
Suara erangan pria terdengar saat dia mendapat puncak kenikmatan setelah tangan mungil mengurut benda perkasanya.
Pemilik tangan mungil itu hanya bisa menunduk malu karena sebagian muntahan dari lobak mengenai wajahnya.
"Seperti mayonaise," komentar Irene buru-buru membasuh wajahnya.
Sementara Jullian tertawa bahagia, walaupun dia belum bisa menanam lobaknya tapi setidaknya dia mendapat pelayanan khusus setiap pagi hari.
Hal itu bisa mengurangi mual yang dia derita.
"Kau ingin jalan-jalan lagi hari ini?" tanya Jullian perhatian.
"Sebenarnya aku ingin sesuatu, apa boleh?" tanya Irene balik.
"Katakanlah!"
Irene meremas bajunya dengan menundukkan wajah. "Aku ingin belajar supaya bisa membaca dengan baik. Aku kesulitan saat tidak mengetahui ada produk baru yang masuk ke dapur!"
Irene mengingat kejadian kemarin saat dia kesulitan membaca komposisi dan cara memasak suatu brand makanan. Gadis itu sejak kecil memang terkurung dan tidak menempuh pendidikan, Irene belajar otodidak tapi sampai sekarang dia belum lancar membaca.
"Tentu saja boleh, aku sendiri yang akan mengajarimu!" Jullian mengusap rambut Irene untuk menutupi rasa kasihannya.
Ibu Irene meninggal saat melahirkan gadis itu, saat Irene berusia lima tahun, ayahnya menikah lagi supaya Irene memiliki sosok ibu apalagi istri barunya membawa dua anak perempuan yang bisa menjadi teman Irene.
Sampai sebuah kecelakaan membuat ayah Irene meninggal, semenjak saat itu Irene di kurung ibu tirinya dan menjadi mainan kedua saudara tirinya.
Dengan tubuh kurusnya, Irene kecil sudah harus melakukan pekerjaan layaknya seorang pelayan. Jika dia membuat kesalahan kecil saja Clara dan Chloe tidak akan segan-segan menyiksanya.
Saat Irene remaja, ibu tirinya menjual gadis itu pada pria hidung belang supaya Irene menghasilkan uang. Dan di saat itulah, Jullian menolongnya.
Jullian masih ingat jelas, dia membeli Irene dengan keadaan gadis itu yang tidak memakai busana apapun, hanya kain yang Jullian tutupkan pada tubuh Irene saat membawanya pergi.
"Wah, wah!"
Seperti biasa saat Jullian membawa Irene pergi, gadis itu hanya fokus menatap jalanan dan saat ada sesuatu yang menarik, Irene selalu kagum dan matanya berbinar.
"Kita akan ke toko buku, kau bisa memilih buku apapun yang kau mau untuk belajar membaca," ucap Jullian kemudian.
Saat sampai di toko buku, Irene yang sudah tidak sabar segera menyusuri lorong-lorong buku dan memilih buku apa yang akan dia beli.
Irene berhenti di lorong buku dongeng, dia sangat penasaran dengan dongeng-dongeng yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"Apa aku boleh membeli buku ini?" tanya Irene pada Jullian.
"Dongeng putri duyung?" gumam Jullian saat melihat buku dongeng yang Irene tunjukkan padanya.
"Aku suka melihat gambar gadis ikan ini, dia tidak akan dijadikan sarden kan?" tanya Irene lagi.
Jullian tergelak mendengar pertanyaan Irene. "Tentu saja tidak! Jangan beli itu saja, beli juga Cinderella, Snow White dan juga Beauty and the Beast!"
Banyak buku yang Jullian beli tapi Irene lebih tertarik pada putri duyung. Dia terus merengek agar Jullian menceritakan kisahnya.
"Jadi putri duyung meminta menjadi manusia demi bertemu dengan orang yang dia cintai?" tanya Irene yang mendengar sebagian kecil cerita putri duyung.
"Ya, begitulah. Kau harus membacanya sendiri, aku akan mengajarimu dasar-dasarnya, kau hanya perlu terbiasa membaca!"
Irene mengusap buku dongeng putri duyung itu yang ada di pangkuannya. "Aku ingin menjadi seperti putri duyung yang merubah takdir hidupnya sendiri. Aku harap putri duyung menemukan cinta sejatinya dan bahagia!"
Jullian yang mengetahui akhir dari putri duyung itu seperti apa menjadi panik. Akhirnya tanpa sepengetahuan Irene, Jullian merobek bagian ending dari buku dongeng itu. Bagian di mana putri duyung yang patah hati menenggelamkan diri di lautan dan menjadi buih.
"Hidup putri duyung versiku harus bahagia," gumam Jullian.