
"Akh! Keiner...." Juvel merasa ada sesuatu yang memasuki tubuhnya. Ternyata Keiner tidak tahan juga. "Kau curang!"
"Sorry Babe. Tadi kurang sedikit lagi!" Keiner terus memacu tubuhnya.
Sampai lima belas menit kemudian, Keiner mengerang dan langsung ambruk di samping Juvel.
Juvel juga mengatur nafasnya dan tertidur lagi, dia tidak peduli dengan tubuhnya yang polos. Dia sangat mengantuk sekali.
"Ini semua gara-gara Jullian!" gerutu Juvel dalam hatinya.
Keesokan paginya, Juvel terbangun karena tangisan dari baby Ares. Ibu muda itu segera bangun untuk memeriksa bayinya.
Juvel mengangkat dan langsung menyusui baby Ares. Kemudian dia memanggil pengasuh untuk membantunya mengurus bayi.
"Tolong mandikan baby Ares kemudian jemur sebentar saja," ucapnya.
"Baik, Nyonya."
Setelah menyerahkan baby Ares, Juvel beranjak ke dapur untuk melihat pelayan yang mempersiapkan sarapan. Walaupun Juvel belum pandai memasak tapi dia sendiri yang menentukan menu di mansion.
"Apa semua sudah siap?" tanya Juvel.
"Sebentar lagi, Nyonya."
"Aku akan membangunkan Keiner dan mempersiapkan keperluannya untuk ke kantor!"
Juvel naik lagi ke lantai kamarnya sambil membawa kopi buatan kepala pelayan. Saat sampai kamar, Juvel menaruh kopinya di atas nakas kemudian ke walk in closet untuk memilih jas kerja yang akan dipakai suaminya.
"Babe, bangunlah! Nanti kau terlambat..." Juvel berbisik pelan ditelinga Keiner.
Keiner malah memeluk Juvel dan membuat istrinya seperti guling.
"Rasanya aku malas hari ini ke kantor!" keluh Keiner yang ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.
"Kau sudah terlalu banyak mengambil cuti, Babe. Ayo cepat bangun, Chade pasti menunggu kita di meja makan sebentar lagi!" ucap Juvel yang harus mengurus semuanya sekarang termasuk sekolah Chade.
"Apa kau menyukai ini?" tanya Keiner menatap istrinya. Kehidupan Juvel berubah 180 derajat dari hidupnya dulu.
"I love it," sahut Juvel dengan mengecup bibir suaminya.
...*****...
"Coba lihat papa kita!"
Jullian merasa didatangi oleh empat orang anak kemudian menaiki tubuhnya.
"Papa kami mau es krim!"
"Kami juga mau mainan!"
"Ayo papa kerja! Papa tidak punya uang!"
"Huaaa.... Huaaa..."
Keempat anak itu menangis karena Jullian yang tidak bisa membelikan apa yang mereka mau.
"Anak-anak wubaku!" seru Jullian yang langsung terbangun.
Jullian menoleh ke kanan dan kirinya tapi tidak ada siapa-siapa.
"Ternyata cuma mimpi, syukurlah!" ucap Jullian dengan mengusap keringat yang membanjiri pelipisnya.
Jullian berdiri di dinding kaca apartemen dan melihat kota dari atas, banyak kendaraan lalu lalang tapi dia hanya berdiam diri saja.
"Aku pasti sukses suatu hari nanti, aku tidak mau melakukan kejahatan lagi untuk mencari uang!" gumam Jullian penuh tekad.
Disaat seperti ini, Jullian sangat membutuhkan Irene.
"Irene, apakah kau merindukan aku sekarang?" gumamnya.
Rupanya Irene saat ini tengah mengantar Sheria sekolah. Sekolah Sheria tidak jauh jadi cukup dengan jalan kaki saja saat mengantarnya.
"Sudah sampai Kak Irene, daa--daa--" Sheria melambaikan tangannya.
"Jangan lupa habiskan bekal makan siangnya," ucap Irene setengah berteriak.
Ah, Irene jadi mengingat Jullian. Apa suaminya itu sudah makan? Biasanya pagi-pagi Irene sudah sibuk memasak untuk Jullian.
"Jullian..." Irene memanggil suaminya.