
...Bab 54. Shadowmancer VS Necromancer II...
"Rizal, seorang Summoner?"
Itulah kata yang diucapkan oleh Cindy saat melihat Rizal sedang memanggil pasukan bayangan.
Cindy terkejut saat melihat banyak nya dari pasukan bayangan dan dia terheran untuk menyebutkan ini sebagai sihir pemanggilan.
Masalahnya, Hunter tipe mage yang berspesialisasi dalam sihir pemanggilan hanya bisa mengendalikan satu, atau dua dengan sekali pemanggilan.
Jika seseorang bisa mengendalikan dua, maka perlakuan yang diterima seseorang meningkat pesat atau Double Awakening dan Cindy belum pernah mendengar ada orang yang mampu mengendalikan tiga atau lebih makhluk pemanggil.
Namun, saat ini sosok itu ada didepan mata nya.
"Ini tidak masuk akal!" sambung Cindy yang tertegun-tegun.
Lepas dari itu, ada hal yang membuat nya tidak percaya yakni satu orang memanggil ratusan dan Rizal bahkan tidak membutuhkan banyak waktu untuk memanggil mereka juga.
"Aku tidak akan percaya jika aku tidak melihatnya dengan kedua mataku sendiri dan sosok itu bukanlah orang asing melainkan Hunter rank F yang merupakan tetangga ku."
Mendengar suara Cindy, Rizal sontak menoleh kearah nya.
"Cindy, apa yang dia lakukan disini?"
Lalu, Rizal melihat Cindy ingin membantu nya dengan beliung yang dipegang nya namun, Rizal memberikan isyarat untuk tidak ikut campur.
Cindy pun menuruti isyarat nya namun, dia masih menatap heran kearah Rizal.
"Apa yang dia coba lakukan sendiri?" gumam Cindy
Cindy yang masih dalam kebingungan pada akhirnya, dia menurunkan senjatanya.
Melihat itu, Rizal menghela nafas lega. Setelah melihat respon Cindy.
"Syukurlah, dia mengerti. Seperti yang diharapkan dari seorang wanita cerdas."
Setelah itu, Rizal kembali melihat kearah Lich, Sang Necromancer.
"Semua nya! Serang mereka!"
Mendengar itu, pertarungan yang imbang menjadi pembantaian sepihak.
Tidak lama kemudian, seseorang datang lagi yakni Juan yang mana dia bersama rekan nya tengah berlari masuk kedalam ruangan bos Dungeon.
Dan, setibanya disana. Juan melihat seorang wanita dengan gaya rambut pendek berdiri di dekat pintu masuk ruang bos. Dia segera mengenali siapa dia.
‘Cindy? Tapi ... mengapa dia berdiri diam seperti itu?"
Juan merasa aneh bahwa dia tidak mencoba untuk berpartisipasi dalam pertempuran dan hanya berdiri, jadi dia dengan cepat berjalan di sebelahnya.
Dan pada saat itulah Juan bisa melihat dengan jelas situasi di dalam ruang bos.
“In-Ini Apa ini?!"
Sosok monster dan ksatria hitam mengelilingi ruangan sedang membantai para Undead yang terkenal kuat dan memiliki sihir pemulihan yang tinggi.
Namun, saat ini tidak ada Undead yang bisa bertahan dari serangan para makhluk hitam tersebut.
Jeritan menyedihkan para Undead bahkan berhasil membuat Juan merinding.
Mungkin Juan tidak begitu terkejut saat melihat prajurit berbentuk manusia namun, didepan nya berdiri sosok-sosok monster yang mungkin bisa menjadi Bos Dungeon.
Ditengah Juan melamun, Cindy menghampiri nya.
"Sudah lama tidak bertemu, Kepala Divisi Pengawasan Juan," sapa Cindy.
"Ah, ya, Bu. Sudah lama tapi, apa itu? Mereka sepertinya bukan monster biasa."
“Itu adalah panggilan yang dipanggil Rizal, Hunter Rank F," jawab Cindy seraya menunjuk Rizal dari kejauhan.
Mendengar itu, Juan dengan cepat melepas kacamata hitamnya dan menatap Rizal yang tengah berdiri di medan perang seraya memegang belati hitam.
"Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, bukankah dia terlihat seperti Hunter tipe jarak dekat peringkat atas?" ucap heran Juan.
"Tapi, dia bisa menggunakan sihir pemanggilan?" sambung Cindy.
Juan yang mendengar itu, dia pun tidak percaya dan memperhatikan Rizal lebih rinci. Lalu, dia melihat bibir Rizal bergerak sedikit, lusinan panggilan lagi naik dari tanah dan hal itu membuat nya terkejut.
"Benar! Dia melakukan nya dan berapa banyak panggilan yang bisa dikendalikan pria itu?!"
"Seperti yang kamu lihat, ini adalah kemampuan sejati dari Hunter Rizal," jawab Cindy dengan senyuman kecil. Lalu, Cindy mengalihkan topik, "Ngomong-ngomong, kenapa kamu ada di sini, Juan? Apakah panggilan sudah dilakukan ke Divisi Pengawasan?"
"Tidak, bukan itu. Kami hanya lewat. Tapi, kebetulan kami menemukan kondisi Gerbang yang tidak normal. Jadi, kami datang ke sini untuk membantu memfasilitasi evakuasi tim penyerbu, tapi ..."
Juan berhenti berbicara di sana dan menatap Rizal lagi.
Cindy pun sontak menyambung nya, "Namun, sepertinya itu tidak perlu. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiam diri disini."
“Apakah kamu tahu siapa pria itu?” tanya Juan.
"Iya, dia tetangga ku yang terlihat pria biasa-biasa saja yang baik hati." Cindy melihat kearah Juan. "Bagaimana dengan mu?"
"Sedikit. Sangat sedikit!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain, Lich semakin marah dengan keadaan nya yang semakin terdesak.
"Dasar bedebah! Kamu serangga yang harus ku injak!"
Seusai mengumpat itu, Lich memberikan Buff nya kepada salah satu jenderal nya.
Dengan selesainya berbagai mantra, tubuh Undead Orge tiba-tiba menggelembung setinggi hampir sepuluh meter. Kekuatan, kelincahan, stamina, dan bahkan kepercayaan dirinya juga meningkat pesat.
Setelah itu, Undead Orge mengunakan lengan nya yang besar untuk menghancurkan pasukan bayangan.
Melihat itu, Aku sontak memerintahkan Iris.
"Iris!"
Dengan kecepatan tinggi, Iris melompat dan memenggal kepala Undead Orge tersebut.
"Tidak mungkin! Mantra ku dikalahkan dengan mudah."
Ditengah Lich terkejut, aku sontak berlari dengan kecepatan tinggi dan melompat hingga aku dalam sekejap ada di dekat Kepala nya dan merubah Greed menjadi pedang lalu, melesatkan skill.
"Sword Skill. Vital Strike."
Dengan skill itu, aku berhasil membela inti Kristal jiwa nya dan membuat nya mati.
Setelah itu, sistem memberitahu hasil nya.
Ding!
[Anda berhasil membunuh Bos Dungeon.]
[Anda naik level.]
[Anda naik level.]
[Anda mendapatkan 1 Job poin.]
Melihat itu, aku pun tersenyum kecil. Setelah nya, aku menghampiri Lich yang mana aku melihat kristal ajaib seukuran telur tertanam di kalung bos yang sudah mati akan tetapi, aku memutuskan untuk tidak terlalu serakah untuk mengambil nya.
Mendapatkan poin pengalaman dan naik level sudah cukup bagiku.
Lepas dari itu semua, aku lebih tertarik untuk membangkitkan Lich Necromancer ini lantaran ku melihat ada asap hitam seperti uap naik dan bergerak. Hal itu menandakan bahwa sosok nya bisa dibangkitkan menjadi ras bayangan.
Maka dari itu, aku merapalkan ...
"Arise."
Sesaat kemudian, keluar sosok tengkorak ungu yang mengenakan jubah hitam yang bergoyang seperti lidah api yang sontak berlutut satu kaki dihadapan ku dan sistem memberitahu sosok nya.
Ding!
[Shadow Supreme Skeleton Lv. 1 / Rank: General.]
[Silahkan anda memberikan nama!]
General keempat pun hadir dan aku pun memberikan nama ...
"Necro."
Ding!
[Necro lv. 1 / Ras: Supreme Skeleton / Rank: General / Unique Skill: Necromancer / Skill: Song of Curse.]
"Terimakasih, Tuan. Saya Necro, siap melayani anda!"
"Mohon kerjasama!"
"Baik, Tuan!"
Setelah itu, aku juga menyimpan...
[Shadow Orge Lv 1 / Rank: Elite.]
[Shadow High Skeleton Lv. 1 / Rank: Elite.]
Masing-masing dari mereka berdua, aku simpan 5 unit sedangkan sisa nya ku kirim ke Nirwana.
Dengan ini pertarungan pun usai.
Lalu, aku pun berbalik badan dan kembali kepada Hunter lainnya yang mana disana ada Cindy yang memberikan senyuman dan anggukan kepala.
Namun, disebelah Cindy ada seseorang yang tidak ku sangka. Sosok pria yang mengenakan jas hitam dan wajah nya tidak asing lagi dia ...
"Juan, sejak kapan dia ada disana?"
Namun, dilihat dari ekpresi Juan. Dia sudah ada sejak pertarungan tadi.
Mengetahui peperangan telah usai, para Hunter berlari menghampiri ku.
"Kak Rizal!"
"Kak Porter!"
"Rizal!"
....
Semua Hunter memanggil ku dengan senyuman senang dan air mata yang berlinang.
Itu hal yang wajar, mereka yang sudah dihadapkan dengan kematian dan keputusasaan kini, mereka melepaskan rasa itu dan tersenyum bahagia.
Aku pun merasa lega akan hal itu namun ...
Seperti nya, aku sudah tidak bisa menyembunyikan identitas dan kemampuan ku lagi.