The Baby's Mafia

The Baby's Mafia
TBM BAB 25 - Bimbang



Keiner awalnya hanya ingin memberi kecupan saja tapi dia tidak menyangka jika Juvel membuka mulut dan membalas ciumannya.


Akhirnya terjadi pergulatan indera pengecap, mereka bermain cukup lama sampai oksigen mereka hampir habis.


Saat mereka melepas tautan mereka, Juvel dan Keiner langsung membuang wajah kemudian menjauhkan badan mereka.


Mereka jadi salah tingkah karena terbawa suasana.


Sesampai di mansion, Juvel segera berlari menuju kamarnya. Dia tidak mau bersinggungan dengan Keiner terlebih dahulu, Juvel sampai tidak sadar jika kamar yang dia tempati adalah kamar Keiner.


"Astaga! Kenapa aku jadi begini?" gerutu Juvel sambil mengacak rambutnya.


"Ingat tujuanmu, Juvel!!"


Juvel kemudian membuka gaun malamnya tapi karena ada resleting ada di belakang dia susah menjangkaunya. Sebelumnya dia dibantu tukang make up saat memakai gaun malam itu.


"Ck! Aku tidak mau memakai gaun model begini lagi!" decaknya.


Bersamaan dengan itu, Keiner masuk ke dalam kamar dan melihat Juvel yang kewalahan membuka gaunnya.


Tanpa diminta, Keiner mendekat dan mencoba membantu Juvel.


Deg!


Juvel hanya bisa terdiam saat Keiner menurunkan resleting belakangnya. Dia masih malu mengingat ciuman mereka sebelumnya.


Sementara Keiner hanya bisa menelan ludahnya melihat punggung putih Juvel tapi ada yang menarik perhatiannya, ada luka goresan di punggung gadis itu.


"Sepertinya kalau kau daftar jadi miss universe tidak akan lulus," komentar Keiner.


Juvel langsung tersadar, buru-buru dia masuk ke walk in closet untuk mengganti gaunnya dengan piyama.


"Luka apa itu?" tanya Keiner yang masih penasaran, dia menyusul Juvel di walk in closet.


"Itu juga salah satu alasan kenapa aku ingin keluar dari dunia mafia. Kau percaya hukum karma?"


Keiner menaikkan kedua bahunya karena dia bingung harus menjawab apa.


"Aku meyakini jika kembar simpatik yang aku alami dengan Jullian adalah karma karena daddy ku yang sudah berbuat banyak hal kejahatan!" ucap Juvel kemudian.


"Bukankah memang semua perbuatan kita ada balasannya?" Keiner jadi mengingat masa lalu. Mungkin Keiner kehilangan bayinya juga termasuk karma karena telah melakukan hubungan dengan Clara tanpa tali pernikahan.


Juvel mendekati Keiner kemudian meraih tangan lelaki itu. "Jadi, katakan! Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kau harus memiliki bayi? Jangan sampai aku menerka-nerka sendiri!"


Dan Keiner menceritakan masa lalunya pada Juvel, mulai dari kematian ibunya dan harta yang dia miliki sampai hubungannya dengan Clara.


Juvel tidak terlalu kaget karena dugaannya benar jika Keiner dan Clara memang memiliki hubungan tapi dia tidak menyangka akan sedalam itu.


"Kau masih menyukainya?" tanya Juvel kemudian.


"Kalau ada orang di dunia ini yang harus aku bunuh, dia jadi daftar pertamanya," jawab Keiner dengan penuh kebencian.


"Tapi Chade tidak salah, sebaiknya kau jangan memusuhinya, dia tidak tahu apa-apa." Juvel mencoba memberi saran.


"Jangan terperdaya oleh setan kecil itu, dia itu ancaman untuk bayiku!" Keiner masih kukuh dengan pendapatnya.


Juvel tidak bisa ikut campur terlalu banyak, yang jelas dia harus berhati-hati.


"Aku ingin tidur, besok aku ingin menemui Jullian!" pamit Juvel dengan berlalu meninggalkan Keiner, gadis itu naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Saat akan memejamkan mata, Juvel melihat Keiner yang keluar dari walk in closet dan duduk di sofa. Jika malam ini Keiner tidak tidur berarti sudah dua malam lelaki itu tidak tidur.


"Dia pasti akan tidur dengan gaya anehnya itu lagi," gumam Juvel. "Apa aku minta dia tidur satu ranjang denganku?"


"Aaaaaa, bagaimana ini? Sebaiknya aku menghitung sapi saja! 100 sapi 200 sapi 300 sapi!"