku harus menghitung sapi banyak-banyak!"
...*****...
Rekomendasi Author :
Judul : Hasrat Terindah Tuan Muda
Author : Anak Kost
Jangan lupa baca juga ya bestie, dijamin bagus😘