Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 84. Family Problem



...Bab 84. Family Problem....


Tiga hari sebelum festival berdarah maka diwaktu itu aku memutuskan untuk bersantai sejenak dan merapihkan rumah.


Ditengah itu, aku melihat jaket yang baru ku rapihkan yang mana jaket itu kugunakan saat pergi ke klub malam dan ...


Berhubungan dengan Rachel.


Bicara soal Rachel, ini sudah seminggu aku tidak berkomunikasi dengan nya bahkan setiap chat hanya dibaca dan telepon tidak diangkat.


Mungkin, dia benar-benar marah kepada ku. Maka dari itu, aku pun memutuskan untuk mengunjungi dan meminta maaf kepada nya.


Setibanya dirumahnya dan hendak mengetuk pintu. Aku mendengar suara keras dari Rachel.


"Lepaskan! Jangan sentuh aku!"


Aku yang mendengar itu sontak membuka pintu takut-takut terjadi sesuatu didalam rumah namun, sesaat membuka pintu terlihat Rachel sedang berdebat dengan keluarga nya dan Rachel sendiri sedang menangis tersedu-sedu.


"Aishh! Bisa mu hanya bisa menangis saja?!" ucap pria dewasa yang sedang menikmati rokok nya.


Rachel tidak mempedulikan ucapan pria dewasa yang kuduga dia ayah dari Rachel dan


terus menangis dengan kedua tangan menutupi wajah nya.


"Kami juga tidak bermaksud untuk berbohong kepada mu. Jika kami tidak melakukan maka kamu mau mengirimkan uang kepada kami dengan sukarela?!" sambung sang ayah.


Wanita dewasa yang merupakan ibu dari Rachel juga menyambung ucapan sang ayah.


"Kakakmu butuh uang untuk membayar hutang rumah dan mobil. Itu semua karena dia sudah punya istri. Total hutang nya sampai ratusan juta. Bagaimana kita bisa menghasilkan uang sebanyak itu?"


Mendengar itu, Rachel menenangkan diri dan mengusap air mata nya.


"Jadi ibu berbohong padaku dengan bilang ayah memiliki penyakit kanker dan membutuhkan uang untuk pengobatan?"


Seusai mengatakan itu, Rachel menangis kembali. "Apakah ayah dan ibu tahu betapa depresi nya saat aku mendengar nya?" Rachel menundukkan kepalanya dengan memegang dahinya. "Untuk menghasilkan uang dan mengirimnya dengan cepat, aku harus bekerja siang dan malam serta mengambil empat kerja paruh waktu."


Tanpa ada perasaan apapun melihat putrinya menangis, sang ayah mengangkat suara nya.


"Aku cuman ingin tahu seberapa banyak yang bisa kau hasilkan dan lagipula, ayah akan mencari sisa nya. Tapi, warisan keluarga. Kita tidak bisa diputuskan!"


Mendengar itu, Rachel sontak melawannya.


"Apa maksud Ayah bilang ayah akan berusaha untuk mendapatkan sisanya, apa dengan menjual ku ke orang asing?!"


Sesaat mengatakan itu, Rachel menangis kembali.


Sang ibu yang khawatir sontak menghampiri Rachel dan memegang tangan nya.


"Rachel, pendidikan pria itu memanglah tidak tinggi. Tapi, penghasilan nya sangat bagus. Kami tidak akan membiarkan mu menderita."


Rachel mendengar itu, dia menjadi kesal kembali dan melepaskan pegangan tangan ibunya.


"Menderita?! Kalian pikir darimana asal uang puluhan juta itu?! Aku harus menemani orang-orang yang minum-minum. Aku telah melakukan itu! Asal kalian tahu!" ucap kesal Rachel.


Mendengar itu, ayah dan ibu mereka sontak amat terkejut namun bukanlah prihati melainkan tanggapan pahit.


Sang ayah sontak beranjak dari kursi dan menuding Rachel, "Rachel! Kau Memalukan! Kau telah merusak reputasi keluarga!" Sang ayah mengangkat tangan nya dan hendak memukul Rachel. "Aku akan memukul mu sampai mati! Dasar tidak tahu cara menjaga diri!"


Rachel yang menangis, dia pun melawan nya. "Pukul saja! Pelanggan memukul ku lebih keras dari ayah!"


Memahami situasi itu, aku pun menghela nafas dan menghentikan laju pukulan sang ayah dengan memegang tangan nya.


"Oi, Paman. Meski begitu, dia tetap putrimu."


Pandangan sang ayah sontak melihat kearah ku dengan tajam lalu, melepaskan tangan ku.


"Siapa kau?! Jangan ikut campur ketika mengajari anak ku sendiri! Apa kau ingin aku ajar juga?"


Disaat yang bersamaan, Rachel yang melihat ku dia pun terkejut. "Rizal?"


Aku pun melihat Rachel dan memberikan nya senyuman kecil.


Dalam analisa ku, ayah Rachel tidak merasa salah tapi terlihat dari ekpresi ibunya. Dia terlihat menyesali perbuatannya.


Ini lah kesempatan ku. Aku harus memberikan sedikit pertunjukan agar aku bisa membantu Rachel.


"Abyss Control," rapal pelan ku.


Abyss Control ini aku gunakan untuk menghilangkan ego dan nafsu sang ibu.


Sesaat sang ayah hendak mendekati istrinya, tiba-tiba ibu nya Rachel menampar keras sang ayah.


Plak!


Tentu tamparan itu membuat sakit tersendiri untuk sang ayah.


Dengan nada kesal, sang ibu memarahi suaminya.


"Sadarlah! Putri kita sudah menemani orang-orang pemabuk. Apa hatimu terbuat dari batu?!"


Saat sang ayah tertekan, aku juga merapalkan Abyss Control kepada nya hingga dia sontak berlutut dan menangis.


Setelah itu, sang ibu sontak menghampiri Rachel dan memeluk nya.


"Rachel, ini semua salah ibu. Kau tetap lah putriku yang paling kucintai."


Dengan tetesan air mata, Rachel menerima pelukan itu. "Ibu."


Sesaat kemudian, sang ayah sontak berdiri dan juga memeluk Rachel. "Rachel, maafkan ayah juga. Ayah berjanji akan menyuruh kakak mu untuk mencari uang sendiri dan tidak akan mengusik mu lagi."


"Ayah."


Melihat itu, aku pun tersenyum kecil. Lalu, Rachel juga melihat ku dengan senyuman kecil.


Keesokan paginya, kedua orang tua Rachel kembali ke kampung nya dan aku menemani mereka ke stasiun.


"Ayah, ibu. Jaga diri kalian! Aku akan pulang saat tahun baru!" ucap Rachel.


"Iya, Rachel. Kamu juga jaga diri, ya! Jangan melakukan hal yang bodoh lagi."


"Iya, Bu."


Setelah itu, mereka saling berpamitan dan sang ayah menghampiri ku.


"Nak Rizal. Tolong jaga putriku!" ucap sang ayah seraya memegang bahu ku.


Aku pun menjawab nya dengan anggukan kepala. "Iya, paman."


Setelah itu, mereka pun berbalik badan dan melangkah masuk kedalam kereta. Tidak lama, kereta pun berangkat dengan senyuman kecil dari Rachel.


Sesaat kemudian, Rachel menoleh kearah ku.


"Terimakasih sudah menemaniku mengantarkan keluar ku pulang."


Lalu, Rachel berbalik badan menghampiri ku. Aku pun menjawab nya dengan senyuman kecil.


"Semoga kakakmu bisa tumbuh dan belajar untuk tanggung jawab. Dengan itu, akan lebih efektif daripada berapapun uang yang kamu kirimkan!"


"Rizal, terimakasih sudah membantu ku untuk ketiga kalinya."


Seusai Rachel mengatakan itu, dia sontak memegang pipi kanan ku dan mencium bibirku.


Sikap tiba-tiba Rachel itu aku terima dengan senang.


Sesudah itu, kami saling diam didalam mobil. Rachel terus memperhatikan pemandangan dan aku fokus menyetir.


Ditengah itu, aku jadi teringat akan masalah yang terjadi sebelum maka, aku pun memutuskan untuk memulai pembicaraan.


"Rachel, aku minta maaf atas perbuatan ku beberapa hari yang lalu."


Rachel sontak terkejut dan melihat ku. "Rizal, apa maksudmu? Kenapa meminta maaf?"


Pertanyaan itu membuat ku malu untuk menjawab nya, "A-aku ... sudah menyentuh tubuh mu diatas ranjang."


Mendengar itu, wajah Rachel sontak memerah. "O-Oh, itu. Apakah ada yang salah?" Rachel pun menunduk kepala nya. "Justru aku senang, seorang gadis rendahan seperti ku bisa menemani mu diatas kasur."


Jawaban Rachel itu membuat ku semakin bingung, "Eh? Senang? Lalu, kenapa chat dan telepon ku tidak diangkat? Juga sering menghindari ku. Aku pikir kita tidak akan bertemu kembali."


"Sejujurnya seusai kejadian itu aku tidak tahu harus berkata apa? Aku tidak percaya diri untuk menjawab chat atau panggilan kakak. Maaf, aku sedikit bingung dengan diriku sendiri bahkan aku masih mengingat jelas saat aku bersama mu diatas ranjang dan inilah pertama kali nya aku ingin berada didalam pelukan seorang pria. Pada akhirnya, aku tidak menyangka bahwa aku bisa berada diatas mu. Hanya memikirkan itu, aku sungguh malu untuk berbicara dengan mu apalagi bertemu."


Mendengar itu, tebakan ku tentang kemarahan dan kekecewaan Rizal terhadap ku sirna yang ternyata dia malu untuk bertemu dengan ku.


Aku tidak pernah terpikir tentang itu. Sungguh bodoh! Dan, Naif.


Mungkin belum telat ....


Setelah itu, aku melihat dan menatap Rachel seraya menyetir mobil. Rachel itu melihat kearah ku.


"Rachel."


"Rizal," jawab Rachel dengan senyuman kecil dan wajah yang memerah.


Melihat kecantikan terutama wajah nya yang memerah, jantung ku berdegup kencang sampai akhirnya, aku ingin menyantap nya.


Lalu, aku mendekatkan jarak kepalaku dan Rachel menyadari itu, dia juga mendekat kan jarak kepala nya kearah ku hingga kami berciuman dengan permainan lidah hingga berakhir di hotel terdekat dan kami saling menikmati tubuh kami masing-masing.