
...Bab 82. Shadow Widow and The Judgement....
Hanya dalam waktu beberapa jam saja, desa terbengkalai di dunia Babylon telah terbangun kembali dan tidak hanya itu, Iris juga melatih mereka dalam seni senjata baik jarak dekat ataupun jarak jauh.
Dan, saat ini aku bisa melihat kemampuan teknik maupun fisik mereka sudah memiliki standar seperti Hunter Rank C keatas meski begitu, mereka memiliki kelemahan yakni mana hingga membuat mereka tidak bisa mengunakan sihir.
Homunculus yang dibuat oleh Mystogan berbeda dengan Homunculus Trazila yang mana Homunculus Trazila memiliki mana serta kemampuan sihir meski begitu, aku cukup senang karena aku memiliki pasukan seperti tentara bayaran dan aku memberikan nama ...
Shadow Widow.
Setelah memeriksa itu, aku pun kembali ke rumah dan mengunakan waktu santai ini untuk memperbaiki pintu serta memisahkan pintu Babylon dengan pintu belakang rumah ku.
Sekembalinya dari Babylon, aku pun makan seraya menonton televisi yang mana televisi menayangkan berita tentang peristiwa Vanish Hunter.
Vanish Hunter sendiri merupakan peristiwa yang dimana seorang Hunter menghilang disaat sedang menaklukkan Dungeon.
Didalam Dungeon sendiri biasa nya seorang Hunter yang tewas didalam Dungeon pasti akan menampakkan jasad nya hingga tim Hunter lainnya bisa mengambil jasad untuk diberikan pemakaman yang layak. Tapi, berbeda dengan Vanish Hunter yang dimana jasad Hunter menghilang namun, diyakini mereka telah tewas.
Memahami peristiwa itu, aku jadi teringat akan vampir yang pernah menyerang ku didalam Dungeon. Ada kemungkinan pelaku dari Vanish Hunter adalah kelompok mereka yang dipimpin oleh Jenderal Sambo.
Jika begitu kebenaran maka peristiwa Vanish Hunter tidak akan pernah terpecahkan.
Dan ini merupakan kesempatan untuk pekerjaan pertama dari Scarlet Shadow.
"Ini akan menjadi pertunjukan yang menarik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat yang tersembunyi terlihat tiga orang Hunter berbadan besar dengan berdiskusi.
"Orang-orang itu, aku tidak paham. Kenapa mereka lebih membunuh senang membunuh monster."
"Benar sekali. Jika kita bisa membunuh player, kita bisa mendapatkan peralatan, senjata dan uang lebih banyak dibandingkan dengan monster.
"Keke ... Aku setuju. Lepas dari itu, mereka sangat mudah dibunuh dan ini memiliki sensasi tersendiri."
Mereka bertiga saling bertukar senyum senang.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil van mendatangi ketiga Hunter tersebut.
Lalu didalam mobil itu, Hunter yang lain berbincang-bincang.
"Kak, siapa sebenarnya bos kita?"
Saat bertanya itu, sang kakak sontak panik.
"Hiichhk!" seru panik sang kakak.
Rekan yang sebelah sontak panik. "Kakak, apa yang terjadi?"
"Dia Jenderal Sambo."
Rekan yang ada didekat nya sontak panik,
"Apa?! Aku tidak menyangka seorang jenderal adalah dalang dari pembunuhan serial ini."
Setelah itu, sang kakak menceritakan bahwa anggota gang yang bersama nya telah tewas dibunuh dan membuat nya hidup seorang diri namun, bukan sebagai manusia melainkan seorang vampir.
Namun, sesaat sang kakak menceritakan itu. Dia pun berubah menjadi vampir dan membunuh semua rekan-rekan nya serta menghisap darah mereka.
"Ka-Kakak, Ampuni nyawa ku! Tolong!" pinta rekan.
Tanpa didengar oleh sang kakak, dia tetap membunuh rekan nya tersebut.
Sesaat kemudian, keluar dari bayang-bayang sosok pria yang mengenakan jubah panjang merah dan topi safari.
"Bagus. Kau lakukan dengan baik. Anak yang pintar dengan ini kita bisa mengumpulkan lebih banyak darah lagi untuk yang mulia."
Lalu, sosok itu menoleh kearah jasad Hunter yang lain. "Ini ulah kalian sendiri tertangkap kamera. Aku tidak ingin yang mulia kecewa kepada ku."
Setelah menghisap banyak darah, sosok vampir berbadan besar memasukan beberapa jasad Hunter yang tersisa kedalam mobil nya dan pergi meninggalkan sosok berjubah sedangkan, sosok berjubah balik badan dan membuka portal kecil untuk berpindah tempat.
"Seperti nya disini tempat yang cocok," gumam Vampire.
Setelah itu, Vampir besar hendak keluar mobil namun, pintu tidak bisa dibuka dan sesaat kemudian, muncul sosok wanita yang mengenakan stelan jas hitam serta kemeja hitam yang sedang menodongkan pistol kedap suara kearah nya. Dia Girl One, salah satu Shadow Widow.
Ciu!
Tembakan tepat mengenai kepala namun, sang Vampir masih bisa bertahan yang mana dia sontak menendang pintu hingga membuat Shadow Widow terpental bersama pintu.
"Bjingan, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa kami?!"
Girl one sontak beranjak diri dan berlari dengan kecepatan tinggi. Setelah itu, menendang sang Vampir.
"Dimana kalian bersembunyi?" tanya dingin Girl one.
Dengan penuh darah, vampir itu bangkit kembali.
"Wanita jlang! Kau pikir bisa membunuh kami?!" ucap vampire seraya melangkah cepat kearah Girl one.
Girl one sontak menembak beberapa peluru dari handgun nya namun tidak berhasil menghalangi nya berlari sampai dia pun tertusuk oleh tulang pergelangan tangan nya berubah menjadi pisau.
"Naif. Kau pikir bisa menghentikan ku dengan senjata kecil itu."
Sesaat menusuk Girl one, sang Vampir terkejut saat melihat darah Girl One berwarna biru.
Melihat kesempatan itu, Girl one sontak mengeluarkan dua pisau dan menusuk leher sang Vampir.
"Gwuahhh!" teriak vampir.
Sesaat kemudian, sebuah tembakan dari jarak jauh melesatkan dan mengenai dada vampir kepala vampir berkali-kali hingga membuat nya melepaskan pegangan Girl one dan mundur beberapa langkah.
"Siapa yang berani menyerang ku?! Tunjukkan dirimu!"
Meski vampir mengatakan seperti itu namun, tembakan itu berada dari Girl Five yang berada di atas gedung berjarak 5 km.
Serangan tidak berhenti di situ, Shadow Widow yang lain yang berada dibelakang Girl one sontak melesatkan lemparan tombak hingga vampir itu tertancap dan mental hingga tombak tersangkut pada dinding serta membuat vampir itu juga ikut tertancap.
"Si-siapa sebenarnya kalian?!"
Tidak lama kemudian, sosok klon Rizal yang lain muncul dengan kode ...
The Judgement.
Dia memiliki tubuh yang tidak begitu tinggi sekitar 165 an yang memiliki penampilan sweater hitam, rambut merah dan bertopeng smile.
"Aku The Judgement, salah satu dari Arcana Scarlet Shadow."
Sang Vampir mengerutkan keningnya dan menatap The Judgement yang sedang melangkah menghampiri nya.
"Apa? Aku bahkan tidak pernah mendengar nya!" ucap vampir seraya melepaskan tombak yang tertancap pada dada dan dia pun mendarat.
Meski begitu, The Judgement sudah berada didekat nya dan melihat sosok nya membuat sang Vampir ketakutan.
"Aku bukan lah seorang petarung melainkan seorang hakim," ucap The Judgement seraya memegang kepala nya.
Setelah itu, The Judgement merapalkan skill nya.
"Abyss Control."
Sesaat The Judgement merapalkan itu, dia pun masuk kedalam pikiran sang Vampir dan memeriksa ingatan nya di alam bawah sadar Vampir. Ini lah kemampuan ketiga dari Abyss Control setelah berhasil di tingkatkan.
The Judgement yang ada didalam bawah sadar Vampir, dia mampu melihat semua lokasi penculikan, proses pembunuhan bahkan pemberian hasil kepada Jenderal Sambo.
Setelah mendapatkan informasi itu, The Judgement mengembalikan kesadaran nya.
"Terimakasih atas informasinya."
Seusai mengatakan itu, The Judgement berbalik badan dan melangkah seraya menjentikkan jarinya untuk menyadarkan vampir namun, sesaat dia sadar kedua Shadow Widow sudah berada didekat nya dan sontak menebas kepala vampir secara bersamaan.
"Terimakasih atas hidangan pembuka nya," gumam The Judgement.