Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 43. Hadiah Panji, Peningkatan dan Yogyakarta



...Bab 43. Hadiah Panji, Peningkatan dan Yogyakarta....


Beberapa hari kemudian dan sejak keluar dari Dungeon Hijau, aku memutuskan untuk beristirahat dan latihan rutin sebagai aktifitas ku.


Dan, saat makan di kedai makan. Aku melihat berita tentang konferensi pers yang dilakukan ketua Guild Wijaya Kusuma, Panji yang mana dia menjelaskan bahwa insiden Dungeon Hijau merupakan kecelakaan murni dan tidak ada pihak luar mana pun yang membantu.


Saat melihat itu, aku pun hanya tersenyum kecil dan merasa lega karena ku pikir Aisyah dan teman-temannya akan memberitahu identitas ku.


Ternyata pemikiran ku salah, saat melihat Panji dan beberapa anggota nya datang ke rumah ku dengan mobil sedan mewah nya.


Hal itu membuat ku menghela nafas panjang.


"Selamat siang, Rizal!" sapa Panji.


Arya yang ada disamping Panji tersenyum.


"Selamat siang juga Kak Panji! Mari masuk!"


Setelah itu, aku pun mengajaknya masuk dan duduk di ruang tamu. Lalu, aku menyuguhi mereka teh dan beberapa biskuit yang ku miliki.


"Maaf, suguhan nya hanya ini."


"Tidak masalah. Lagipula kami tidak lama," jawab Panji.


"Jadi, ada apa sampai ketua Guild Wijaya Kusuma kemari?"


"Kami ingin memberikan ini ..." jawab Panji seraya menunjukkan cek sejumlah 5 milliar di atas meja.


"Apa maksudnya ini?"


"Aku dengar kamu disewa oleh Arya untuk membantu dan menjaga Hunter pelatihan. Lalu, dari yang kudengar dari Aisyah. Kamu tidak hanya melindungi, kamu memberikan pasokan persediaan, memberikan akomodasi bahkan membunuh bos Dungeon. Apakah menurut mu jumlah ini kurang?"


Mendengar itu, aku tersenyum kecil dan mengambil cek tersebut. "Ini sudah lebih dari cukup."


"Satu hal lagi ... Apakah kamu tertarik untuk masuk kedalam Guild Wijayakusuma?"


Aku pun menghela nafas panjang, "Tidak terimakasih, aku tidak ingin menyusahkan dan merepotkan Guild lagi. Lagipula, aku tidak ingin bergabung Guild manapun lagi."


Panji pun menatapku dan tersenyum. Lalu, dia beranjak diri dari kursi dan memberikan tangan nya. "Aku harap kedepan nya, kita bisa bekerjasama."


Melihat itu, aku beranjak diri dan menerima tangan nya. "Iya. Jika perlu bantuan, katakan kepada ku."


Setelah itu, aku dan Panji saling bertukar senyum. Sesudah nya, mereka pun meninggalkan rumah ku.


Seusai itu, aku pun meningkatkan status dengan poin yang tersimpan sejumlah 15 poin yang ku alokasikan pada strength dan Agility.


[Nama: Rizal Purnomo | Lv.43


Job: Shadowmancer Lv. 11


Title:


• Goblin Slayer.


• Insect Slayer.


• Lord of Shadow


• Wolf Slayer.


HP: 4.800 | MP: 2.600


Fatigue: 0 %


Strength: 120 (+20) | Vitallity: 74


Agility: 128 | Intelligence: 67


Sense: 68


Status Poin: 0]


Melihat itu, aku cukup puas akan tetapi aku juga sadar saat melawan Raksaka, kemampuan ku masih kurang dan jika bertarung satu lawan satu melawan Raksaka mungkin aku akan kalah dan mati.


Maka dari itu, aku memutuskan untuk pergi ke Green Dungeon.


Dalam keterangan, Green Dungeon berlokasi kan di bringin kembar, Yogyakarta karena alasan itulah aku pergi ke sana dengan mengunakan pesawat terbang dengan kelas pertama.


Setibanya disana, aku disambut oleh udara yang berbeda daripada di kota Metropolis Jakarta.


Tidak lama kemudian, salah satu supir taksi menghampiri ku.


"Iya. Kita pergi ke hotel dekat alun-alun."


"Yang mewah atau murah?"


"Mewah."


"Kalau begitu, mari saya antarkan!"


Aku pun menganggukkan kepala dan masuk kedalam taksi dan pergi ke hotel yang direkomendasikan oleh supir taksi.


Dalam perjalanan, supir taksi itu pun mengajak berbincang-bincang.


"Mas, pergi ke Yogyakarta ini ingin berlibur?"


"Iya, aku ingin mencari udara baru, pak."


Mendengar itu, tidak ada salah nya juga aku berlibur dahulu sebelum masuk kedalam Dungeon.


Saat memikirkan itu, aku pun melihat kondisi yang cukup damai meski dunia berubah namun, masyarakat masih bisa beradaptasi dan di kota ini tidak terlihat berbeda dari sebelum kejadian gelombang The Another Moon.


Sesaat kemudian, taksi berhenti disalah satu hotel mewah.


"Terimakasih, pak," ucap ku seraya memberikan ongkos lebih.


"Iya, mas dan kembalian nya ..."


"Sudah ambil saja!"


"Oh, begitu. Terimakasih. Mas!"


Setelah itu, aku turun dari taksi dan masuk kedalam hotel yang cukup besar. Lalu, aku pun memesan kamar dengan kelas VIP lantaran disini dan saat ini, aku ingin memanjakan diri ku sendiri.


Seusai menaruh barang, aku menikmati semua fasilitas di hotel baik kolam berenang, sauna dan makanan mewah. Sore harinya, aku berjalan-jalan di Malioboro menikmati suasana senja disana.


Saat disana, aku teringat akan keinginan dari adik ku, Fira yang mana dia sudah lama berjalan-jalan ke Yogyakarta.


Mengingat hal itu membuat ku menghela nafas panjang.


"Andai saja dia-" ucapan ku terhenti saat aku mengingat kemampuan ku yang mampu menghidupkan orang mati. "Apakah aku bisa melakukan nya, ya? ... Lebih baik, nanti sepulang nya dari sini. Aku akan mencoba nya."


Aku pun mengesampingkan nya dahulu dan kembali ke tujuan awal ku di Yogyakarta ini yakni pergi ke green Dungeon yang berada di beringin kembar, alun-alun.


Malam harinya, aku mempersiapkan diri dan pergi ke sana. Lalu, aku berdiri ditengah antara dua beringin kembar dan mengambil kunci dari Inventori. Setelah nya, aku memutar nya yang mana muncul Dungeon private berwarna Hijau yang menandakan Dungeon ini harus membunuh bos nya.


Meski begitu, aku tetap melangkah masuk kedalam Private Dungeon dan setibanya didalam, aku disungguhi pohon raksasa yang dengan dasar dibawah jurang yang tertutup oleh awan.


Ding!


[Anda saat ini berada di Dungeon Elf Tree.


Misi: Bunuh Bos Dungeon.]


Sesaat kemudian, aku melihat dari kejauhan ada sebuah pintu di sisi depan pohon itu serta jembatan kayu yang menghubungkan pohon dengan bukit tempat ku berdiri saat ini.


Sesaat aku masuk, gerbang pun tertutup sepenuhnya dan aku pun memulai langkah ke jembatan untuk pergi kearah pohon.


Ditengah berjalan diatas jembatan, aku sontak disambut oleh monster lebah raksasa yang terbang disekitar ku. Lalu, mereka pun sontak menyerang ku.


Melihat mereka, aku pun sontak mengunakan Greed dalam bentuk pedang dan mengunakan ....


"Sword Skill. Slash."


Dalam sekejap, semua lebah besar terbelah dan aku pun berhasil melewati jembatan tanpa hambatan yang berat.


Setibanya di sisi jembatan, aku melihat ada pintu besar yang dimana pada tengah pintu terdapat ukiran emas disertai bola merah yang bersinar di bagian bawah tengah pintu.


Selain itu, aku melihat ada sebuah batu yang berisikan tulisan di sisi kanan pintu. Aku yang penasaran sontak menghampiri nya.


Saat melihat tulisan itu, aku pun langsung mengerti meski tulisan nya baru ku lihat. Lagi-lagi kuduga ini berkat sistem yang menerjemahkan nya untuk ku


Lalu, batu itu bertuliskan ...


Ini adalah fasilitas yang dibangun untuk melatih para Elf. Karena itu, keamanan dari Dungeon ini tidak diizinkan untuk masuk. Tidak ada larangan apapun dan peraturan apapun jadi berhati-hatilah! Segala resiko di tanggung sendiri.


Melihat tulisan itu aku pun memahami nya, maka dari itu, aku pun memanggil salah satu Shadow Elf untuk menyentuh bola dan pintu pun secara otomatis terbuka.


Dan, aku pun masuk kedalam nya.