Shadow And System

Shadow And System
Shadow And System | Bab 32. Hari Santai



...Bab 32. Hari Santai...


Setelah kejadian Dandy itu, aku pun meminta izin kepada Pak Rendy dan Ketua Felix untuk beristirahat beberapa hari dan mereka pun mengizinkan nya.


Meski meminta izin beristirahat namun, aku tidak bersantai yang mana aku mengerjakan sesuatu yakni memindahkan beberapa rekening gelap milik Dandy dan itu atas permintaan nya sendiri yang ingin memberikan seluruh harta nya kepada ku.


Dan, berkat pengarahan nya aku mendapatkan sejumlah tabungan 3 triliun rupiah dan beberapa aset gelap lain nya seperti apartemen, mobil, motor sport dan sebagainya yang tersimpan di sebuah apartemen mewah yang mana seluruh aset itu tidak diketahui oleh Asosiasi dan Pemerintah.


Mengetahui itu, perasaan ku beraduk antara senang dan menyesal telah membangkitkan Dandy menjadi ras bayangan.


Mengabaikan itu semua, aku pun memutuskan untuk menerima nya dengan tetap low profil.


Sepulang dari bank, aku melihat Cindy sedang sibuk memperbaiki mobil dan kesulitan dalam menanganinya. Melihat itu, aku pun memutuskan untuk membantu nya.


"Hei, Cindy. Bolehkah aku membantu mu?"


Mendengar itu, Cindy sontak menghentikan aktifitas nya dan melihat ku, "Oh, Rizal. Memang nya kamu mengerti mesin?"


"Sedikit. Mungkin saja, aku bisa membantu."


"Baik, selamat mencoba. Jika kamu berhasil, aku akan mentraktir mu. Bagaimana?"


"Aku menantikan nya."


Aku dan Cindy pun saling bertukar senyum. Lalu, kami saling bertukar tempat dan aku memulai memperbaiki mobilnya.


Beruntung kerusakan tidak begitu besar jadi aku bisa memperbaiki dan menghidupkan mesin nya.


Melihat hasil itu, Cindy pun sontak senang. "Wuah, kamu beneran bisa memperbaiki. Terimakasih, Rizal."


"Sama-sama."


Meski mobil sudah diperbaiki namun, Cindy menghela nafas panjang. Melihat nya, aku pun mempertanyakan nya.


"Sekarang apa lagi?"


"Sudah jam segini seperti nya aku terlambat pergi ke Dojo."


Dojo merupakan tempat pelatihan pedang yang mana saat kemunculan Hunter, fasilitas ini sangat ramai di kunjungi demi untuk berlatih teknik pedang.


"Yasudah. Daripada naik mobil, lebih cepat naik motor dan ku antar. Bagaimana?"


"Aku tidak ingin merepotkan."


"Tidak masalah, bukan kah wajar membantu tetangga yang sedang kesusahan."


"Baiklah, tunggu sebentar ya!" ucap Cindy yang mana setelah itu, dia pun masuk kedalam rumah untuk mempersiapkan diri.


Lalu, aku juga pulang sebentar untuk mengambil motor sport yang sebenarnya milik Dandy dan sudah diberikan untuk ku.


Sekembalinya ke rumah Cindy, dia cukup terpukau dengan motor sport nya.


"Motor yang keren."


"Terimakasih. Kalau yang punya nya?" tanya canda ku.


"Biasa saja," jawab santai Cindy dengan senyuman kecil seraya naik ke motor.


Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil dibalik helm dan setelah naik, aku pun memberikan peringatan kepada nya.


"Cindy, pegangan yang kuat. Aku akan melaju kencang."


"Oh, sekencang apa? Aku jadi penasaran."


"Rasakan saja sendiri."


Setelah itu, aku mulai melanjutkan mesin motor dan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


Meski kecepatan motor tidak secepat skill rush namun, dibandingkan dengan kendaraan yang lain motor ini sudah sangat cepat ditambah sejak ada nya The Another Moon jumlah kendaraan di jalan raya sangat berkurang hingga seseorang yang melaju dengan kecepatan tinggi tidak begitu bermasalah.


Sampai tiba di lokasi Dojo dan aku menghentikan laju motor tepat didepan pintu. Setelah nya, Cindy turun dan mengembalikan helm yang dikenakan nya.


"Terimakasih telah mengantarkan ku," ucap Cindy seraya mengembalikan helm.


"Iya, sama-sama."


Ditengah itu, kami mendengar suara pria yang menyapa ku.


Mendengar itu, aku dan Cindy sontak melihat kearah sumber suara yang mana itu berasal dari Haikal dengan Senja di samping nya.


"Kak Haikal," jawab ku.


"Kak pelatih," jawab Cindy.


Saat mendengar jawaban itu, aku sedikit terheran. "Pelatih?"


"Iya, Cindy merupakan anggota dari Dojo ku dan aku pelatih nya meski dia murid yang lebih berbakat dari pelatih nya," jawab Haikal dengan tawa kecil.


"Hah? Kak Rizal terlalu memuji. Aku masih butuh banyak pelajaran," jawab Cindy.


Lalu, Haikal melihat ku dan Cindy yang mana dia menduga sesuatu. "Mungkin kah kalian pacaran?"


Mendengar pertanyaan itu, aku, Cindy dan Senja pun terkejut. Lalu, Cindy menjawab nya dengan lantang. "Kami hanya bertetangga saja. Tidak lebih."


"Iya, kami hanya teman dan tetangga," sambung ku.


Entah kenapa Senja yang mendengar itu, dia mengambil nafas panjang seraya memegang dadanya.


"Baiklah, aku percaya dan sangat percaya," jawab ledek Haikal. Lalu, dia melihat kearah jam tangan nya. "Seperti nya sudah siang, Cindy. Ayo kita masuk!"


"Iya." Cindy melihat ku. "Rizal, sampai bertemu kembali, ya!"


Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala.


Lalu, Senja memotong pembicaraan. "Kak Haikal, saya ingin pulang saja. Terimakasih atas sarannya."


"Oh, iya. Hati-hati di jalan!" jawab Haikal.


"Iya."


Mendengar itu, aku pun mengambil inisiatif. "Senja, jika tidak keberatan. Boleh ku antar?"


Senja pun tersenyum, "Tentu saja boleh."


Ditengah itu, Cindy memotong pembicaraan. "Tunggu! Rizal, jangan lupa jemput aku lagi jam 3 sore nanti!"


Entah kenapa Cindy berbicara itu namun, aku pun menuruti nya karena juga dia sosok Hunter Rank S tidak mungkin naik kendaraan umum terlebih lagi mobil nya baru saja diperbaiki.


"Iya, aku akan menjemputmu."


Haikal yang mendengar itu, dia pun menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepalanya dan Senja tertawa kecil.


Setelah itu, Cindy sontak memalingkan wajahnya ke depan lagi dan melanjutkan langkah dengan cepat. Lalu, Haikal pun menyusul nya.


Lalu, aku melihat Senja seraya memberikan helm. "Senja, naik lah!"


Senja pun menerima helm itu dan naik ke motor. Setelah itu, aku pun melajukan motor dengan kecepatan sedang menuju rumah nya namun, ditengah perjalanan Senja meminta sesuatu.


"Rizal, bisakah kamu mengantar kan ku ke pantai? Aku belum mau pulang."


"Baiklah."


Setelah itu, aku merubah arah tujuan ke pantai.


Setibanya disana, aku dan Senja berjalan-jalan di tepi pantai yang mana awalnya kami diam namun, tidak lama Senja memulai pembicaraan.


"Rizal, kamu sudah banyak berubah? Tidak seperti ku."


"Aku pikir kamu juga sudah berubah dan jangan terlalu pesimis, setiap individu mengalami perubahan yang berbeda-beda."


Senja pun menghentikan langkah dan menoleh kearah ku disertai senyuman, "Kamu benar." Senja melihat kearah langit yang biru. "Kamu tahu, aku sebenarnya takut menjadi Hunter sampai saat ini. Meski begitu, aku mencoba melawan nya namun ... tidak berhasil terutama kejadian beberapa hari yang lalu. Itu ... membuat ku semakin ketakutan. Seharusnya aku seorang Healer Rank B bergabung di Party Raid Rank B atau Rank A maupun Rank C ... Namun, aku masih memilih untuk bergabung dalam Raid Dungeon Rank D atau dibawahnya."


Mendengar curahan hati itu, aku menduga sesuatu. "Senja, mungkin kah kamu ..."


Senja melihat ku dengan senyuman lebar, "Iya, aku akan mengundurkan diri dan kembali ke kampung halaman ku. Kabari aku jika kamu pergi ke Madiun, nanti aku akan buatkan pecel terenak se- New Indonesia."


Aku pun tersenyum kecil, "Iya, jika kesana. Aku akan menghubungi mu dan meminta pecel."


"Oke."


Aku dan Senja pun saling bertukar senyum.


Keesokan harinya, aku pun mendengar bahwa Senja sudah pergi ke Madiun dengan mengunakan kereta.