
...Bab 23. Doppelganger, Elf dan Pertemuan pertama....
Saat ini aku sedang berada di Dungeon Hijau yang dimana juga muncul Dungeon hitam yang dimana Dungeon hitam merupakan Dungeon yang tidak bisa dimasuki namun, penghuni dari Dungeon itu akan keluar baik itu sendiri atau pun berkelompok.
Memahami itu, aku sontak memasang posisi siaga. Sekali pun yang keluar dari Dungeon itu sebuah pasukan aku tidak gentar karena pasukan bayangan yang ada dibelakang ku.
Tidak lama kemudian, keluarlah sosok makhluk yang memiliki ukuran badan seperti manusia namun, sosok nya hanya serba hitam dan memiliki gigi-gigi yang tajam serta lidah yang panjang dan dia bernama ...
[Doppelganger.]
Saat melihat ku, dia pun tersenyum lebar dan merapalkan skill nya.
"Copy."
Sesaat merapalkan itu, wujud nya pun berubah menjadi sosok diriku baik fisik, pakaian dan senjata.
"Rush."
Dalam sekejap Doppelganger menyerang ku dengan senyuman lebar. Meski begitu, aku masih bisa menahan nya.
"Jadi inikah yang disebut dengan melawan diri sendiri," ucapkan yang diakhiri dengan senyuman kecil.
Doppelganger pun juga tersenyum lebar dan kami pun saling bertukar serangan dengan teknik dan skill yang sama.
Sesaat Permatasari melihat ku sedang terpojok oleh serangan Doppelganger, dia pun melesatkan skill nya.
"Madness."
Berkat bantuan buff dari Permatasari, kecepatan dan serangan menjadi lebih unggul dibandingkan Doppelganger.
"Skill Dagger. Assassinated," gumam Doppelganger.
Mendengar itu, aku juga melesatkan skill yang sama.
"Skill Dagger. Assassinated."
Lalu, kami pun saling beradu Dagger meski begitu aku lebih unggul dan membuat Dagger milik nya patah.
Melihat kesempatan itu, aku sontak memasukan Dagger dan mengambil pedang. Lalu, melesatkan skill.
"Vital Strike."
Dengan skill itu, aku menusuk inti jiwa nya dan membuat wujudnya kembali seperti semula disertai dengan jeritan keras.
"Kiaaaaa!"
Dan, sosok nya pun mati dengan wujud yang sebenarnya.
Lalu, sistem memberitahu hasil nya.
Ding!
[Anda telah naik Level.]
[Anda telah naik level.]
Memahami kemampuan sendiri, aku sadar jika tidak ada Buff bantuan dari Permatasari mungkin aku sudah mati disini.
Mengetahui kekuatan dari Doppelganger, aku pun memutuskan untuk membangkitkan nya.
"Resurrection."
Sesaat mengatakan itu, Doppelganger belum bisa bangkit.
Ding!
[Anda gagal membangkitkan.]
"Begitu kah. Doppelganger, apakah kamu tidak mau berpetualang dengan ku? Dan, mencari kemampuan luar biasa diluar sana." aku pun mengulurkan tanganku, "Resurrection."
Sesaat kemudian, sosok bayangan dan Doppelganger muncul dengan sosok nya yang lebih pekat dengan kedua mata bersinar ungu dan dia sontak berlutut dihadapan ku.
[ ... Lv. 6 / Rank: General / Ras: Shadow Doppelganger. ]
Ding!
[Silahkan berikan nama kepada Shadow Doppelganger!]
"Baiklah, aku akan memberikan mu nama Alter."
Ding!
[ Alter Lv. 6 / Rank: General / Ras: Shadow Doppelganger. ]
"Baik, Tuan. Mulai hari ini saya Alter siap melayani anda."
Mendengar ucapan dari Alter membuatku terkejut,
"Alter, kamu bisa bicara? Tanpa harus mengunakan skill Shadow Share?"
"Benar sekali, Tuan."
Lalu, aku mendengar suara berat dari bayangan menjawab nya.
"Tuan, jika bayangan mencapai rank General keatas maka mereka memiliki kemampuan untuk berbicara dengan anda."
Mendengar suara itu, aku pun menduga sesuatu.
"Mungkin kah, kamu Agni?"
Sesaat kemudian, Agni keluar dengan berlutut satu kaki. "Benar sekali, Tuan. Saya Agni."
"Oh, begitu dan maaf, seperti nya sejak kamu berbeda di pasukan bayangan. Aku belum mengutus mu."
"Tidak masalah, Tuan. Saya mengerti. Anda memiliki penilaian kesetaraan dan saat ini belum ada yang mampu seimbang melawan saya."
Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil. "Jenderal ku memang sosok yang pintar."
"Terimakasih, Tuan."
Sesaat kemudian, sistem pun memberitahu sesuatu.
Ding!
[Anda mendapatkan job poin 1.]
Melihat itu, aku sontak menaikkan Job Shadowmancer dari 7 menjadi 8 yang mana mengalami peningkatan beberapa skill.
Ding!
[Skill Resurrection meningkat menjadi 198.]
[Skill Save Shadow meningkat menjadi 99.]
Meski ada suatu skill yang membuat penasaran namun, aku memutuskan untuk mempelajari nya nanti.
Setelah itu, aku pun memutuskan untuk membangkitkan Orc Chief dan keluarga nya.
[Shadow Orc Shaman Lv. 2 / Rank: Elite Knight. ]
[Shadow Orc Woman Lv. 1 / Rank: Normal.]
[Shadow Orc Children Lv. 1 / Rank: Normal.]
[Shadow Orc Children Lv. 1 / Rank: Normal.]
Selanjutnya, aku membangkitkan pemimpin pasukan Orc yakni General Orc.
[Shadow Orc Elite Warrior Lv. 4 / Rank: Elite Knight.]
Seusai itu semua, aku hanya perlu menjalankan misi terakhir yakni membebaskan sandera yang mana disana banyak Elf yang tersandera.
Lalu, salah satu Elf menghampiri ku.
"Terimakasih, Tuan. Anda telah menyelamatkan kami," ucap Elf seraya membungkukkan badannya.
Saat melihat nya, aku pun percaya dengan gambaran dari para anime bahwasanya mereka ras yang cantik dengan kuping panjang, berkulit putih merona dan memiliki buah dada yang besar disertai dengan pakaian yang minim.
Lalu, aku pun mengabaikan itu semua dan kembali ke topik yang mana ada yang membuat ku penasaran.
"Kamu kenapa bisa bahasa manusia?"
"Ah, itu karena sihir penerjemah jadi saya bisa berkomunikasi dengan Tuan," jawab Elf dengan senyuman lebar.
"Sihir yang sungguh praktis."
"Begitu lah."
Tidak lama, pesan pun datang memberitahu penilaian nya.
Ding!
[Quest Spesial.
Hancurkan desa Orc 100% / 100% (Selesai)
Selamatkan Sandera (Selesai).
Bunuh Orc Chief (Selesai).
Anda mendapatkan Hadiah.
Kotak acak emas +1.
Stat +10
500.000 koin.]
[Dungeon telah ditaklukkan. Portal akan terbuka.]
Tidak lama kemudian, portal Dungeon hijau kembali terbuka yang menandakan portal ke bumi.
Melihat itu, aku pun menutup pembicaraan.
"Elf cantik, kembali lah kamu ke desa! Dan, hiduplah damai!"
"Tuan, apakah kita bisa bertemu kembali?" tanya Elf.
"Mungkin, suatu saat nanti," jawab ku dengan senyuman kecil.
"Saya harap kita bisa bertemu kembali. Jika boleh tahu, siapa Tuan?"
"Aku Rizal."
"Saya Rena. Sampai berjumpa lagi, Tuan Rizal."
Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
Lalu, aku mengembalikan semua pasukan bayangan ke dalam bayangan ku dan masuk kedalam portal.
Sekembalinya di bumi, aku sambut oleh banyak nya orang dengan puluhan pemadam kebakaran, polisi, ambulan dan beberapa Hunter.
Tidak hanya itu, tidak sedikit juga jasad Orc yang tergeletak di tanah.
Melihat itu, aku pun memiliki dugaan bahwa saat aku menaklukkan suku Orc ada beberapa dari mereka menemukan portal Dungeon ke bumi dan mengakibatkan Dungeon Break.
Kedepannya, aku harus lebih berhati-hati.
Lalu, aku pun melanjutkan langkah pulang namun, ditengah itu ada seseorang yang memanggilku.
"Kak Rizal!"
Mendengar itu, aku pun menghentikan langkah dan menoleh kebelakang yang mana disana terlihat ada Kelvin sedang berlari kearah ku.
"Kelvin, kenapa kamu disini?"
"Jika ada Dungeon Break, aku pasti dengan sigap datang ke lokasi," ucap bangga Kelvin.
"Oh, begitu."
"Kalau Kak Rizal, kenapa ada disini?"
"Aku habis antar teman ke bandara." Lalu, aku mengalihkan topik pembicaraan. "Kelvin, apa yang terjadi disini?"
"Beberapa jam yang lalu, muncul Dungeon break di bandara ini dan memunculkan beberapa Orc. Beruntung, para Hunter dari Guild Garuda dengan cepat membunuh mereka."
Ditengah kami berbincang, ada seorang gadis berambut pendek cantik yang seumuran dengan ku berjalan melewati kami bersama beberapa rekan lainnya.
Melihat nya pandangan ku teralih pada nya. Gadis itu pun melihat ku sebentar lalu, kembali melihat kedepan dengan ekpresi dingin.
Kelvin yang ada disamping ku sadar bahwa aku melihat gadis berambut pendek tersebut.
"Kak Rizal, kenapa kamu melihat Kak Cindy terus?"
Mendengar itu, aku sontak melihat kearah Kelvin. "Cindy? Kamu mengenal nya?"
"Tentu saja. Di dunia Hunter tidak ada yang tidak kenal sosok As dari Guild Garuda, Hunter Rank S, Cindy."
Pada saat itulah aku bertemu dengan Cindy untuk pertama kalinya.