Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 75. Menjelajahi Dungeon



...Bab 75. Menjelajahi Dungeon....


Saat ini aku masih berada di Dungeon Monumen Tugu pahlawan yang mana aku dan Alice sedang melawan Wyvern tanah.


"Blood Spear."


Sesaat merapalkan itu, sebuah tombak merah muncul dan melesat kearah Wyvern tanah hingga membuat nya mati namun jumlah mereka semakin banyak dan berbeda dari Wyvern tanah yang ku lawan sebelum nya.


Lalu, ditengah perlawanan. Kami menganalisa nya.


"Aneh, seharusnya kalau mereka tahu lawan nya lebih kuat. Mereka akan melarikan diri." Aku pun menyadari bahwa ada yang berbeda dari fisik mereka yakni ...


"Aneh sekali? Kenapa Wyvern tanah memiliki bunga di kepala nya?"


Alice yang melihat itu, dia pun tertawa kecil. "Tapi jadi lucu."


"Seharusnya mereka tidak memiliki nya."


Lalu, aku pun teringat akan kejadian beberapa saat yang lalu yang mana Wyvern tanah menginjak taman bunga kecil. "Jangan-jangan bunga itu yang membuat mereka ..."


"Parasite," jawab Alice.


"Iya, aku juga sependapat."


"Jika begitu, pasti ada yang mengendalikan nya."


"Benar, kalau kita tidak membunuh pengendali bunga itu maka kira harus melawan seluruh monster di lantai ini."


Setelah memahami itu, aku mengunakan pasukan bayangan untuk bertarung dengan mereka sedangkan aku bersama Alice pergi meninggalkan lokasi pertempuran untuk mencari tempat aman.


Dan, setibanya di lokasi yang cukup aman. Aku memanggil para Direwolf untuk mencari keberadaan pengendali bunga parasite.


Sampai kami menemukan sebuah lokasi yang dimana ruangan Dungeon itu dipenuhi oleh rumput dan bunga parasite.


Tidak lama muncul serbuk bunga yang keluar dari bunga.


"Mungkin kah ini serangan dari pengendali." Aku sontak menoleh kearah Alice, "Alice Ja-"


Seperti nya ucapan ku terlambat lantaran bunga sudah tumbuh di kepala Alice dan dia sedang meluruskan tangan nya.


"Seperti nya, aku terlambat."


Lalu, Alice melesatkan serangan tombak darah kearah ku namun, Saito dengan sigap melesatkan skill Protect hingga serangan tertahan.


Melihat itu, Alice terus menerus menyerang ku tapi hasilnya sama dan samar-samar aku melihat ada sesuatu dibelakang Alice.


"Aku tahu kamu dibelakang nya. Keluar lah kamu!"


Sesaat kemudian, sosok ras Dryad muncul dengan kepala setengah bunga dan mulut yang lebar.


"Gigigigi ... Kamu manusia yang menarik! Jadi ..." Dryad memegang kedua bahu Alice dari belakang. "Apakah kamu bisa membunuh nya?"


"Aku tidak perlu membunuh nya tapi, apakah kamu bisa melakukan skill mental ku?"


Lalu, aku pun meluruskan tangan ku seraya merapalkan skill.


"Shadow Domination."


Dengan mengunakan skill itu, aku bisa mengendalikan kesadaran dan saat itu terjadi, aku mendominasi nya.


"Alice, Bunuh dia!"


"Baik."


Sesaat kemudian, Alice menciptakan pedang darah. Lalu, dia memutarkan badan nya seraya mengayunkan pedang dan menebas kepala monster itu hingga mati terpenggal.


"Terlalu mudah."


Lalu, aku pun menyadarkan nya yang mana Alice menjadi kebingungan dengan yang terjadi kepada nya.


"Eh? Apa yang terjadi?" Alice menoleh ke belakang dan membuat nya terkejut saat melihat Dryad yang terbunuh oleh nya. "Eh? Aku membunuh nya?"


"Sudah lah tidak perlu di pikirkan," ucap ku seraya menghampiri Dryad.


Lalu, memutuskan untuk mengambil skill nya bukan membangkitkan nya.


"Skill Steal."


[Rank Master.


Nama: Parasite Control.


Rincian: Skill ini memiliki kemampuan mengendalikan target mahluk hidup dengan menanam bibit bunga kepada target.


Penilaian: Anda bisa membuat budak baru. Mungkin, bisa diajak msum. ]


Melihat penilaian itu, aku tersenyum kecil.


Sungguh penilaian yang lucu.


Setelah itu, kami melanjutkan langkah hingga tiba di lantai terdalam yang mana hanya ada pintu besar dengan ukiran emas ditengah.


Memahami pintu itu, aku sangat yakin bahwa ruangan yang ada dihadapan ku merupakan ruangan bos Dungeon.


Namun, sebelum melangkah kami memutuskan untuk beristirahat dahulu dengan makan untuk mengumpulkan tenaga.


"Alice, makan lah! Nanti kita akan berhadapan dengan monster yang jauh lebih kuat."


Alice pun dengan senang menerima nya. "Terimakasih. Tuan, kamu sangat mengerti. Lagi pula aku sudah tidak makan selama 300 tahun lebih. Tapi ... sebenarnya aku tidak begitu suka makanan manusia."


"Kenapa?"


"Karena aku sangat menyukai darah daripada makanan."


"Oh, begitu. Ya ..."


Ucapan ku terhenti lantaran Alice sedang merangkak kearah dan berhenti di jarak yang sangat dekat seraya menjilat bibir nya.


"Eh? Kenapa kamu menjilat bibir begitu?"


Alice berdiri dan tersenyum kepada ku.


"Darah mu sungguh lezat. Rasa yang sudah matang."


Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil.


"Dasar anak yang manja."


Alice pun tersenyum kecil. Lalu, dia mendekat jarak kearah dan memeluk. Setelah itu, mengigit leher dan meminum darah ku.


Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan langkah memasuki pintu besar dengan ukiran emas.


Setibanya disana, kami disambut oleh ruangan besar yang dimana memiliki beberapa pilar yang terbuat dari kristal yang tidak asing yakni ...


"Ini ... Kristal Mana?"


"Apakah itu berharga?" tanya Alice yang sedikit heran.


"Iya, di bumi benda ini sangat berharga."


Sesaat kemudian, di ruangan kami terjadi gempa disertai dengan lingkaran sihir pemanggilan yang besar.


"Seperti kita akan disambut hangat dan dilihat dari ukuran lingkarannya, ini Last Boss!"


Alice yang menyadari itu, dia sontak memeluk tangan kanan ku.


"Tenang saja, Tuan ku. Kita tidak akan kalah!"


"Benar, kita tidak akan kalah!"


Seusai lingkaran sihir terbentuk sempurna, muncul cahaya terang dan memunculkan sosok monster ular raksasa yang memiliki 5 kepala dengan tubuh yang hitam dan berkepala berwarna-warni. Dia ...


[Five Elements Hydra.]


Dalam pemahaman tentang Hydra di dunia game, Hydra memiliki kemampuan saling mendukung dan melindungi satu sama lain. Jika begitu, aku harus mengalah semua kepala nya dalam waktu yang bersamaan.


"Jika begitu, aku harus menyerang ke semua arah dalam waktu yang bersamaan."


"Iya, jika begitu. Dia tidak akan bisa mengunakan sihir penyembuhan nya dan iktu sertakan aku!" jawab Alice yang menganalisa Hydra dengan tangan yang dilipat nya.


Aku pun tersenyum kecil seraya menjawab, "Tentu saja."


Alice pun menoleh kearah ku dan memberikan senyuman kecil.


Melihat itu, aku juga membalasnya dengan senyuman.


Sesaat kemudian, aku pun memanggil ...


"Iris! Saka! Balmond! Alter!"


Seusai memanggil mereka, wujud dari keempat pemimpin bayangan itu muncul dihadapan ku.


"Semua nya, Mari kita serang secara bersamaan dan akhiri dengan cepat!"


"Baik!" jawab serempak para pemimpin bayangan dan Alice.


Lalu, mereka dengan kecepatan tinggi dan teknik nya berhasil membelah kelima kepala Hydra secara bersamaan dan cepat bahkan sebelum mereka menyemburkan nafas element kepada kami.


Meski kelima kepala sudah terpenggal namun, Hydra masih mencoba menyembuhkan dengan mengunakan inti kristal yang ada didalam perutnya.


Melihat itu, aku pun tidak membiarkan nya. Namun, langkah ku dihentikan Alice.


"Tuan, serahkan sihir itu kepada ku."


"Baiklah."


Setelah itu, Alice mengunakan kemampuan Bloodmancer dan merubah semua darah dari Hydra menjadi sebuah senjata.


"Weapon for all."


Sesaat terbentuk sempurna, Alice melemparkan tepat ke inti kristal Hydra itu hingga membuat sihir terpatahkan dan Hydra itu mati.


Setelah berhasil membunuh nya, Alice pun melihat kearah ku. "Bagaimana aku hebat, bukan?"


Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, kamu memang hebat Alice."


Aku dan Alice pun saling bertukar senyum.


Dan mungkin, jika aku menghadapi seorang diri belum tentu. Aku bisa mengalahkan nya.