
... Bab 42. Arise dan sambutan di luar Dungeon....
Pertarungan yang cukup berat akhir nya usai dan setelahnya, aku mengembalikan semua pasukan bayangan ke dalam bayangan ku.
Disaat yang bersamaan, beberapa pesan dari sistem pun datang.
Ding!
[Anda telah naik level.]
[Anda telah naik level.]
[Anda telah naik level.]
[Anda telah naik level.]
[Anda mendapatkan 1 job poin.]
Melihat beberapa pesan itu, aku sedikit kecewa karena sistem tidak memberikan hadiah meski begitu, kenaikan level sudah cukup bagiku terutama job poin yang membuat job Shadowmancer ku meningkat.
Lalu, tanpa ragu aku menaikan level Job Shadowmancer ku.
Ding!
[Skill Resurrection telah meningkat menjadi 350.]
[Skill Save Shadow telah meningkat menjadi 175.]
Setelah itu, aku pun memutuskan untuk membangkitkan Raksaka.
"Shadow Extraction."
Ding!
[Anda gagal mengekstraksi jasad.]
Aku pun terkejut saat melihat pesan itu, "Kenapa tidak bisa? Mungkin kah aku terlalu lemah bagimu."
Setelah itu, aku mencoba memakai skill yang lain.
"Resurrection."
Ding!
[Anda telah gagal membangkitkan.]
[Tersisa 1 kali percobaan.]
Melihat itu, aku pun menghela nafas. "Baiklah, jika kamu tidak mau maka aku akan membangkitkan pasukan mu! Apakah kamu tidak ingin menjaga mereka?"
Setelah mengucapkan itu, aku mengalihkan pada jasad Dark Elf yang lain dan mengunakan skill Resurrection kepada semua Dark Elf dan berubah menjadi ras bayangan.
[Shadow Elf Lv. 1 / Rank: Elite.]
[Shadow Elite Elf Lv. 1 / Rank: Elite Knight. ]
Memahami status rank mereka, aku pun merasa wajar bahwa banyak dari mereka kalah oleh pasukan ku maka dari itu, aku memilih;
5 Shadow Elite Elf.
Dan, 10 Shadow Elf.
Yang mana sesaat mereka terpilih, mereka sontak berlutut satu kaki.
"Kedepannya mohon bantuannya!" ucapku kepada para Shadow Elf.
Lalu, aku kembali menghadap kearah Raksaka.
"Raksaka, ini adalah kesempatan terakhir. Apakah kamu mau berjuang bersamaku? Kita kalahkan semua musuh yang menghalangi termasuk suara yang memberikan perintah di kepala mu? Apakah kamu bersedia?"
Seusai mengatakan itu, aku merapalkan skill ku lagi akan tetapi, sistem memberitahu sebuah pesan baru.
Ding!
[Anda mendapatkan Skill Shadow Arise.]
Saat melihat itu, aku sontak melihat keterangan skill yang dimana skill Shadow Arise merupakan skill Resurrection lanjutan yang hanya bisa dipakai untuk membangkitkan peringkat General atau diatasnya.
Memahami itu, aku sontak mengunakan nya.
"Arise."
Sesaat kemudian, sosok jasad Raksaka berubah menjadi hitam dan melebur. Lalu, dari leburan itu keluar sosok Shadow Elf yang memiliki rambut bayang panjang seperti kobaran api dengan badan yang lebih kekar dibandingkan sebelum dan dia pun berubah menjadi ...
[Shadow Elf King Lv. 12 / Rank: General.]
Tidak lama sebuah pesan datang.
Ding!
[Silahkan memberikan nama untuk Shadow Elf King!]
Lalu, aku pun memberikan nama,
"Saka."
Seusai memberikan nama, dia pun berlutut dihadapan ku.
"Master, mulai saat ini saya akan melayani anda."
"Terimakasih, Saka. Kamu sudah mau menemaniku."
"Kemuliaan saya menemani anda."
Tidak lama kemudian, sebuah portal terbentuk didekat ku.
"Ayo kita kembali!"
Aisyah yang mendengar itu, dia pun terheran. "Kembali?"
Lalu, aku dengan senyuman kecil memberikan kode tangan menunjuk kearah portal yang sudah terbuka. "Keluar dari gerbang?"
Memahami itu, semua Hunter bersorak-sorai.
"Akhirnya kita bisa pulang!"
"Horee!"
Melihat kebahagiaan mereka membuat ku tersenyum kecil.
Setelah itu, kami merapihkan diri dan berjalan ke gerbang tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi luar Dungeon, Panji, Arya dan beberapa anggota eksekutif Guild Wijayakusuma masih menunggu dengan cemas.
"Sudah satu jam yang berarti mereka sudah seminggu disana," ucap Arya seraya melihat jam tangannya. Lalu, dia melihat kearah Panji. "Bagaimana kalau ketua pulang saja dahulu? Biarkan kami yang menjaga disini?"
"Bagaimana aku bisa pulang jika anggota Guild ku masih terjebak didalam," jawab Panji.
Sesaat kemudian, Dungeon hijau pun mulai berubah warna biru yang membuat Arya terkejut. "Eh? ... Dungeon Hijau nya terbuka!" seru senang Arya.
"Dungeon nya sudah terselesaikan!" sambung anggota Guild yang lain.
"Lihat! Ada beberapa orang yang keluar!"
Melihat itu, Panji tersenyum lebar karena dia yakin bahwa Ali telah menyelesaikan Dungeon nya.
Lalu, keluar lah para Hunter itu yang disambut oleh eksekutif Guild. "Hunter Aisyah!"
"Hunter Bowo!"
"Mereka kembali!"
"Mereka selamat!"
Dengan tangisan mereka pun keluar.
Dan, dibarisan terakhir Rizal dan Fay yang keluar yang mana Arya tersenyum kecil. "Seperti yang kuduga."
Sesaat Rizal dan Fay keluar, Dungeon pun tertutup sepenuhnya dan menghilang. Hal itu tentu membuat Panik bingung.
"Ali, apa yang terjadi dengan Ali?" tanya Panji.
"Tidak mungkin! Apa hanya mereka yang selamat?" sambung eksekutif yang lain.
Lalu, Aisyah pun angkat bicara dengan menundukkan kepalanya. "Iya, hanya kami."
Mendengar itu, Panji terkejut. "Apa? Kenapa Hunter Rank rendah saja yang selamat? Tidak ada Rank A atau satupun rank B. Sebenarnya, apa yang terjadi?" ucap batin Panji.
Lalu, disamping Panji. Rizal pun mengajak pulang Fay.
"Ayo pergi, Fay! Sudah terlalu malam dan aku akan mengantarmu," ucap Rizal.
Fay pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu, melangkah bersama akan tetapi, Panji sontak memegang bahu Rizal dan bertanya kepada nya.
"Tunggu! Ayo kita bicara sebentar!" seru Panji.
"Saat ini aku lelah, jika ada pertanyaan. Tanyakan saja kepada anggota Guild mu!" ucap Rizal seraya melepaskan tangan Panji dari bahu nya.
Melihat sikap Rizal, Panji pun merasa kesal. Lalu, dia meraih lagi bahu kanan Rizal.
"Aku Panji, Guild Master dari Guild Wijaya Kusuma," Panji mengeluarkan aura intimidasi yang kuat. "Kami sudah kehilangan sembilan anggota karena kejadian ini sebagai Guild Master, bukan kah aku berhak bertanya kepadamu?"
"Apa urusan ku?" Rizal juga mengeluarkan aura intimidasi nya. "Aku juga sudah menyelamatkan empat anggota mu. Kalau kau Guild Master, harus nya kau berterimakasih dahulu kepada ku, bukan?"
Panji melihat tatapan Rizal itu membuat nya mengalah. "Benar juga. Terimakasih, Hunter Rizal."
Tanpa ada bahasa Rizal bersama Fay masuk ke mobil dan pergi meninggalkan lokasi.
Lalu, Panji pun menghampiri Aisyah yang mana Aisyah sedang beristirahat.
"Aisyah, apakah benar dia yang telah mengalahkan bos Dungeon?" tanya Panji.
"Iya, ketua. Dia ... Hawkeye, sang Summoner monster bayangan. Namun, sebenarnya dia meminta kita untuk merahasiakan nya."
Mendengar itu, Panji mengerutkan keningnya. "Jadi, dia sungguhan Hawkeye. Menarik! Baiklah, aku juga akan merahasiakan nya."
Sesaat kemudian, Arya datang dan mencoba menenangkan ketua nya.
"Maaf, Ketua. Mungkin karena dia lelah jadi sikap nya kurang nyaman namun, sebenarnya dia orang yang baik," ucap Arya.
"Tidak, bukan itu masalahnya. Kenapa kamu belum merekrut nya? Lakukan secepatnya!"
"Baik, ketua."
Ditempat yang berbeda, Rizal sudah tiba didepan rumah Fay dan dia menghentikan laju mobil nya.
Lalu, sebelum keluar dari mobil. Fay menoleh kearah Rizal. "Kak Rizal, terimakasih. Pengalaman ini pasti akan kuingat."
"Maaf, seharusnya aku membawa mu ke Dungeon yang aman," jawab santai Rizal.
Fay pun menggelengkan kepalanya. "Tidak apa. Ini juga merupakan pengalaman yang menarik."
"Syukurlah jika kamu senang," jawab Rizal.
Lalu, Fay dan Rizal saling bertukar senyum dan tidak lama, Fay pun keluar dari mobil. Setelah nya, Rizal melajukan mobilnya sampai ke rumah nya dan beristirahat disana.