
...Bab 106. Blinking Rune dan kembali ke rumah....
[Master, apakah anda tidak ingin keluar dari Tower Of Trial untuk mencari udara segar?]
Mendengar itu, aku sontak bangun dari rebahan.
"Keluar dari Tower Of Trial?! Benarkah? Apakah kamu bisa melakukan nya?"
[Bisa.]
"Bagaimana cara nya?"
Ding!
[Saya sarankan Master membeli Rune Teleportasi. Semakin tinggi peringkat nya akan semakin baik dan setelah nya, saya akan mengunakan Unlock agar kemampuan Teleportasi mampu mencapai limit breaker.]
"Oh, begitu. Baiklah."
Setelah mendengar pengarahan itu, aku sontak membuka menu Market yang mana saat ini aku memiliki 127.800 Tower Poin dan 2 Free Voucher dengan kedua hal itu aku rasa cukup untuk membeli Rune Teleportasi.
Saat mencari di Market, ada beberapa jenis Rune Teleportasi seperti Teleportasi jarak dekat, gerbang bahkan Steal. Meski begitu, aku tidak tertarik sampai ada salah satu Rune peringkat A yakni Blinking Rune.
Yang dimana, Blinking memiliki Teleportasi ruang antar batas baik untuk penggunaan, berkelompok atau benda namun, Rune ini memiliki nilai tukar yang luar biasa yakni 100 juta Tower Poin.
Meksi begitu, aku beruntung karena memiliki Free Voucher hingga jatuh diskon 100 persen.
Lalu, tanpa ragu. Aku membeli nya.
Ding!
[Anda mendapatkan Blinking Rune.]
Melihat pemberitahuan itu, aku tersenyum senang.
"Baiklah, aku akan langsung mencoba nya."
Namun, sebelum itu ...
"Lunox, tersisa berapa jam untuk Trial lantai 5?"
Ding!
[Trial lantai 5 akan dimulai 23 jam 20 menit 7 detik.]
Lagi-lagi aku tersenyum senang karena dengan ini aku masih memiliki waktu yang cukup banyak.
Dan, tanpa ragu aku mengunakan Blinking Rune.
Cara kerja nya sederhana, aku cukup membayangkan lokasi yang dituju dengan menutup mata dan setelah jelas terbayang, aku cukup merapalkan ...
"Blink."
Sesaat kemudian, hawa ku merasa dingin disertai angin.
Menyadari hawa itu, aku pun membuka matanya dan pandangan ku telah berubah di tepat depan rumah ku.
Aku sontak tersenyum senang dan bersorak pelan. "Yey, aku berhasil dan dengan ini aku bisa pergi sesuka hati."
Setelah itu, aku pun masuk kedalam rumah yang dimana sontak aku disambut oleh udara pengap dan debu.
Melihat itu, aku jadi penasaran sudah berapa lama ku pergi?
Lalu, aku pun melangkah ke jam meja duduk yang disertai dengan tanggal yang mana jam itu menunjukkan pukul 10.30 WNIB dan sudah berlalu satu minggu.
"Padahal baru satu minggu.Tapi, aku merasa sudah satu bulan lebih."
Sesudah memahami itu, aku pun memutuskan untuk membersihkan rumah dan menyantap makanan yang ku rindukan yakni ...
Mie instan.
Sambil makan, aku secara spontan menyalakan televisi yang mana sebelumnya stasiun televisi belum aktif kini sudah normal kembali.
Dan, sesaat menyalakan televisi. Aku langsung melihat berita yang memberikan kabar bahwa museum nasional telah berubah menjadi Dungeon merah.
Melihat berita itu, aku jadi teringat akan waktu yang sebelumnya dimana pada penaklukan Dungeon museum nasional. Para Hunter akan banyak menimbulkan korban jiwa terlebih lagi ada saksi yang menyatakan bahwa Dungeon museum nasional bukan lah Dungeon monster melainkan gudang artefak dan beberapa Hunter disana, saling berebutan untuk mendapatkan artefak yang diinginkan.
Saat mengingat itu, aku sontak mengambil inisiatif.
"Aku tidak mau melewatkan kesenangan ini," ucap ku dengan senyuman lebar.
Lalu, seusai makan. Aku pun pergi kesana dengan mengunakan Blinking hingga tiba di lokasi dalam sekejap.
Dan, setibanya disana. Aku disambut oleh kubah besar berwarna merah yang menyelimuti museum nasional.
Pada normalnya, siapapun tidak bisa masuk kecuali kelompok pertama dan beberapa orang sebelum Dungeon berubah warna. Ini terlihat banyak nya orang yang hadir didepan kubah salah satu Juan beserta beberapa rekan nya.
Melihat kondisi itu, aku mencari tempat yang sepi. Lalu, memegang kubah merah tersebut.
Ding!
[Dimengerti!]
[Unlock in Proses .... Selesai.]
Sesaat kemudian, terbentuk lingkaran biru diantara kubah merah dan aku pun masuk kedalam Museum.
"Sekarang, mari kita lihat para psikopat didalam."
Setibanya didalam, aku langsung disambut oleh bau gosong dan jasad manusia yang sudah terbakar habis.
Seperti nya kuduga, Hunter di yang sudah tiba di sini pasti berubah menjadi tidak waras.
Lalu, aku pun melanjutkan langkah kedalam seraya menganalisa.
Waktu itu, aku mengira manusia sudah bisa beradaptasi dengan cepat hingga mampu mengembalikan kondisi dunia dalam satu tahun namun nyatanya tidak.
Semua korban Dungeon belum tentu diserang dan dibunuh monster karena ada kemungkinan itu ulah sesama Hunter namun, asosiasi Hunter menyatakan penyebab kematian nya berasal dari serangan monster.
Terlebih lagi ditempat ini yang mana diwaktu sebelumnya dari 20 Hunter yang masuk kedalam Dungeon hanya 2 Hunter yang berhasil keluar dan kesaksian dari dua hunter itu mereka diserang monster. Lalu, Asosiasi percaya kepada mereka.
Dan, sampailah aku ditengah hal yang langsung disambut oleh keributan para Hunter dan pecahan beberapa pusaka.
Prang!
"Dasar Bjingan!"
"Lepaskan ini milik ku!"
"Lepaskan, Bjingan!"
"Bdebah!"
...
Tidak lama kemudian, ada seorang Hunter yang berteriak. "Semua nya Diam!"
Mendengar itu, semua Hunter terdiam dan teralih pada sumber suara teriakan itu yang mana teriakan itu berasal dari pria bertubuh kekar dengan kalung emas serta tato di lehernya.
"Mulai sekarang, siapapun yang bergerak akan mati ditangan ku," ucap pria bertato.
Meski ada ancaman itu, semua Hunter tidak takut akan hal itu.
"Omong kosong!" ucap Hunter lain.
"Tidak ada seorang pun yang akan takut dengan ancaman kosong mu itu! Sebaliknya, jika kau bergerak satu jari pun. Aku akan memukul kepala mu!" sambung Hunter yang lain.
Pria bertato itu pun sontak marah dan mengeluarkan skill nya.
"Bdebah, kalian! Seperti nya dengan kata-kata, kalian tidak akan mengerti," seru pria bertato seraya mengadukan tangan nya sendiri dan sesaat kemudian, tangan nya itu berubah menjadi besi hitam pekat.
Para Hunter lain sontak takut kepada nya,
"Di-Dia sudah Awakening!" seru panik Hunter wanita.
"Sial! Dia sungguh berbahaya," sambung Hunter sebelumnya.
"Peta itu, milik ku! Minggir!" seru marah pria bertato.
Mendengar itu, aku sontak melihat sebuah peta Indonesia yang dimana Lunox memberitahu sesuatu yang berbeda.
[Hidden Dungeon map.]
Melihat itu, aku menyadari bahwa benda seperti itu memang pantas diperebutkan. Namun, aku memiliki pemikiran yang berbeda.
"Lunox, apakah kamu bisa menyalin nya?"
Ding!
[Bisa. Dengan syarat, Master harus menyentuh peta itu.]
"Ah, itu masalah yang mudah."
Lalu, aku pun melangkah menghampiri peta dan disaat yang bersamaan, seorang wanita memotong pembicaraan.
"Peta nya milik mu? Heh ... Aku tidak setuju dengan itu."
Suara wanita itu pun tidak asing ditelinga ku maka aku sontak menghentikan langkah dan menoleh kearah sumber suara yang mana ucapannya itu dilontarkan dari Fransiska.
"Eh? Fransiska? Ternyata dia mengincar Artefak juga."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...