
Sebelum ke tempat eksekusi, Keiner dan Juvel menyempatkan diri singgah ke restoran cepat saji.
Sebenarnya Keiner tidak suka Juvel mengonsumsi makanan cepat saji tapi karena istrinya yang selalu merengek akhirnya Keiner mengizinkan dengan catatan setelah itu Juvel harus banyak memakan sayuran sehat.
"Oh God! Ini sangat enak," ucap Juvel sambil memakan burger yang ada di tangannya.
"Tidak boleh sering-sering memakannya, fast food tidak sehat... " perkataan Keiner terjeda karena Juvel menaruh jari telunjuknya ke mulut lelaki itu.
"Aku tahu, Babe." Juvel menyela. "Hidupku memang seperti ini, bebas! Jadi jangan terlalu mengekangku!"
"Setelah dari tempat eksekusi, kita juga harus ke markas kasino sepertinya aku harus menutup bisnis perjudian itu sementara waktu," tambah Juvel.
Keiner menghela nafasnya kemudian meraih tangan istrinya, Keiner sekarang bisa merasakan bagaimana hidup Juvel selama ini.
"Setelah semua selesai, kau tidak perlu memikirkan apapun! Fokus pada kehamilanmu saja," ucap Keiner yang akan memanjakan Juvel.
"Mengenai itu, kau ingin anak laki-laki atau perempuan, Babe?" tanya Juvel sambil menatap suaminya lekat.
"Apapun itu, asal bayinya sehat!" Keiner menjawab jujur karena dia memang tidak mempermasalahkan jenis kelamin bayinya.
Juvel langsung merapat pada suaminya, tangan Juvel dengan nakal meraba dada Keiner.
"Sebenarnya ada tehniknya membuat jenis kelamin bayi, semua itu diatur dari cara orang tuanya bercinta," ucap Juvel sambil mendekatkan mulut ke telinga suaminya. "Kalau aku rajin di atas maka bayinya akan laki-laki tapi jika kau yang di atas maka bayinya akan perempuan!"
"Teori dari mana itu?" Keiner menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Itu teori dari Juvelian Brown!" jawab Juvel yang langsung mendapat ciuman dari Keiner.
Mereka berciuman dengan menggebu-gebu dan penuh gairah sampai nuklir Keiner yang tidak bisa dikondisikan.
"Cepat cari jalanan sepi!" perintah Keiner pada anak buah Juvel yang bertugas menyupir mobil.
Karena tahu maksud dari Keiner, sang supir segera mencari jalanan sepi dan keluar dari mobil saat mobil berhenti.
Beberapa menit kemudian dia mendengar suara erangan di dalam mobil.
"Akh! Keiner...." Juvel mengacak rambut suaminya dengan kuat karena menerima serangan nuklir yang sangat nikmat.
Keiner menatap Juvel dengan peluh membanjiri pelipisnya.
*****
Karena percintaan mereka, akhirnya Juvel dan Keiner jadi terlambat ke tempat eksekusi.
"Babe..." panggil Keiner berusaha membangunkan istrinya yang tertidur karena kelelahan.
"Ugh!" Juvel melenguh, dia membuka mata dan mendapati mereka sudah sampai.
Juvel langsung memukul dada Keiner karena membuatnya kelelahan saat melakukan tugas penting.
"Bayinya pasti akan kaget karena kau siram terus-terusan dengan ledakan nuklirmu itu!" ketus Juvel sambil merapikan penampilannya.
"Kau yang terus menggodaku, aku jadi tidak tahan!" ucap Keiner membela diri.
"Ish, bilang saja ketagihan. Setelah ini kau harus belajar bilang I love you padaku!" tuntut Juvel yang tidak ingin rugi.
Kemudian mereka turun bersama dan masuk ke dalam tempat eksekusi. Tempat terpencil dan gelap, Keiner menatap setiap sudut tempat itu.
"Jadi kalian menawan musuh di sini?" tanya Keiner yang matanya menangkap benda-benda tajam persis seperti punya algojo yang dia lihat di film-film.
"Ya begitulah, musuh yang sudah masuk kesini tidak akan pernah kembali!" jawab Juvel yang membuat Keiner menelan ludahnya.
"Jadi jangan macam-macam padaku!" Juvel kembali mengancam, dia akan membuat Keiner berpikir seribu kali jika ingin meninggalkan dirinya.
*
*
*
*
*
Author mengucapkan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga readers semua bahagia selalu. 😘