
...Bab 68. Recovery....
"Dokter, bisakah anda mengizinkan ku untuk menyembuhkan nya?"
"Iya, Hunter Rizal. Aku izinkan!"
Aku pun tersenyum dan dokter wanita itu juga tersenyum.
"Terimakasih, dok."
Setelah itu, aku menghampiri bibi nya Fay dan memanggil ...
"Saito keluar lah!"
Sesaat kemudian, keluar sosok ras bayangan manusia yang mana paman dan dokter wanita itu terkejut tapi tidak dengan Fay karena dia telah melihat kakak nya sendiri dalam bentuk ras bayangan.
"Hunter Rizal, monster apa itu?"
"Dok, anda tidak perlu takut. Dia prajurit panggilan ku yang memiliki sihir penyembuhan."
Setelah mendengar penjelasan ku, Dokter itu pun merasa lega dan mengambil nafas lega.
"Ya, kupikir ada Invasi di ruangan ini," ucap dokter.
Aku pun tersenyum mendengar nya. Lalu, kembali fokus pada bibinya Fay.
"Saito, sembuh penyakit nya!"
"Baik, yang mulia!" jawab Saito.
Lalu, Saito pun mendekatkan jarak nya dengan bibi Fay dan meluruskan tangan nya lalu, Saito merapalkan skill nya.
"Recovery."
Sesaat kemudian, butiran cahaya hijau menyelimuti tubuh bibi nya Fay dan berlahan terfokus pada kepala nya sampai cahaya itu berlahan menghilang.
"Yang mulia, saya berhasil menyembuhkan nya," ucap Saito.
"Kerja Bagus."
Tidak lama juga kedua mata bibi nya Fay terbuka bahkan wajah nya yang pucat kini cerah kembali.
Saat mata bibi Fay terbuka, dia sontak melihat suami nya dan Fay.
"Suami ku, Fay!"
"Bibi!"
"Istri ku!"
Bibi nya pun bangun dari rebahan seperti tidak ada beban apapun dan mereka pun saling berpelukan.
Dokter yang melihat itu, dia pun tersenyum kecil. Lalu, dia melihat kearah ku, "Hunter Rank S memang berbeda."
Aku pun tersenyum kecil, "Dokter, selebihnya aku serahkan kepada mu! Aku akan pergi mengurus administrasi nya."
"Baik, Tuan Hunter." jawab Dokter.
Setelah itu, aku pun melangkah meninggalkan ruangan menuju tempat administrasi.
Lalu, ditengah perjalanan. Aku berpapasan dengan keluarga yang sedang melakukan protes kepada seorang pria dewasa yang mengenakan stelan jas.
"Dia melakukan pembunuhan!" seru kesal pria dewasa.
Pria berjas itu pun menjawab nya, "Kami juga tidak ingin ini terjadi. Hunter bukanlah Dewa, mereka mencoba yang terbaik untuk bertarung dengan monster. Kadang-kadang, mereka mungkin secara tidak sengaja melukai orang lain saat melawan monster."
Meski diberikan penjelasan namun, pria dewasa tetap menolak dan sang ibu hanya bisa menangis.
"Bdebah, kalian! Aku tidak akan menandatangani dokumen ini!" Pria Dewasa melemparkan dokumen yang dipegang nya itu, "Ambil uang busuk mu dan Pergi!"
Disaat aku tengah melihat perdebatan itu, seseorang datang dengan wujud pria muda yang penuh darah dan luka menghampiri ku.
"Tuan Hunter, apakah anda bisa membantu saya?" ucap sosok yang penuh luka itu dan kuduga dia arwah penasaran.
Aku tidak tahu sejak kapan memiliki kemampuan indigo namun, sejak aku berbincang-bincang dengan kedua orangtuaku. Banyak Arwah penasaran menghampiri ku dan aku pun mengabaikan mereka.
Namun, kali ini berbeda. Arwah ini memiliki energi sihir yang tinggi. Maka aku pun menanggapi nya.
"Ada apa? Seperti nya kamu bukan arwah biasa."
"Bisakah Tuan Hunter membantu Adik ku yang masih dalam keadaan koma?" pinta Arwah.
"Apa bayaran nya?"
"Aku akan menjadi pelayan anda," jawab arwah.
"Kenapa kamu begitu percaya diri bisa melayani ku?"
"Karena aku memiliki kemampuan untuk mencuri kemampuan orang lain."
Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil dan hati ku berdebar-debar lantaran menurut ku itu kemampuan yang luar biasa.
"Baiklah. Percayakan kepada ku."
Karena aku memutuskan untuk membantu sang arwah, aku menghampiri perdebatan itu dan ikut campur.
"Permisi! Kalian tidak baik berdebat di rumah sakit."
Ucapan ku itu membuat pria berjas, pria dewasa dan sang ibu terdiam. Lalu, pandangan mereka teralih kepada ku.
"Kamu Hunter Rank S, Rizal!" ucap kaget pria berjas.
Aku pun hanya tersenyum kecil dan menghampiri pria dewasa serta istri nya.
Pria dewasa itu pun menceritakan kronologi kejadian nya yang mana kedua anak nya sedang berbelanja ke minimarket. Namun, sesaat mereka disana terjadi Dungeon break hingga memunculkan beberapa monster.
Akan tetapi, para Hunter sontak bertarung melawan monster tanpa mengevakuasi warga sipil terlebih dahulu hingga membuat serangan sihir yang meleset mengenai kedua anak nya.
Putra pertamanya mati ditempat sedangkan, putri nya tidak sadarkan diri dengan penuh luka dalam.
Dan, dokter mengatakan nyawanya tidak bisa ditolong.
Setelah menceritakan semua itu, sang ibu dan ayah nya menangis.
"Dan, siapa pelakunya?" tanya ku.
"Hunter Rank A, Raffi," jawab sang ayah dengan tatapan tajam.
Lalu, aku menoleh kearah pria berjas.
"Jadi, apa yang kamu inginkan?"
Saat pria berjas itu melihat ku, dia ketakutan. "M-maaf, saya hanya pengacara kecil yang disewa oleh Hunter Raffi untuk menyelesaikan masalah ini dan saya ditugaskan untuk memberikan kompensasi kepada kedua orang tua nya."
"Kami tidak akan memperdagangkan nyawa kedua anak kami!" seru kesal sang ayah.
"Tapi ..."
Mendengar itu, aku pun menghela nafas panjang. "Oh, begitu. Aku mengerti. Baiklah, bagaimana kalau aku menyembuhkan putri mu dan membiayai pemakaman putra mu. Biarkan putra kalian mati dengan damai di Nirwana."
Sang ayah dan ibu sontak membuka mata. Lalu, sang ayah memegang menghampiri dan memegang kedua bahu ku.
"Benarkah, Tuan?! Anda bisa menyembuhkan putri ku!"
Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baik, kami terima tawaran dari Tuan Hunter Rizal," ucap sang ayah seraya mengusap air mata nya.
Setelah itu, aku pun diantar ke ruang rawat dan disana, aku melakukan proses yang sama seperti yang kulakukan terhadap bibi nya Fei dengan memanggil...
"Saito."
Sesaat kemudian, Saito pun keluar yang mana membuat kedua orang tua itu ketakutan termasuk pria berjas. Aku pun tidak begitu mempedulikan mereka.
"Saito, sembuhkan dia!"
"Baik."
Saito pun meluruskan tangan nya dan merapalkan mantra.
"Recovery."
Seusai merapalkan skill itu, sosok adik sang Arwah membuka mata dan dia pun beranjak bangun dari rebahan.
Melihat itu, ayah dan ibu mereka sontak memeluk putri nya itu.
Setelah itu, aku memberikan mundur beberapa untuk menghampiri arwah sang kakak yang sedang berdiri di sudut ruangan.
"Terimakasih, Tuan."
"Jangan lupa janji mu!"
"Baik, Tuan."
Sesaat kemudian, pengacara itu datang menghampiri ku.
"Tuan, apa yang harus aku lakukan?"
Dia berkata seperti itu lantaran dia takut jika gagal menjalankan tugas maka reputasi dan bayaran nya akan dicabut.
Memahami itu, aku pun memutuskan untuk menyelesaikan nya.
"Berikan dokumen nya!"
"Baik," jawab pengacara. Lalu, dia memberikan dokumen nya. "Ini Tuan!"
Lalu, aku pun menerima dokumen itu dan membaca nya yang dimana disana tertera surat minta maaf dan pemberian uang kompensasi sebesar 10 juta rupiah.
Setelah itu, aku menandatangani dengan asal dan mengembalikan dokumen tersebut.
"Ini sudah ku tanda tangani dan berikan uang itu kepada mereka!"
"B-Baik!"
Pengacara itu dengan kondisi panik, dia mengambil amplop dan langsung memberi nya kepada sang ayah.
"Bapak, Terimalah!" ucap pengacara.
Lalu, saat menerima itu sang ayah melihat ku dan aku menjawab dengan anggukan kepala.
Mengetahui itu, sang ayah, ibu dan putri nya sontak berdiri dihadapan ku. Lalu, dia menundukkan kepalanya.
"Terimakasih, Tuan Hunter. Anda telah menyembuhkan putri kami," ucap sang ayah.
"Terimakasih, Tuan Hunter. Kesembuhan ini seakan-akan saya tidak pernah sakit," sambung sang putri.
Disaat yang bersamaan, wujud dari sang kakak yang sebelumnya jelek kini berubah menjadi sosok arwah manusia seperti sewaktu dia masih hidup.
Melihat situasi itu, aku pun bersyukur karena masalah telah terselesaikan.
"Iya, sama-sama." Lalu, aku memberikan kartu nama ku sang ayah. "Jika, kalian butuh bantuan! Telepon atau datang saja ke kantor ku! Dan, biaya pemakaman putramu. Nanti, aku akan kirimkan."
"Terimakasih Tuan Hunter."
Setelah itu, aku pun berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan.