Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 63. Peningkatan dan Kehebohan di depan kantor pusat



...Bab 63. Peningkatan dan Kehebohan di depan kantor pusat....


Sambil menunggu dua hari, aku memutuskan meningkatkan kemampuan ku salah satu nya meningkatkan job Shadowmancer dengan mengunakan Job poin ku.


Ding!


[Anda berhasil meningkatkan level Job Shadowmancer ke level 15.]


[Anda telah berhasil meningkatkan skill Shadow Resurrection menjadi 630.]


[Anda berhasil meningkatkan skill Save Shadow menjadi 315.]


[Selamat! Anda mendapatkan skill baru, Authority of Shadow.]


Didalam keterangan nya, Authority of Shadow adalah skill area yang mampu memberikan Buff peningkatan sebesar 50 persen disaat ras Shadow berada di dalam area.


Selain itu, aku meningkatkan status yang mana aku memiliki 10 stat poin yang ku tingkatkan pada Strength.


Ding!


[Nama: Rizal Purnomo | Lv. 54


Job: Shadowmancer Lv. 15


Title:


• Goblin Slayer.


• Insect Slayer.


• Lord of Shadow


• Wolf Slayer.


HP: 5.100 | MP: 2.800


Fatigue: 0 %


Strength: 140 (+20) | Vitallity: 77


Agility: 144 | Intelligence: 70


Sense: 71


Status Poin: 0.]


Langkah selanjutnya, aku memutuskan untuk


mengunakan Voucher all Free dan saat menekan nya, keluar lah menu yang jarang ku kunjungi yakni menu Store.


Yang dimana harga dilayar berubah menjadi 0 koin emas termasuk barang-barang langka dengan peringkat S sekali pun.


Melihat itu, aku sontak senang dan begitu bersemangat namun, voucher hanya satu. Aku harus mengunakan nya sebaik mungkin.


Maka dari itu, aku pun memutuskan untuk membeli skill peringkat S dan ditemukan lah sesuatu yang menarik yakni ...


Shadow Domination.


Sebuah skill peringkat S yang mampu mengontrol, menghipnotis, mencuci otak dan merasuki mental lawan.


Setelah mendapatkan Skill Rank S itu, sistem memberitahu sesuatu.


Ding!


[Anda mendapatkan 2 Job poin.]


Melihat pemberitahuan itu, aku pun tersadar sesuatu bahwa saat aku membeli skill shadow maka aku akan mendapatkan job poin.


Sistematis yang menarik.


Memahami itu, aku sontak membeli beberapa skill dengan tipe Shadow lagi dan didapatilah ...


Shadow Clone, Rank A, Harga 500ribu koin emas;


Shadow Clone adalah kemampuan untuk menggandakan diri dengan durasi paling lama 3 jam.


Shadow Step, Rank B, Harga 150ribu koin emas;


Shadow Step adalah kemampuan untuk masuk kedalam dimensi bayangan target baik makhluk hidup ataupun benda dengan syarat target memiliki bayangan.


Dan, Shadow Hold, Rank B, Harga 250ribu koin emas.


Shadow Hold sendiri memiliki kemampuan mengikat target dengan bayangan agar kesulitan untuk bergerak bahkan membuat target lumpuh.


Berkat ketiga skill Shadow yang ku beli itu, aku mendapatkan job poin lagi.


Ding!


[Selamat! Anda mendapatkan 3 job poin.]


Seusai itu, aku pun meningkatkan Job Shadowmancer ku ke level 20 yang mana mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.


Ding


[Anda berhasil meningkatkan Skill Resurrection menjadi 1.086.]


[Anda berhasil meningkatkan skill Save Shadow menjadi 543.]


[Anda berhasil meningkatkan level 17 Shadowmancer dan mendapatkan skill baru Shadow Connect.]


[Anda berhasil meningkatkan level 20 Shadowmancer dan mendapatkan skill baru Unique Specialized Skill Beelzebuth.]


Setelah itu, aku pun melihat keterangan dari kedua skill itu ...


Yang pertama, Shadow Connect.


Skill ini memiliki kemampuan berbagi panca Indra, ingatan, skill dan sebagainya terhadap ras bayangan yang telah terjalin kontrak dengan Shadowmancer.


Dan, Unique Specialized Skill Beelzebuth.


Skill ini memiliki kemampuan mendaur ulang jasad menjadi wujud ras Bayangan yang baru ataupun senjata seusai dengan kehendak penguasa bayangan.


Itulah kemampuan ku saat ini setelah ditingkatkan secara maksimal untuk saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari kemudian ....


Didepan gedung kantor pusat Asosiasi Hunter New Indonesia terlihat lautan reporter yang muncul untuk meliput tes penugasan peringkat Raffi yang telah mendirikan kemah di depan gedung Asosiasi.


Raffi dari New Indonesia sendiri, dia yang sering disebut sebagai superstar top Asia merangkap seorang Hunter peringkat tinggi.


Dan, saat ini seluruh kamera semua media terfokus pada hari ini.


Terlebih lagi dengan ruang yang begitu mahal, para reporter memulai saling berebutan satu sama lain.


"Permisi! Kami sudah memesan tempat ini!"


"Hai kawan! Apakah kamu buta? Tidak bisakah kamu melihat berapa banyak orang yang muncul hari ini? Siapa yang peduli dengan tempatmu atau milikku?! Tempatmu adalah di mana kamu berdiri."


....


Dan, keributan pun terjadi diantara mereka.


Ditempat yang berbeda, Raffi tersenyum lebar dari balik jendela mobil belakang nya saat melihat lautan reporter.


Lalu, mobil Raffi berhenti didepan pintu masuk gedung dan dia pun keluar dari mobil yang mana dia sontak dihampiri oleh banyak reporter.


Salah satunya ada yang bertanya, "Raffi, apakah visi anda saat ini, ketika mendapatkan kenaikan peringkat?"


"Aku akan menjadi pria yang memiliki segalanya dan meraih kekuatan yang melampaui kemanusiaan. Hahaha ..." ucap bangga Raffi.


Lalu, berbagai pertanyaan terus dilontarkan dan Raffi dengan bangga dia menjawab semua pertanyaan tersebut.


Beberapa saat kemudian, datang dari luar dua mobil sport mewah yang masuk dan parkir di tempat parkiran Asosiasi Hunter.


Lalu, dua pria turun dari mobil masing-masing hampir bersamaan mereka tidak lain adalah Panji dari Guild Wijayakusuma dan Richard dari Guild Garuda.


Wartawan yang melihat mereka sontak membuat heboh dan teralih kan kepada mereka.


"Oi, Lihat itu!"


"Itu Panji!"


"Ada Richard juga!"


Para reporter yang memblokir pintu masuk depan gedung Asosiasi semua bergegas menuju sisi kedua pria ini.


Panji dan Richard mengerutkan kening lantaran bingung dengan situasi yang sekiranya.


"Ada apa dengan para reporter ini?" gumam Richard.


"Mengapa hari ini begitu kacau?" gumam Panji.


Tidak membutuhkan waktu lama semua wartawan mengepungnya dengan pertanyaan mereka.


"Apakah kalian berdua mengunjungi Asosiasi untuk melihat Raffi?"


"Menurut Anda, apa peringkat Tuan Raffi?"


"Tolong sampaikan pendapat anda tentang Tuan Raffi!"


....


Panji yang mendengar itu, dia hanya melambaikan tangan nya melangkah maju melewati kerumunan.


Sedangkan, Richard menjawab nya dengan dingin seraya melangkah pelan.


"Aku ke sini bukan karena pria itu dan no komen."


Mendengar itu, para wartawan terdiam dan kecewa dengan jawaban dari kedua Hunter Rank S tersebut.


Lalu, mereka berdua terus melangkah tanpa ada ucapan dan saling menyapa yang ada mereka saling menatap satu sama lain dengan maksud yang sama yakni merekrut Rizal dan membalas budi.


Setibanya di pintu masuk, Panji dan Richard berpapasan dengan ketua Guild Pantai Selatan, seorang Hunter Rank A, Marcel yang mana dia ketua Guild dari Raffi dan dia baru menyelesaikan urusannya didalam kantor pusat.


"Oh, apakah kalian disini juga penasaran dengan hasil pengukuran Raffi?"


Mendengar itu, Panji dan Richard sontak menatap tajam


"Bicara apa si bodoh ini?!" jawab Panji.


"Aku tidak peduli dengan artis bodoh mu itu!"


Melihat mereka, Marcel tersentak kaget dan mundur selangkah ketika dua tatapan yang agak menakutkan mendarat tepat padanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka berdua seperti itu?" batin penasaran Marcel.


Ditempat yang lain, Raffi merasa bangga terhadap diri nya sendiri lantaran dalam benak nya ada dua pemimpin Guild terbaik di New Indonesia sedang memperebutkan diri nya.


Meski berpikir seperti itu, Raffi masih tetap melambaikan tangan nya dan senyuman palsu kepada semua awak media.


Disaat yang bersamaan, Rizal baru tiba di Kantor asosiasi namun, dia terhalang oleh awak media.


"Ada acara apa ini? Kenapa malam ini ramai sekali?"


Dilihat dari situasinya, Rizal tidak bisa masuk Asosiasi sama sekali dalam situasi saat ini.


Tentu saja, ada banyak cara untuk mengecoh orang-orang ini seperti menggunakan skill Stealth, melompati reporter bahkan dengan mencari jalan belakang.


Tapi sekali lagi, evaluasi ulangnya tes telah dipesan sebelumnya tiga hari yang lalu. Jadi dia tidak merasa ingin melalui pintu belakang hanya untuk menghindari dinding reporter ini.


"Lagipula, aku tidak melakukan kejahatan atau semacamnya," batin Rizal.


Maka, Rizal tidak punya alasan untuk tidak menggunakan pintu depan sama sekali.


Kemudian, Rizal melanjutkan untuk mendorong kerumunan wartawan yang padat dan membuat jalan untuk dirinya sendiri.


"Oii, apa yang kamu lakukan?!"


"Apa-apaan ini?"


"Ada apa denganmu?!"


....


Keluh Report yang terdorong.


Ini adalah kekuatan fisik dari Hunter peringkat S. Semua reporter didorong menjauh tanpa daya dan jalan terbuka dalam sekejap mata hingga dia bisa menaiki tangga menuju pintu depan Asosiasi.


Namun, bahkan sebelum Rizal bisa mengambil langkah lain, seorang pria besar berotot tiba-tiba menghalangi jalan Rizal.


"Oi!"


Dia adalah manajer Raffi. Alisnya terangkat saat dia menggeram mengancam.


"Siapa kamu? Anda bekerja untuk Asosiasi atau semacamnya?" sambung Manager.


Meski begitu, Rizal tidak repot-repot mengalihkan pandangannya dan bertemu dengan tatapan tajam manajer ini.


"Tidak, bisakah kamu melihat semua reporter di belakangmu?!" seru manager.


Rizal melirik para reporter. Mereka semua menembaknya dengan tatapan tidak senang. Bahkan Rizal dapat mengerti bahwa mereka mencoba melakukan konferensi pers di sini.


Ada banyak mata yang mengawasi dan Rizal tidak terlalu ingin meninggikan suaranya di tempat itu.


Jadi dia akan mengabaikan si bodoh ini dan berjalan begitu saja, tetapi pada saat itu. .


"Kembalilah ke tempat asalmu! Anda tidak bisa lewat sini, Brengsek!"


Manajer memblokir jalan lagi dan mencoba mendorong dada Rizal.


Merasakan itu, cahaya di mata Jin-Woo langsung berubah.


Melihat itu membuat nya terkejut dan ketakutan. "A-Apa?"


Manager adalah tipe melee rank D Awakened, dan mendorong punk muda ini pergi dengan niat penuh untuk mempermalukannya.


Tapi, pria itu bahkan tidak bergerak dari tempatnya seolah-olah kakinya dipaku ke tanah.


Manajer telah menggunakan kekuatan yang cukup yang akan sangat melukai orang biasa. Rizal juga tahu fakta itu dengan sangat baik.


Melihat itu, semua wartawan bergumam sendiri.


"Apa sih? Ada apa dengan pria itu?"


"Apa yang terjadi? Apakah mereka akan berkelahi?"


...


Disisi lain, Manager mengeluarkan keringat dingin.


Lalu, Raffi sedang mengawasinya dari belakang sang manager. dia berjalan mendekati manajer dan berbisik.


"Bro, apa yang kamu lakukan? Cepat dan singkirkan pecundang itu."


"I-iya, tentu saja."


Jika sang manager menunjukkan pemandangan yang memalukan di sini, maka dia akan kehilangan pekerjaannya tanpa keraguan.


Sang manager menghadap Rizal lagi dengan ekpresi kesal.


"Kamu tidak bisa lewat sini, Pergi!"


Sesaat kemudian, ada suara pria yang menentang nya.


"Siapa bilang kamu bisa memblokir pintu masuknya seperti ini?"


Mendengar itu, sang manager dengan tatapan kesal, dia menoleh kebelakang namun, ekpresi berubah saat melihat Presiden Jowy ada tepat dibelakang nya.


Presiden Asosiasi Hunter Jowy berdiri tegak di depan pintu kaca. Mata para reporter semakin bulat. Mereka sangat terkejut hingga lupa mengoperasikan kamera.


"J-Jowy?!


"Presiden Jowy ada di sini?"


....


Suasana hiruk pikuk yang dulu kacau segera menjadi dingin dengan keluarnya seseorang yang sama sekali tidak terduga.


Lalu, Presiden Jowy berjalan ke tangga dan berbicara.


"Pria ini adalah tamu saya."


Lalu, Presiden Jowy menatap Raffi.


"Aku harap Anda tidak lupa siapa yang memberi Anda izin untuk mengadakan konferensi pers di tempat ini, Tuan Raffi."


"T-tentu saja, pak Presiden."


Hari pertama sebagai Hunter, Raffi merasa tidak disukai oleh Presiden dan berpikir akan kehilangan lokasi konferensi pers.


Hal itu membuat Raffi tidak mampu menanggung penghinaan seperti itu ketika ada begitu banyak mata yang mengawasinya sekarang.


Raffi mengerutkan kening dan dengan cepat memberi isyarat kepada manajernya.


Sang manager itu pun membungkuk sedikit kepada Presiden Jowy dan Rizal. Lalu, dia dengan sukarela melangkah ke samping.


"Hunter Rizal, silahkan ikut aku!" seru Presiden Jowy.


Lalu, Rizal pun melangkah bersama-sama presiden Jowy yang mana membuat para reporter yang berkumpul tidak bisa menyembunyikan kebingungan mereka sama sekali.


"Tentang apa itu?"


"Siapa pria itu? Dan, mengapa pak Presiden secara pribadi keluar untuk menyambutnya?"


"Apakah ada yang tahu siapa pria itu?"


....


Wartawan merasa frustrasi dan angkat bicara, tetapi tidak ada yang menjawab.