Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 21. Hasil dan Janji



...Bab 21. Hasil dan Janji...


Beberapa hari kemudian, aku dibangunkan oleh suara deringan telepon.


Kring! Kring!


Mendengar itu aku sontak membuka mata dan mengangkat telepon yang mana dilayar tidak tertera nama dan hanya nomor.


Meski begitu, aku tetap mengangkat nya.


"Halo, siapa ini?"


"Kakak Rizal, ini aku, Kelvin!"


"Oh, iya. Kelvin, ada apa?"


"Aku sudah mengirimkan hasil penjualan magic kristal. Kakak bisa periksa dan aku menambah nya sebagai biaya menyelematkan ku."


"Iya, Terimakasih."


"Kalau begitu, sampai bertemu kembali!"


"Iya."


Lalu, panggilan telepon pun terputus.


Aku yang penasaran dengan hasil penjualan, aku sontak membuka aplikasi mobile banking dan aku terkejut saat melihat saldo ku yang mengembung.


[1.500.050.000 rupiah.]


"1,5 milliar rupiah. Apa dia tidak salah kirim?!"


Aku yang berpikir itu sontak menelepon kembali Kelvin.


"Kelvin, apa kamu tidak bercanda mengirimkan ku sebanyak itu?"


"Tidak kak Rizal, penjualan dari magic kristal sebesar 2 milliar yang seharusnya kakak menerima 1 milliar, aku menambahkannya. Lepas dari itu semua, kakak sudah menyelamatkan ku jadi itu ucapan terimakasih ku," jawab Kelvin dari balik telepon.


Jika ku pikir-pikir jumlah segitu kecil bagi Kelvin yang seorang ITuber dengan penghasilan milliaran tapi tidak dengan ku,


Jumlah segitu sungguh sangat banyak.


"Begitu, aku mengerti. Terimakasih, Kelvin."


"Sama-sama, kak Rizal."


Setelah itu, telepon tertutup lagi dan aku masih tertegun dengan uang yang ku terima meski begitu, aku juga harus mengeluarkan biaya yang cukup besar di beberapa tempat.


"Baiklah, aku tidak akan membuang waktu lagi."


Lalu, aku membasuh diri, sarapan dan pergi ke tempat tujuan pertama yakni kantor Guild Nusantara untuk membayar hutang.


"Sisa hutang anda 160 juta. Apakah anda ingin menyicil nya?" tanya Administrasi Guild Nusantara.


"Aku ingin melunasi nya," jawabku seraya memberikan kartu ku.


"Baik, saya mengerti," jawab Resepsionis seraya menerima kartu ATM ku.


Lalu, resepsionis itu memproses pembayaran pelunasan nya. "Baik, semua proses telah terpenuhi. Terimakasih sudah mengunakan jasa Tower Of Trial," ucap resepsionis seraya mengembalikan kartu.


"Iya, sama-sama," jawab ku seraya menerima kartu ATM.


Seusai itu, aku pun keluar dari kantor Guild dan pergi ketempat selanjutnya yakni rumah sakit.


Sewaktu di Daedalus Labyrinth, aku pernah berjanji kepada Permatasari untuk menjaga dan membantu ibunya yang berada di rumah sakit.


Dan, saat ini lah waktu nya. Aku memenuhi janji itu.


Setibanya di rumah sakit, aku pun bertanya kepada Permatasari dengan mengunakan Skill Shadow Share.


"Permatasari, dimana ruang rawat ibumu?"


Lalu, Permatasari keluar dari bayangan hanya kepala nya saja dan dia menjelaskan bahwa kamar ibunya ada di bangsal 22.


Setelah mendapatkan informasi itu, aku pun pergi ke tempat yang disebutkan oleh Permatasari.


Setibanya disana, aku melihat sosok wanita dewasa yang memiliki tubuh yang kurus sedang terbaring koma di atas kasur dengan infus di tangan nya dan masker oksigen.


"I-ibu ..." gumam Permatasari dari bayangan ku.


Mendengar itu, aku pun memberikan izin kepada nya.


"Permatasari, keluarlah! Dan, temui ibumu!"


Sesaat memberikan perintah itu, Permatasari sontak keluar dan menghampiri ibu dengan wujud bayangan. Lalu, memegang tangan nya.


"Ibu, kuat kan lah dirimu! Tuan ku pasti bisa menyembuhkan ibu!"


Tidak lama kemudian, sang ibu membuka mata dan melihat sosok putri nya yang sudah menjadi bayangan meski begitu dia menitihkan air mata.


"Permatasari, kamu datang?"


Permatasari yang tidak bisa berbicara dengan orang lain, dia pun menganggukkan kepalanya. Lalu, Permatasari memutuskan untuk berbalik badan dan kembali masuk ke bayangan ku.


Lalu, aku pun mengalihkan pembicaraan.


"Ibu, anda sudah sadar," sapa ku.


Mendengar sapaan ku, sang ibu sontak melihat ku.


"Maaf, saya tidak bisa menyambut mu. Kamu siapa?"


"Tidak apa, Bu. Aku Rizal. Teman nya Permatasari dan Agil."


"Oh, begitu. Terimakasih sudah berkunjung dan samar-samar, saya melihat Putri ku."


"Aku kesini ingin memberikan ..." Aku pun memberikan Elixir Potion kepada ibunya Permatasari. "Ini Elixir Potion, sebuah potion yang mampu menyembuhkan segala penyakit. Permatasari dan rekan nya berjuang untuk mengambil ini dari Dungeon."


Aku terpaksa berbohong kepada nya agar dia bangga terhadap putrinya yang mana sebenarnya Elixir Potion itu ku beli seharga 100 ribu Koin di menu Store.


Cukup mahal. Tapi, demi memenuhi janji menjadi tidak masalah untuk ku.


"Terimakasih, nak Rizal sudah bersedia memberikan ini," ucap ibunya Permatasari seraya menerima potion.


Setelah itu, beliau pun meminumnya potion yang membuat wajah nya yang pucat kembali bersinar.


"Ini potion yang luar biasa. Seakan-akan penyakit ku hilang. Terimakasih, Nak Rizal."


Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil.


"Sama-sama, Bu."


Tidak lama kemudian, seorang dokter muda datang bersama dengan beberapa suster yang mana dia sontak membentak ku.


"Hei, dokter gadungan! Kamu memberikan apa itu?!"


Aku pun menoleh kearah nya, "Ini bukan urusan mu."


Dokter muda itu pun semakin kesal dan mendorong ku. Lalu, dia bergegas memeriksa sang ibu.


"Ibu, anda baik-baik saja?" ucap dokter muda seraya memakai stetoskop nya.


"Iya, saya jauh lebih baik dok. Seakan-akan penyakit saya hilang."


"Apa?!" kaget dokter muda.


Ditengah itu, dokter muda itu melihat sebuah botol potion dan dia pun mengambil nya.


"Apa ibu meminum ini?"


"Iya, teman dari putri saya memberikan nya."


Mendengar itu, dokter muda sontak melihat ku dengan tatapan kesal namun, aku membalasnya dengan senyuman kecil.


"Bdebah! Berani nya kamu ikut campur urusan dokter. Cepat bawa ibu ini ke ruang MRI!"


"Baik," jawab para suster yang bergegas memindahkan ibu nya Permatasari ke kasur dorong.


"Kamu ikut dengan saya! Kalo terjadi apa-apa dengan ibu ini maka saya akan membawa anda ke pihak berwajib!" seru kesal dokter muda dengan menunjukkan jari kearah ku.


Aku pun menghela nafas panjang, "Iya, terserah saja."


Lalu, aku pun mengikuti dokter ke ruang MRI yang mana disana menjadi heboh lantaran Kanker stadion akhir hilang sama sekali karena satu potion.


Dokter muda yang sombong itu hanya bisa terdiam dan mengigit jari jempol nya seraya terus mencari gambar scan yang cacat namun, dia tidak menemukan nya.


Tidak lama kemudian, sosok dokter paruh baya datang ke ruang scan yang mana dia menatap tajam kearah ku saat memasuki ruangan.


Setelah nya, kembali melihat dokter muda.


"Bagaimana?" tanya paruh baya.


Dokter muda yang melihat dokter paruh baya sontak memberikan sambutan.


"Pak Kepala, anda sudah datang dan seperti yang anda lihat seluruh penyakit nya hilang."


"Apa? Bagaimana mungkin?!"


Lalu, dokter muda memberikan sebuah botol potion kepada dokter kepala dan dia pun menerima serta mengicip sisa dari potion itu.


Dokter muda pun sontak terkejut, "Pak Kepala, bahaya!"


Dokter kepala tidak mempedulikan peringatan itu dan terus mencoba nya sampai dia mengambil kesimpulan.


"Ini Elixir."


Mendengar itu, dokter muda itu terkejut. "Apa?! Elixir! Bukan kah ini potion yang hanya dimiliki oleh Hunter Rank S?"


"Tapi, ini memang benar Elixir," jawab dokter kepala.


Lalu, dokter kepala menghampiri ku dan mempertanyakan nya. "Anak muda, darimana kamu mendapatkan potion ini?"


"Aku dan rekan-rekan ku yang telah gugur telah berhasil mendapatkan potion ini didalam Dungeon."


Lagi-lagi aku terpaksa berbohong lantaran tidak mau memperpanjang urusan dengan dokter-dokter sombong ini.


"Apakah kamu masih memiliki nya?"


Mendengar itu, ini merupakan kesempatan untuk memeras nya.


"Masih ada satu lagi. Berapa bapak akan tawarkan?"


"Bicara hal itu lebih baik di kantor," jawab dokter kepala.


Lalu, aku pun diajak ke kantor kepala dan melakukan transaksi disana yang mana dokter kepala bersedia memberikan 10 milliar rupiah untuk satu botol nya.


Tanpa ada penawaran lagi, aku pun menyetujui nya dan memberikan nya satu botol Elixir.


Ditambah, Dokter kepala membebaskan biaya perawatan ibu Permatasari dan beberapa hari kemudian, sang ibu meninggalkan rumah sakit dan hidup damai bersama adik laki-laki nya


Dan, aku bersama Permatasari melihat aktifitas mereka di rumah dari kejauhan.


"Permatasari, apakah kamu sudah tenang?"


"Terimakasih, Tuan ku telah memenuhi janji. Saya akan semaksimal mungkin membantu anda."


"Mohon kerjasama!"


"Baik, Tuan."