Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 67. Kantor baru, warisan dan kabar Fay



...Bab 67. Kantor baru, warisan dan kabar Fay....


"Repair."


Itulah mantra sihir yang diucapkan oleh Saito yang mana membuat apartemen yang sudah hancur berantakan menjadi utuh kembali seperti sedia kala dalam waktu sekejap.


Sedangkan para Shadow Infantry, Shadow Homunculus dan Shadow Human. Aku tugaskan mereka memangkas rumput dan membersihkan gedung.


Aku melakukan semua itu pada malam itu juga agar tidak terlihat oleh orang umum.


Sedangkan, Kelvin aku tugaskan untuk mencari pengacara yang terbaik untuk mengurus semua harta warisan Li Shen.


Dalam informasi dunia bisnis, Li Shen merupakan pengusaha besar di bidang properti dan kehidupan damai bersama keluarga nya hingga dia pun membuat apartemen nya sendiri di tengah perkotaan. Apartemen itu bernama Saika atau arti dalam bahasa Jepang bunga berwarna-warni.


Dan, seusai nama nya apartemen itu sangat padat baik untuk kantor atau pun tempat tinggal sampai suatu hari terjadi kebakaran hebat di lantai 40 yang merupakan lokasi Penthouse milik keluarga besar Li Shen dan membuat keluarga nya meninggal dunia.


Tidak hanya itu, kebakaran juga menimbulkan banyak korban jiwa hingga puluhan jiwa dan sejak saat itu, apartment Saika ditutup oleh polisi dan dikenal angker.


Namun, di era ini. Hantu tidak begitu menakutkan jika dibandingkan dengan invasi monster.


Keesokan harinya, aku bertemu dengan sosok pengacara terkenal di salah satu restoran mewah. Dia bernama ...


"Senang bertemu dengan anda Hunter Rank S, Rizal!"


Ucap sosok wanita cantik berambut sedang. Penampilan sangat elegan meski mengunakan stelan blazer kantoran dan dia memberikan tangan nya kepada ku.


"Senang juga bertemu dengan anda juga, Bu Miranda," jawab ku seraya menerima tangan nya tersebut.


Kami pun melepaskan tangan dan aku mempersilahkan nya duduk. Sedangkan, Kelvin duduk disebelah ku.


"Baiklah, aku akan langsung ke inti." Miranda pun mengeluarkan beberapa dokumen dan kartu hitam disertai dengan buku tabungan.


"Tuan Rizal, Tuan Kelvin. Aku sudah mengurus semua nya. Emas dengan total 2,5 ton sudah dibeli oleh Golden Company dengan total 5 triliun rupiah dan kartu hitam atas nama Li Shen sudah diganti nama anda, Rizal Purnomo."


Kelvin yang mendengar itu, dia pun sedikit penasaran. "Bu Miranda, berapa jumlah saldo yang diberikan oleh Kakek Li Chen?"


"15 milliar USD atau 225 triliun rupiah."


Kelvin yang mendengar dia pun terkejut, "Wow! Amazing!" Kelvin melihat kearah ku dan memegang kedua bahu ku. "Kak Rizal, Bukan. Ketua, anda sudah menjadi konglomerat sekarang!"


Mendengar itu, aku hanya memberikan senyuman kecil. Lalu, aku beralih ke topik yang lain.


"Aku tidak menyangka kalau kinerja seorang pengacara mengurus uang akan secepat ini."


Miranda pun sontak melipat kedua tangannya dan menghela nafas panjang. "Ketua Rizal, hanya ini yang bisa kulakukan terutama untuk membantu seorang Hunter seperti anda. Karena di era ini kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan dan yang kami takutkan adalah invasi monster mendadak yang membuat kami atau Hunter yang melindungi kami tewas maka dari itu, kami bekerja sebaik mungkin untuk membantu para Hunter saat sedang membutuhkan kami."


"Terimakasih. Baiklah, karena pekerjaan mu yang luar biasa. Aku akan berikan 5 persen dari penjualan emas atau 250 milliar rupiah."


Miranda pun tersenyum kecil seraya melihat ku. "Terimakasih, Ketua Rizal. Anda memang murah hati."


Lalu, aku pun berdiri dan memberikan tangan ku. "Aku harap kedepan nya kita bisa bekerjasama."


Miranda pun juga beranjak diri dan menerima tangan ku. "Iya, aku dengan senang hati akan membantu anda. Panggil saja aku!"


"Iya."


Lalu, Aku dan Miranda pun saling bertukar senyum.


Dan, Guild Eden pun resmi terbentuk berlokasi kan di lantai 40 apartemen Saika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian, ada seseorang yang datang ke rumah ku.


Din! Dong!


Suara bel berbunyi dan aku mendengar ada suara gadis yang tidak asing.


"Kak Rizal, apakah kakak ada didalam?"


Mendengar itu, aku sontak membuka pintu dan terlihat lah Fay dari balik pintu dengan keadaan panik dan kebingungan.


"Kak Rizal, bisakah membantu ku? Bibi tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Tapi ..."


Fay menundukkan kepalanya. "Bisakah kakak meminjam aku uang untuk biaya rumah sakit nya? Apalagi dokter mengatakan bahwa bibi harus di operasi?"


"Memang apa yang dokter katakan?"


"Kanker otak."


"Baiklah, aku akan kesana dan Fay, tolong tunjukkan arah!"


Fay pun mengangkat kepala nya dan tersenyum. "Terimakasih kak."


"Simpan kata itu saat bibimu sudah sembuh!"


Ucapan ku itu membuat Fay sedikit bingung, "Eh?"


Aku pun tidak menanggapi nya lantaran aku ingin mencoba sesuatu yang mungkin akan bermanfaat kedepannya nanti.


Lalu, aku pun mengunakan mobil pergi ke rumah sakit bersama Fay.


Setibanya di rumah sakit, kami dihadapkan dengan bibi Fay yang terbaring dengan masker oksigen dan infus.


Dan, Paman nya Fay menyambut kami.


"Rizal, terimakasih sudah mau datang."


"Sama-sama, paman. Lalu, bagaimana keadaan bibi?"


Paman Fay menoleh kearah istrinya yang sedang terbaring koma, "Seperti yang kamu lihat!" Paman Fay menghela nafas panjang, "Ahufuu ... Kenapa disaat seperti ini aku malah di pecat perusahaan?!" Paman kembali melihat kearah ku, "Maaf, kami tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi?"


"Tidak apa. Paman dan Fay sudah memanggil orang yang tepat."


Tidak lama kemudian, dokter wanita pun datang bersama beberapa suster yang ingin memeriksa bibi nya Fay.


"Selam-" sapaan Dokter itu terhenti disaat melihat ku yang mana dia sontak melangkah menghampiri ku. "Apakah anda Hunter Rank S, Rizal?"


Aku pun tersenyum kecil dan menganggukkan kepala. "Iya, Aku Rizal."


"Wuah ... Senang nya! Bolehkah minta foto?"


"Iya."


Setelah itu, dokter itu selfie dengan ku dan hal itu membuat Fay dan paman nya tersenyum.


"Terimakasih, Hunter Rizal."


"Sama-sama."


"Ngomong-ngomong, Hunter Rizal ada hubungan apa dengan pasien ini?"


"Aku saudara mereka. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi dok?"


Dokter wanita itu menghadap ke bibi nya Fay, "Dia menderita kanker otak. Jadi, dia harus segera di operasi jika tidak, ada kemungkinan dia tidak terselamatkan."


Mendengar itu, Fay sontak menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, "Tidak mungkin."


Sebenarnya, aku bisa saja dengan mudah menyembuhkan nya dengan Elixir namun, aku ingin mencoba sesuatu yang lain.


Lalu, aku berkomunikasi batin dengan Saito.


"Saito, apakah kamu bisa melakukan nya?"


"Saya akan mencoba sebaik mungkin."


Mendengar itu, aku sontak mengajukan diri.


"Dokter, bisakah anda mengizinkan ku untuk menyembuhkan nya?"


Dokter wanita itu sontak terdiam dan dia juga terlihat menelan ludah nya yang mana kuduga dia sedang mengalami dilema antara status ku yang tinggi dengan karirnya namun, dia pun berpikir bijak.


"Iya, Hunter Rizal. Aku izinkan!"