
...Bab 77. Kerusuhan di Klub Malam....
Saat ini aku sedang berada di klub malam dan ada anak orang kaya yang sedang menganiaya tetangga ku, Rachel.
Melihat itu, aku tidak tinggal diam dan melawan perlawanan dengan menendang salah satu pengawal yang memaksa minum minuman keras kepada Rachel.
Buk!
Pengawal yang memaksa Rachel minum melayang jauh lantaran aku menendang nya dengan keras.
Tindakan ku itu membuat seluruh perhatian tertuju kepada ku terutama Rachel yang melihat ku dengan berlinang air mata.
"Kalian terlalu berisik!"
Saat melihat ku, para pengawal sontak terkejut. "Hu-Hunter Rank S, Rizal."
Sampai salah satu pengawal mengerti dan memberikan saran kepada Tuan nya.
"Tuan muda, Ini sudah larut. Kita harus pulang!"
Achiruddin pun cukup tidak menerima saran itu dan dia beranjak diri lalu, memukul kepala pengawal nya.
"Diamlah! Memang kau siapa sampai menyuruhku seperti itu! Cepat habisi dia! Aku tidak peduli jika dia rank S karena dia hanya seorang diri!"
Karena pengawalnya ini seorang Hunter Rank C jadi serangan itu hanya menimbulkan luka kecil namun, dia menatap kesal dengan tuan muda nya tersebut.
"Sungguh naif. Baiklah, jika kalian ingin berkelahi."
Lalu, semua mengawalnya mengepung ku.
"Aku juga ingin tahu seberapa kuat Hunter Rank menghadapi 8 Hunter Rank C," ucap sombong salah satu pengawal.
Aku pun tersenyum kecil seraya memasukkan kedua tangan ku kedalam saku celana.
"Majulah!"
Disisi lain, beberapa pelayan dan sang manager membantu Rachel.
"Hunter Rizal, Terimakasih," ucap Rachel.
"Rachel, aku akan membawa mu ke ruang istirahat!" ucap manager.
"Terimakasih, manager."
Lalu, beberapa pengunjung juga memberikan komentar nya.
"Mereka sangat berani menantang Hunter Rank S."
"Hei, kau tahu kenapa mereka berkelahi?
.....
Sesaat kemudian, para mengawal memulai serangan nya namun, gerakan mereka yang lambat membuatku dengan mudah menendang mereka dan membuat nya terpental.
Setelah itu, salah satu pengawal cukup percaya diri maju menantang ku.
"Hunter Rank S memang kuat tapi, aku berbeda dari yang lain nya."
"Oh, begitu kah."
Dengan senyuman lebar, pengawal itu sontak meminum pil merah dan membuat memiliki aura yang lebih kuat serta dia yang memiliki sihir api sontak menyelimuti tangan nya.
Dan, saat melihat pil itu. Aku jadi teringat akan Hunter Rank B, Angga yang juga mengkonsumsi pil yang sama.
Mungkinkah pil itu membantu meningkatkan jumlah energi sihir?!
Sesaat kedua tangan nya diselimuti api, pengawal itu sontak berlari menyerang ku.
"Hiyaaa! Terima ini!" seru pengawal seraya melesatkan pukulan api.
Namun, aku tidak menghindari nya dan diam ditempat. Lalu, memukul dada nya meski begitu aku tidak terluka dan bergerak sedikit pun.
"Cuma ini?" ucap remeh ku.
"Naif. Semenjak aku menjadi Hunter, tidak ada monster atau musuh yang bisa menghadapi ku," jawab pengawal.
Seusai mengatakan itu, sebuah fire pilar terbentuk dan menyerang ku meski aku diselimuti oleh api namun, sihir protect Saito bisa melindungi ku tanpa diketahui nya.
Akan tetapi, pengunjung di klub itu menjadi panik.
"Aa! Ya ampun, dia bakal mati terbakar!"
Sesaat kemudian, aku melangkah keluar dari api pilar dengan santai serta tangan yang masih didalam saku celana.
"Cuma ini kah?"
Melihat ku tentu membuat Hunter rank C itu terkejut, "Apa?! Bagaimana bisa?"
"Sekarang, giliran ku!"
Lalu, aku pun mengunakan Shadow Step hingga membuat aku tiba dibelakang Hunter rank C dalam sekejap dan sontak mengkhop leher belakang Hunter itu hingga membuat nya pingsan.
Tuan dari Hunter itu, Achiruddin terkejut melihat nya.
Setelah pertarungan itu, aku melihat kearah Achiruddin.
Yang mana, Achiruddin hanya tengah duduk. Dia melihat ke arah sekitar nya dan menjadi panik lantaran pengawal yang lain sudah melarikan diri terlebih dahulu.
"Ya ampun. Para Bjingan ini, mereka kabur cepat sekali." Achiruddin melihat kearah ku, "Tuan Hunter Rank S. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Berapa banyak uang yang anda ingin kan, saya akan mengirimkan nya sekarang?!"
Lalu, aku pun menghampiri nya dan memegang bahu kanan Achiruddin serta membisikan nya.
"Kamu terlalu berisik. Cukup pergi dari sini!"
Disaat yang bersamaan, sistem memberitahu sesuatu.
[Telah terdeteksi kemampuan baru.]
[Rank Grand Master.
Nama: Extra Life.
Rincian: Skill ini memiliki kemampuan menghidupkan pengguna skill satu kali.
Penilaian: Anda tidak perlu takut mati lagi. Tapi, jangan berlebihan! Dan, dia belum mengetahui kemampuan nya.]
Memahami itu, aku sontak mencuri kemampuan nya tanpa diketahui.
"Ba-Baik!" seru panik Achiruddin.
Lalu, dia secara tergesa-gesa melarikan diri meninggalkan klub malam.
Setelah itu, aku menoleh kearah kerumunan yang melihat sekeliling untuk mencari Rachel namun, dia sudah tidak ada.
"Dimana dia?"
Tidak lama kemudian, seorang gadis yang memakai stelan jas datang menghampiri ku bersama Kelvin.
"Saya selaku manager disini mengucapkan terimakasih, Tuan Hunter Rizal. Anda telah membantu kami menyelesaikan kegaduhan ini," ucap sang manager seraya menundukkan kepalanya dan beberapa pelayan lain nya juga menundukkan kepala mereka.
"Sama-sama. Aku juga tidak suka dengan kegaduhan mereka."
Setelah itu, sang manager dan lainnya mengembalikan posisi badannya.
"Tuan, jika tidak keberatan. Izin kan kami untuk mentraktir anda. Anda bebas memilih minuman apapun," ucap sang manager.
"Terimakasih. Tapi ini sudah larut, Aku ingin Istirahat saja. Mungkin lain kali."
"Baiklah, kami menantikan kedatangan anda kembali," ucap sang manager.
Aku pun tersenyum kecil dan menganggukkan kepala.
Lalu, melihat kearah Kelvin yang mana dia tengah bersenang-senang bersama beberapa gadis dan sikap dia membuat ku menghela nafas panjang.
"Traktir saja dia. Aku mau pulang," ucap ku seraya menunjuk kearah Kelvin.
"Baik, Tuan," jawab manager seraya membungkukkan badannya.
Setelah itu, aku berbalik badan dan pergi keluar ruangan.
Lalu, setibanya diluar terlihat Rachel sedang berdiri dan menatap langit malam didekat pintu masuk yang mana dia sudah berganti baju dari sebelumnya.
"Rachel?" sapa ku.
Mendengar itu, Rachel sontak menoleh kearah ku dan tersenyum kecil seraya berjalan menghampiri ku.
"Kak Rizal, anda sudah mau pulang?"
"Iya, seperti yang kamu lihat. Oiya, kenapa kamu masih disini? Aku pikir sudah pulang terlebih dahulu."
Rachel pun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku menunggu kakak."
"Kenapa menunggu ku?"
Rachel pun sontak menundukkan kepalanya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, Terimakasih. Kak Rizal sudah membantu ku."
"Iya, sama-sama. Aku juga tidak suka terhadap orang itu apalagi melihat dia menganiaya mu."
Rachel pun mengambil posisi badannya dan tersenyum kecil seraya merapihkan poni ke atas telinga nya.
Karena ini sudah larut, aku pun terpikir sesuatu.
"Rachel, apakah kamu mau pulang juga?"
Rachel pun menganggukkan kepalanya, "Iya, manager memperbolehkan ku pulang lebih cepat."
"Naik apa pulang nya?"
"Taksi."
"Karena kita searah, bagaimana kalau aku mengantar mu pulang?"
Dengan senyuman kecil, Rachel menganggukkan kepalanya dan kami pun pulang bersama.