Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 108. Dungeon Treasure part II



...Bab 108. Dungeon Treasure part II...


Saat ini aku masih berada di museum nasional dan demi menyelamatkan Hunter yang lemah, aku pun ikut campur dari pembunuhan yang akan dilakukan oleh Sari, sang Summoner anubis.


"Dasar kalian ini. Bisa-bisanya membuat tempat ini menjadi kacau seperti ini. Apa kalian tidak punya penghormatan pada sejarah."


Lalu, aku mengambil salah satu benda pusaka yakni bambu runcing.


"Setidak nya benda ini tidak patah."


Sesaat kemudian, Sari memanggil ku.


"Hei, Tuan pemberani. Apa kau pikir sekarang aku sedang bercanda?" Sari pun memberikan perintah kepada anubis nya. "Bunuh dia!"


"Gwuahh!" geram anubis dengan mata merah nya seraya melemparkan tombak nya dengan kencang kearah ku.


Melihat itu, aku sontak menepis tombak itu hingga jatuh dan tertancap ke tanah belakang.


Semua Hunter yang ada disana sontak terkejut.


"A-Apa yang baru saja orang itu lakukan?"


"Dia menangkis tombak dengan tangan kosong!"


"Apa itu mungkin? Dia bahkan baik-baik saja."


"Tangan nya juga baik-baik saja."


....


Mereka memiliki pemikiran seperti itu bukan lah salah. Hal itu disebabkan karena mereka tidak tahu status kemampuan ku yang sebenarnya.


Beberapa saat kemudian, Sari pun melihat ku dengan tatapan tajam dan dia sontak mengingat ku.


"Kamu bukan kah anak culun dan gemuk itu, Rizal?"


Mendengar itu, aku tersenyum kecil. "Benar, lama tidak berjumpa, Sari."


"Cihh ... ternyata hanya pecundang sekolah. Aku pikir siapa. Meski kamu sudah berpenampilan beda namun, otak mu masih tidak waras menantang ku saat ini. Jika kamu sayang dengan nyawa mu menyingkirlah!"


Meski mendapatkan hinaan dan ancaman namun, aku masih bisa tenang untuk menanggapi nya.


"Memang nya kamu bisa apa? Anak @njing mu satu-satunya senjata nya sudah hilang."


Sari pun tersenyum, "Siapa bilang?" Lalu, Sari merapalkan sihir dan memanggil ...


"Keluar lah seluruh anubis ku!"


Sesaat kemudian, keluarlah empat anubis yang lain dengan senjata yang berbeda-beda.


"Itu lumayan," puji ku dengan senyuman kecil.


Pujian itu sungguhan lantaran baru kali ini aku melihat sihir pemanggilan yang dioperasikan.


"Hah? Lumayan katamu!" gumam kesal Sari.


"Yah, ya. Diantara layak dan bagus."


Mendengar jawaban ku, Sari semakin kesal.


"Kamu hanya bersikap sok keren. Dan, berani nya menghina kemampuan ku! Aku tidak suka kau!"


"Oh, benarkah? Aku akan tunjukkan kemampuan pemanggilan yang sebenarnya."


Sesaat kemudian, aku pun memanggil ...


"Keluarlah Iris."


Sesaat kemunculan Iris dengan aura yang mengerikan hingga membuat para Hunter dan Sari merinding ketakutan.


"Ti-Tidak mungkin."


Meski ketakutan, Sari pun menguatkan tekad nya.


"Cihh, hanya satu monster pemanggil tidak akan bisa menang melawan 4 anubis." Sari pun memberikan perintah, "Semua nya, bunuh dia!"


Sesaat kemudian, para anubis menyerang secara bersamaan kearah ku.


"Gwuahh!"


Melihat mereka, aku hanya tersenyum kecil. "Iris, habisi mereka!"


Sesaat kemudian, Iris mengeluarkan pedang besar nya dan melesat menebas satu persatu anubis dengan cepat hingga membuat Sari ketakutan hingga terduduk dengan menitihkan air mata nya.


"Bagaimana mungkin ..." gumam Sari.


Setelah itu, aku pun bergumam kecil dengan merapalkan Resurrection."


Sesaat kemudian, anubis yang sudah mati berubah menjadi ras Soul Shadow.


[Soul Shadow Humanoid | Ras: Anubis Infantry | Rank: Normal+.]


Menyadari itu, aku seperti nya berlebihan memanggil Iris. Tapi, tidak apa lah.


Semua orang semakin takut kepada ku dan ini terlihat semua Hunter yang menjaga jarak dengan ku.


Meski begitu, aku tidak mempedulikan nya. Lalu, aku membalik badan dan pergi ke lantai dua namun, sebelum itu ...


"Para Soul Shadow Anubis, Jaga tempat ini dan lindungi aku dari belakang!"


"Gwuahh!" jawab Anubis.


Setelah itu, aku dan Iris pun melangkah ke lantai dua.


"Apa kau mengincar peta Indonesia juga?"


Aku pun hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkah tanpa menjawab nya.


Setibanya dilantai dua terlihat Fransiska sedang berdiri didekat perisai sihir lantaran dia pasti sedang bingung untuk bisa masuk.


Aku pun sontak menyapa nya.


"Fransiska, apa kabarmu?"


Mendengar sapaan itu, dia sontak melihat ku dan terkejut. "Rizal? Kamu, Rizal?"


Aku pun tersenyum seraya menghampiri nya.


"Iya, tidak kenal ya dengan penampilan baru ku ini?"


"Oh, iya. Penampilan mu berubah drastis."


Lalu, Fransiska tersadar sesuatu dan mempertanyakan nya.


"Ah, iya. Bagaimana dengan Sari? Mungkinkah kamu telah mengalahkan nya?!"


"Begitu lah," jawab ku dengan santai.


"Seperti nya, kamu sudah jauh lebih kuat."


Aku pun tidak merespon ucapan nya itu dan kembali melihat perisai sihir.


"Jadi, ini kan masalah nya?"


Fransiska pun kembali melihat perisai sihir. "Iya. Aku sama sekali tidak bisa masuk. Serangan fisik maupun sihir tidak bekerja pada penghalang ini."


Lalu, aku pun menyentuh perisai itu dan bertanya kepada Lunox.


"Lunox, apakah perisai sihir ini bisa dihancurkan?"


Ding!


[Bisa. Dengan menggunakan fitur Unlock, anda bisa membuka nya atau anda cukup mengunakan Blinking Rune untuk masuk kedalam ruangan.]


Mendengar itu, aku tersenyum kecil dan terpikir lah sesuatu.


"Fransiska, seperti nya ini tidak bisa dihancurkan meski begitu, aku masih bisa masuk kedalam dengan mengunakan sihir Teleportasi."


Mendengar itu, Fransiska sontak bersemangat melihat kearah ku, "Benarkah? Kalau begitu, bisakah kamu mengambil peta Indonesia untuk ku?"


"Bisa saja. Tapi, ada syarat nya!"


"Apa syarat nya?"


"Cukup traktir aku makan enak," jawab ku dengan senyuman lebar.


Mendengar jawaban ku, Fransiska pun sedikit heran.


"Apa? Hanya itu?"


"Iya, hanya itu. Memang nya kamu berharap apa?"


Saat bertanya itu, wajah Fransiska sontak memerah dan menundukkan kepalanya. "Tidak ada."


Melihat dari ekpresi nya, Fransiska ingin membayar ku lebih namun, aku tidak ingin melakukan nya karena tujuan ku yang sebenarnya adalah menyentuh nya agar kemampuan Fire Rune nya bisa Lunox salin.


Maka aku pun ...


"Sepakat?" tanya ku seraya memberikan tangan kepada nya.


Fransiska pun tersenyum dan menerima tangan ku.


"Iya, sepakat."


Aku dan Fransiska pun saling bertukar senyum dan berjabat tangan.


Disaat yang bersamaan juga Lunox menyalin kemampuan.


Ding!


[Anda berhasil menyalin kemampuan Fire Rune.]


[Kemampuan telah tersimpan di S.A.I Lunox.]


Setelah itu, kami melepaskan tangan dan menghadap ke perisai.


"Baiklah, tunggu aku!"


Fransiska pun mengangguk kepalanya dan tersenyum. Lalu, aku merapalkan ...


"Blink."


Dalam sekejap mata aku menghilang dan berpindah kedalam perisai.


Saat aku menoleh kebelakang, Fransiska yang terbengong. Melihat ekpresi nya itu membuat ku tertawa kecil. Lalu, melanjutkan langkah ku.


Dan, setibanya disana terlihat lah beberapa barang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Maka dari itu, mengambil semua barang artefak ditempat itu termasuk Peta Indonesia.


Akan tetapi, tiba-tiba stand gamelan komplit berbunyi dengan alunan musik Jawa yang dimana sesaat itu juga seluruh boneka manusia jaman perang dunia yang disana menjadi hidup dan mengepung ku.


Saat itulah aku tahu penyebab pembantaian bukan berasal dari makhluk panggilan Sari melainkan dari monster boneka yang memiliki senjata modern awal.


"Ini sungguh menarik."