
...Bab 72. Permintaan seorang adik...
Di pagi hari yang cerah, aku pun kedatangan tamu yakni Silvi.
"Selamat pagi, Kak Rizal!" sapa Silvi dengan senyuman kecil.
Mengetahui itu, aku sontak mempersilahkan masuk dan kami pun berbincang di ruang tamu.
"Oh, Silvi. Ada apa? Pagi-pagi kamu sudah ke sini."
Silvi yang sedikit ragu dengan ucapan nya, dia pun menggenggam erat kedua tangan yang ditempelkan pada dada sampai dia membulatkan tekad untuk berbicara kepada ku.
"Kak Rizal, Aku dengar kakak seorang Necromancer yang mampu menampakkan arwah."
"Sebenarnya, Shadowmancer namun, aku bisa melakukan hal yang sama seperti Necromancer. Jadi, ada apa dengan hal itu?"
Mendengar itu, Silvi sontak membuka lebar kedua matanya. "Kalau begitu, bisakah kakak memanggil arwah kakak ku!"
Saat permintaan itu diajukan, aku pun sontak berkomunikasi dengan Shadow Connect yang mana saat itu Exile sedang berada di Dungeon Shadow.
"Exile, apakah kamu mau bertemu dengan adik mu?" tanya ku melalui telepati.
"Bagaimana izin anda, saya menurut."
Mendengar itu, aku tersenyum kecil. "Baiklah, aku akan mempertemukan kalian."
Lalu, aku pun memanggil Exile yang mana membuat Silvi menangis dan beranjak dari kursi nya. Setelah itu, memeluknya.
"Kakak! Aku merindukan mu!" ucap Silvi didalam pelukan Exile.
Exile pun sontak melihat kearah ku dan aku pun memberikan sinyal senyuman disertai anggukan kepala.
"Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua dahulu."
Seusai mengatakan itu, aku pun pergi meninggalkan mereka ke taman depan rumah ku.
Beberapa saat kemudian, aku pun kembali dan setibanya disana, Silvi mengatakan sesuatu yang mengejutkan ku.
"Kakak Rizal, bisakah anda mengembalikan kakak ku ke Nirwana?"
Exile yang mendengar itu, dia pun menentang nya. "Silvi, apa yang kamu bicarakan? Kakak masih ingin melayani Yang Mulia Rizal meski dalam wujud ras Bayangan."
"Apa alasan nya?"
Silvi pun menundukkan kepalanya, "Kakak ku dari dahulu selalu bekerja keras untuk membantu keluarga bahkan saat kemunculan Dungeon dan Hunter. Kakak ku selalu mempertaruhkan nyawa nya meski, aku tahu kakak ku seorang Hunter yang lemah ..." ucap Silvi yang diakhiri dengan tangisan.
Lalu, dia melihat ku dan menyambung ucapan nya. "Maka dari itu, kakak Rizal. Aku mohon bebas kan kakak ku dari pertarungan agar dia bisa beristirahat dengan tenang."
Mendengar itu, aku pun terharu lantaran perhatian dari sang adik sungguh luar biasa terhadap Exile dan jika, aku selalu memanfaatkan nya dalam pertarungan maka aku akan merasa bersalah kepada Silvi.
"Baiklah, Silvi. Aku akan melepaskan kakak mu."
"Yang mulia ..." gumam Exile.
Aku pun sontak melihat Exile, "Exile, terimakasih sudah mau menjadi bawahan ku!" ucap ku seraya memegang bahu nya.
Exile yang mendengar itu, dia sontak berlutut satu kaki. "Yang Mulia, sebelum saya pergi. Izin kan saya memberikan skill unik Bandit Secret kepada Anda!"
Mendengar itu, aku sedikit terkejut. "Eh? Apakah kamu yakin?"
"Iya, kedepannya nanti saya tidak bisa melindungi anda maka, izin kan kemampuan saya melindungi anda."
Saat mendengar itu, aku pun memberikan senyuman kecil. "Terimakasih, Exile. Aku akan menerima nya."
Setelah itu, Exile mengeluarkan skill yang memunculkan buku hitam pekat yang melayang di tengah nya dan seusai terbentuk sempurna, Exile pun memberikan buku itu kepada ku.
"Yang mulia, terimalah!" ucap Exile seraya menadahkan tangan nya keatas.
"Aku terima. Terimakasih."
Seusai menerima nya, aku pun memasukan skill itu kedalam tubuh ku hingga sistem memberitahu laporan nya.
Ding!
[Anda telah mendapatkan Skill Unik Bandit Secret.]
[Segala isi Skill yang tercatat telah dipulihkan.]
Setelah mendapatkan laporan itu, aku pun kembali melihat kearah Exile.
"Yang Mulia, saya sudah siap!"
"Baiklah, Exile. Beristirahat lah dengan tenang ... Summon Cancel."
Sesaat merapalkan itu, Exile pun berubah menjadi arwah dan melebur menjadi butiran cahaya yang mana diiringi oleh tangisan Silvi.
"Silvi, jaga kesehatan mu!"
Silvi dan Exile pun saling bertukar senyum sampai Exile melebur seutuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian ....
Saat ini aku sedang berada di kota Surabaya, tujuan ku ke tempat ini ialah memasuki Private Dungeon yang berada di monumen Tugu pahlawan yang tentu saja kepergian ku tidak mengunakan kendaraan umum melainkan mengunakan skill Gate milik Saito hingga dalam sekejap, aku sudah tiba di lokasi tujuan.
"Sihir Teleportasi memang luar biasa dan praktis."
Saito yang berjalan di samping ku, dia pun menjawab nya. "Yang Mulia, saya bisa memberikan skill ini kepada anda."
"Tidak perlu. Hanya saja aku akan mengandalkan mu dalam transportasi," ucap ku dengan senyuman lebar.
"Baik, Yang Mulia."
"Sekarang waktunya, kita masuk."
Setelah itu, aku pun mengambil kunci yang telah kudapatkan dari kotak acak dan membuka nya. Sesudah terbuka, tanpa ragu aku pun memasuki Private Dungeon tersebut.
Ding!
[Anda telah memasuki Private Dungeon.]
Dan, setibanya didalam. Aku disambut oleh lorong Goa yang luas.
"Baiklah, semua nya kita mulai pesta nya," ucap ku seraya mengeluarkan beberapa pasukan bayangan.
Penjelajahan pun dimulai yang mana diawal lantai para pasukan bayangan dengan mudah mengalahkan monster yang berada disana dan aku sendiri dengan santai berjalan tanpa melawan monster.
Sampai tiba di Dungeon bagian terdalam yang mana pada lantai itu ada sesuatu yang membuat langkah ku berhenti yakni ada nya sosok manusia yang sedang terpojok melawan beruang putih yang memiliki cakar yang besar dan memiliki beberapa sihir.
"Seperti nya aku harus menolong nya."
Memikirkan itu, aku pun memerintahkan Agni untuk melawan beruang putih itu. "Agni, bunuh beruang itu!"
Dengan kecepatan tinggi disertai ayunan pedang, Agni dengan mudah membunuh beruang putih.
Seusai itu, aku memanggil Sarah. "Sarah, sembuhkan luka nya!"
"Baik, yang mulia."
Sarah pun bergegas menghampiri manusia yang terluka itu dan aku menyusulnya dari belakang.
"Bagaimana?"
Sarah menoleh kearah ku dan menggelengkan kepalanya. "Yang Mulia, kita terlambat."
"Begitu kah."
Disaat yang bersamaan, sistem memberitahu sesuatu.
Ding!
[Terdeteksi kemampuan unik - Transmutasi.]
Mendengar itu, aku pun tersenyum. "Itu kemampuan yang menarik namun, lebih baik bukan aku yang memiliki nya."
Seusai mengatakan itu, aku pun memutuskan untuk membangkitkan nya.
"Arise."
Sesaat kemudian, muncul ras bayangan dari tubuh manusia dan sontak berlutut. Karena dia memiliki kemampuan unik maka, sistem memberikan saran.
Ding!
[Silahkan memberikan nama!]
"Iron."
Dan, sosok manusia dunia lain itu menjadi pasukan bayangan ku seutuhnya.
[Iron / Ras: Shadow Human / Rank: Normal / Skill unik: Transmutasi.]
Tidak hanya itu, aku pun melanjutkan kearah beruang putih besar yang ku putuskan untuk dibangkitkan.
"Arise."
Sesaat kemudian, muncul sosok ras bayangan dengan wujud beruang besar.
[Shadow WereBear / Rank: Elite.]
Setelah itu, aku melanjutkan penjelajahan di Dungeon ini.