Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 52. Master of Undead



...Bab 52. Master of Undead...


Setelah beberapa langka, kami pun tiba di ruangan bos Dungeon yang mana disambut oleh ruangan terbuka yang luas.


Sebuah bukit tandus yang berisikan ribuan Undead dengan berbagai jenis termasuk High Zombie yang berisikan ratusan.


"Setidaknya ada ratusan. Tidak mungkin ribuan Undead disini," gumam Atha seraya melihat sekeliling nya.


Melihat itu, wajah Atha dan Hunter lain nya memucat dalam sekejap.


"Jika Undead sebanyak ini berhasil melarikan diri dari Dungeon, maka …." gumam Gadis Healer yang ketakutan sendiri.


Memang tidak ada salah dari ucapan nya lantaran gerombolan yang cukup besar akan bisa menghancurkan sebuah kota kecil, bahkan sebelum para Hunter top memiliki kesempatan untuk mengalahkan mereka.


Keringat dingin mengucur dari punggung Atha,


"Paling tidak, kita harus melenyapkan bosnya," ucap Atha yang meyakinkan dirinya.


Lalu, kami diarahkan oleh Lich ke depan kursi tahta yang mana Lich itu memiliki penampilan yang mewah terlihat dari jubah hitam yang memiliki garis emas disertai cincin dan kalung yang dikenakannya serta tudung hitam yang menutup kepalanya.


"Jadi, dia kah bos nya ..." ucap Atha seraya mengerutkan keningnya dan mempertajam pandangan nya.


Selain itu ada juga empat penjaga yang memiliki sikap waspada yang berdiri di sekitar bos, dia juga merasakan aura yang agak tidak menyenangkan.


Penjaga itu terlihat mereka berasal dari jasad Orge yang terkenal kuat dalam kemampuan fisik nya. Tidak hanya itu, Undead Orge juga memakai baju zirah dan senjata.


Menyadari itu, keyakinan para Hunter yang dibuat oleh Atha runtuh saat melihat sosok nya.


"Ini tidak bagus."


"Bisakah tim penyerang melewati penjaga itu dan membunuh bos Dungeon dalam satu gerakan?"


Terlihat dari ekpresi nya, semua Hunter memikirkan hal yang kira-kira sama.


Lalu, para Hunter berhenti di depan Lich.


Ketegangan tak berwujud tertentu mengalir di antara para Undead yang mengelilingi para Hunter saat mereka menjaga jarak tertentu.


"Manusia, selamat datang!" sapa bos Dungeon.


Mendengar itu, para Hunter saling bertukar pandang dan bergumam.


"Segera setelah Atha memberi kita sinyal!"


"Kami menyerang bersama-sama."


"Bidik inti Lich, apapun yang terjadi."


Dengan percaya diri, para Hunter menyusun strategi namun, semua kandas saat tiba-tiba udara di sekeliling kami berubah menjadi mencekam.


Menyadari aura itu, aku dan para Hunter sontak mengalihkan pandangan nya pada Bos Dungeon yang mana dia sudah melepaskan tudung kepala nya dan memancar aura yang meledak-ledak tidak terkendali.


Dan, hal itu membuat para Hunter terbujur kaku.


"O-oh Tuhan."


“Bagaimana bisa kekuatan sihir sebesar ini?”


“Kita, kita harus melawan sesuatu seperti ini?!”


Keputusasaan, ratapan, dendam, bahkan penyesalan. Lich memberikan semua aura itu kepada kami.


“Apakah kamu takut padaku, manusia?” ucap bangga Lich.


Atha menggigit bibir bawahnya, keras, dan mengambil langkah maju yang sulit sebelum mengajukan pertanyaan.


"Kenapa kau memanggil kami ke sini? Prajuritmu sudah cukup untuk membunuh kami di sana."


"Ini untuk hiburan," jawab santai Lich.


“Apa?” kaget Atha yang sontak terkejut.


"Apakah Kami dibawa ke sini hanya untuk tujuan itu?" gumam Fransiska.


“Sementara kita menunggu waktu yang tersisa, aku akan membunuhmu satu per satu dan menghibur para prajurit!” sambung Lich.


"Waaaa!!" seru seluruh Undead yang meraung gembira.


Seluruh Hunter menjadi mental down dan putus asa oleh Lich dan raungan itu bahkan salah satu dari mereka ada yang menangis.


Seusai mengatakan itu, Lich melihat kearah ku. "Namun ... Aku melihat ada makhluk aneh bercampur di antara kalian, manusia."


Menyadari tatapan nya, aku pun menatap balik.


Menyadari tatapan Lich teralih pada yang lain, dan saat itu, Atha melihat kesempatan.


“Sekarang!!”


Atha berseru sekuat tenaga seraya menghunus pedangnya dan bergegas keluar dari barisannya akan tetapi, Hunter yang ada dibelakang nya terdiam kaku dengan keringat dingin dan tidak pengikut perintah Atha seperti sebelumnya bahkan dia tidak mendengar suara hingga membuat nya menoleh kebelakang yang mana rekan nya tidak bergerak sama sekali.


Walau begitu, Atha tidak bisa menghentikan langkahnya meski resiko kematian lebih cepat.


Lalu, pandangan nya kembali kedepan dan melesatkan serangan ke arah Lich.


Meski begitu, Lich dan para penjaga tidak ada yang bereaksi seakan-akan menunggu serangan itu sampai kepada nya.


Tanpa mempedulikan itu, Atha tetap melancarkan serangannya.


"Hiyaaa!" seru Atha seraya melompat dan mengayunkan pedang nya.


Tapi, saat hendak mengayunkan kearah Lich terlihat perisai transparan hingga membuat nya terlempar dan jatuh ke tanah.


"Sepertinya kita memiliki sukarelawan pertama kita," ledek Lich.


Bersamaan dengan kata-kata mengejek itu, tiba-tiba tubuh Atha terangkat ke udara.


Dan, inilah yang disebut sihir Gravitasi.


Setelah tubuh Atha diangkat tinggi oleh Sihir Gravitasi milik Lich, dia melanjutkan nya dengan menjatuhkan mengunakan percepatan gravitasi hingga terbanting ke tanah dengan keras.


Penghiburan Lich itu bahkan membuat Atha tidak punya waktu untuk menggeliat kesakitan saat dia diangkat ke udara lagi dan Lich melakukan nya berulangkali.


Hal itu membuat Lich tertawa senang.


Ketika Atha mendarat di tanah untuk keempat kalinya, dia memuntahkan darah dari mulut nya.


Lalu saat para Hunter melihat pemandangan itu, mereka sontak menjadi semakin pucat dan tidak ada dari mereka yang berani melangkah maju untuk menghentikan itu.


"Kak Atha?" gumam pelan Gadis Healer dengan kaki yang gemetar saat melihat keadaan Atha.


Sesaat kemudian, Lich mengangkat Atha di udara untuk kelima kalinya. Meski begitu, Atha masih tersenyum dan memandang remeh Lich.


"Kamu benar-benar serangga yang tangguh?"


Memahami itu, Lich semakin kesal dan dia mempercepat proses jatuh dan naik nya sampai Atha terbaring lemas dengan mata yang masih terbuka.


Melihat itu, aku terpaksa ikut campur meski dengan resiko kemampuan ku di ketahui banyak orang.


Tanpa membuang waktu lagi, aku melompat dan meraih Atha sebelum sampai di tanah dan jangkauan dari benang sihir gravitasi nya.


Disaat yang bersamaan, Lich terkejut lantaran sosok Atha yang menghilang di udara dan saat menoleh kesamping, dia melihat ku meski begitu, aku tidak mempedulikan nya.


Karena saat ini, aku sedang membaringkan tubuh Atha dengan hati-hati yang mana saat itu, Atha masih tersadar meski badan nya tidak bisa di gerakkan.


Namun, aku melihat dia masih bisa merespon saat melihat ku. Maka dari itu, aku bertanya kepada nya.


"Ketua Atha, aku ingin menanyakan sesuatu kepada mu."


Atha pun memberikan respon dengan mengerutkan keningnya.


“Apakah tidak apa-apa jika aku membunuh semua monster di sini?”


Dengan nada yang terbata-bata, Atha pun bertanya "Kamu ... Apa yang kamu ..."


Melihat ku, Lich mengerutkan kening dan memberi isyarat dengan dagunya, dan salah satu penjaga mengayunkan kapak dan berlari ke tempat ku berada.


Menyadari itu, aku sontak menoleh kebelakang dan terlihat disana salah satu penjaga Lich sudah mengangkat senjata nya diatas ku.


Mengetahui itu, aku sontak mengambil Greed dalam bentuk pedang dan melemparkannya secara memutar sehingga membuat kepala Undead Orge itu terputus dan jatuh.


Lalu, Greed kembali ke tangan ku.


Lich yang melihat peristiwa itu, dia pun terkejut. "Apa?!"


Tidak hanya Lich, para Hunter juga tidak bisa menyembunyikan keheranan mereka.


Setelah pengganggu disingkirkan, aku bertanya sekali lagi kepada Atha.


"Ketua Atha, Apakah aku diizinkan untuk membunuh mereka semua?"


Lalu, Atha pun menitihkan air mata dan menjawab.


"Tolong! Aku mohon! Lakukan sesuatu!" pinta Atha dengan tangisan.


"Serahkan kepada ku!"


Lalu, aku pun bangkit berdiri dari jongkok ku dan menghadap Lich.


"Untuk manusia yang sangat sedikit, kamu memiliki beberapa keterampilan yang menarik, bukan?" sindir Lich.


Disaat mengatakan itu, Lich memberi isyarat, untuk para Undead dan mereka dengan cepat mengepung ku.


"Beberapa trik mungkin akan membuatmu terhibur?" jawab ejek ku tehadap Lich tersebut.


Setelah itu, aku pun memanggil pasukan bayangan terbaik ku.


"Pasukan terbaik ku keluar lah dan mari kita berpesta!"