Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 95. Ujian Lantai Pertama Fase II



...Bab 95. Ujian Lantai Pertama Fase II...


Kami masih lari bersama Hunter lain nya yang mana penguji Sato juga mempercepat langkah kakinya hingga membuat semua Hunter juga menambah kecepatan lari nya.


Dan, itu sudah menghabiskan waktu empat jam sejak ujian dimulai dan ku perkirakan sudah 80 km. Kami tidak tahu harus seberapa jauh lari kami harus berlari.


Felix terlihat sudah kehabisan nafas, keringatnya bercucuran sangat banyak dan nafas nya terengah-engah. Hal itu membuat lari nya semakin lambat.


Apalagi sehabis dia marah-marah tadi membuatnya semakin kelelahan sekarang. Tenaganya mulai habis dan pandangannya mulai kabur sehingga membuat jarak Felix semakin menjauh dari peserta ujian lainnya yang meninggalkannya di belakang.


Memahami kondisi Felix, aku pun menghentikan langkah lari ku dan menoleh kearah Felix.


Cindy yang berlari didekat ku juga ikut berhenti.


"Rizal, ada apa?"


"Kak Felix tertinggal cukup jauh. Aku harus membantu nya."


Seusai mengatakan itu, aku berbalik badan dan berlari ke arah berlawanan untuk menjemput Felix.


"Baiklah, aku ikut," ucap Cindy yang berlari menyusul ku.


Ditengah itu, aku pun melihat Felix yang memaksakan diri untuk berlari meski sudah terlihat sangat kelelahan.


Melihat nya, aku menyamakan jarak yang diikuti oleh Cindy.


"Rizal, Cindy! Apa yang kalian lakukan?"


"Kita harus lulus bersama kak dan pergi ke lantai dua," jawab ku dengan senyuman kecil.


"Kamu ini," jawab Felix yang juga tersenyum kecil.


Setelah itu, aku memberikan nya air isotonik dan roti.


"Kak Felix, minum dan makan lah dahulu!"


Menerima itu, Felix sontak senang.


"Wuahh ... terimakasih, ini sangat membantu. Sihir penyimpanan memang luar biasa!"


"Hehehe ... begitu lah."


Setelah itu kami lari bersama yang dimana kami melewati beberapa Hunter lain nya.


"A-aku sudah tidak kuat lagi," ucap Hunter lain dan dia pun pingsan.


Tidak hanya Hunter itu, kami juga melewati beberapa Hunter yang sudah pingsan dan kami berlari ditemani oleh Jung Wo. Meski dia Hunter Korea Selatan namun, dia lebih senang bergabung di kelompok kami.


"Aku terkesan kamu masih bisa mengimbangi ku. Padahal kamu Hunter Rank F," sindir Jung Wo melihat ku.


"Terimakasih," jawab ku dengan senyuman kecil.


"Rizal, apakah kamu merasa bahwa hunter yang lain terlalu lambat, ya." Jung Wo menghela nafas panjang, "Ahufuu ... aku pikir ujian Tower Of Trial akan menyenangkan namun, ini sangat membosankan."


Aku pun tidak menanggapi nya dan hanya memberikan senyuman kecil.


Sesaat kemudian, Felix berteriak kencang.


"Hei, pintu keluar nya sudah terlihat!" seru senang Felix.


Mendengar itu, kami sontak melihat kedepan.


"Paman, Rizal, Cindy! Bagaimana kalau kita berlomba? Siapa yang keluar lebih akhir maka dia harus mentraktir makanan? Bagaimana?"


"Aku setuju," jawab Cindy dengan senyuman lebar.


"Aku juga."


"Baiklah, paman juga."


Setelah itu, kami berhenti sejenak dan berdiri sejajar serta bersiap lari.


"3 ... 2 ... 1. Go!"


Kami berempat lari secepat mungkin hingga menyusul beberapa Hunter didepan kami sedangkan, aku sendiri berada di posisi kedua dibelakang Jung Wo.


Sebenarnya, aku bisa saja mempercepat lari dan menyusul nya namun, jika kulakukan dia akan semakin penasaran dengan kemampuan ku maka, ku putuskan untuk mengalah dengan posisi kedua.


Setibanya diluar, Jung Wo membentangkan tangan nya. "Goal!"


"Aku menang!"


Sesaat kemudian, Aku dan Cindy menyusul Jung Wo dari belakang. Lalu, terakhir Felix dengan nafas yang terengah-engah.


"Kalian sungguh gila! Berapa banyak stamina yang kalian miliki?!" seru heran Felix.


Mendengar itu, kami bertiga saling bertukar tawa.


Lalu, Hunter lain memadamkan kesenangan kami.


"Tidak mungkin, penguji belum berhenti!"


"Tunggu! Apakah kita harus melewati hutan kabut itu?"


....


"Seperti nya kita harus melanjutkan perjalanan," jawab Cindy.


"Iya," jawab serentak aku dan Jung Wo.


"Ehh? Yang benar saja!"


Setelah itu, kami melanjutkan lari kedalam hutan berkabut.


Saat ini, ada 350 Hunter masuk kedalam hutan berkabut ini bernama Rawa Nume yang dimana rawa ini dihuni oleh monster buas yang berbahaya dan informasi itu, aku dapatkan dari Shadow Direwolf yang menyusup ke bayangan penguji disertai Shadow Connect.


Jadi, aku bisa mendengar dan melihat si penguji ini. Selain itu juga aku bisa diam-diam membunuh monster mengunakan pasukan Shadow hingga aku bisa naik level tanpa harus diketahui.


Ding!


[Anda naik level.]


[Anda naik level.]


Felix yang memahami situasi, dia pun mengeluh. "Aishh, kenapa maraton lagi?"


"Dan, kali ini kita harus berlari diatas tanah yang basah dan hal itu sangat menguras tenaga," sambung Cindy.


Sesaat kemudian, penguji memberikan seruan peringatan.


"Pastikan kalian semua tetap berada dibelakang saya."


Penguji memberikan seruan itu bukan tanpa alasan karena kabut mulai menebal dan secara perlahan-lahan mulai menutupi jalan serta pandangan para Hunter.


"Kabut nya semakin menebal," ucap Cindy seraya melihat sekeliling nya.


"Tetap waspada dan berhati-hati," jawabku.


"Baik," jawab serentak Felix dan Cindy.


Sesaat kemudian, aku mendengar sesuatu yang menarik dari salah satu Shadow yang ku susup pada salah satu Hunter.


Yang mana, ada sekelompok yang tidak menyukai Jeriko mulai merencanakan sesuatu.


"Inilah kesempatan kita!"


"Ya."


"Kita gunakan kabut ini untuk menyingkirkan dia!" seru Hunter seraya menatap tajam Jeriko.


Namun, aku juga mendengar jawaban dari Jeriko yang mana juga sudah ku susupi oleh shadow ku.


"Ahh ... senang nya. Ada beberapa lalat dibelakang ku."


Lalu, ada pria berwajah cacat menjawab ucapan Jeriko.


"Kalau begitu, aku akan kedepan duluan. Selamat bersenang-senang!"


Lalu, pria berwajah cacat mempercepat lari nya. Sedangkan, Jeriko memperlambat lari nya dengan senyuman dingin.


Mendengar itu, aku hanya tersenyum kecil.


Seperti nya akan ada sesuatu yang menarik.


Meski begitu, aku harus membantu Felix dan lainnya untuk menghindari psikopat itu.


"Semua nya, Ayo berlari lebih cepat!"


"Baik," jawab Cindy.


"Oi, ini sudah kecepatan maksimal!" jawab Felix dengan nafas yang terengah-engah.


Sesaat kemudian, Jung Wo menoleh kebelakang dengan kedua alis yang dinaikkan nya.


Melihat itu, aku pun tahu bahwa Jung Wo menyadari aura pembunuh dari Jeriko.


Meski aku sudah mengatakan itu namun, kabut menutupi pandangan kami hingga membuat aku terpisah dengan Cindy dan Felix.


Menyadari itu, aku sontak menghentikan langkah dan harus menyusulnya jika tidak mungkin mereka bisa mati.


Jung Wo yang melihat ku berhenti, dia juga berhenti. "Rizal, ada apa?"


"Kita terpisah dengan Cindy dan Felix. Aku harus menyusulnya." Aku melihat kearah Jung Wo. "Kak Jung Wo, kamu pergi saja dahulu nanti aku menyusul."


Jung Wo pun sontak mengerutkan keningnya, "Rizal, aku merasakan aura pembunuh yang besar. Lebih baik jangan kesana! Kalau tidak kamu bisa mati!"


Aku pun tersenyum kecil, "Aku tahu. Tenang saja, aku pasti akan menyusul mu."


Mendengar itu, Jung Wo menghela nafas panjang.


"Seperti nya, aku tidak bisa menghentikan mu. Kalau begitu, aku duluan dan kutunggu di garis finish!"


Aku pun mengangguk kepala dan tersenyum, "Iya."


Setelah itu, Jung Wo melanjutkan lari nya dan aku menyusul Cindy serta Felix.


...****************...