
...Bab 78. Hasrat Rachel (+21)...
Dimalam yang cerah, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah bersama Rachel yang duduk di kursi samping.
Awalnya, kami tidak saling bicara sampai ditengah perjalanan, Rachel memulai pembicaraan nya.
"Maaf, kak Rizal. Aku sudah merepotkan kakak lagi."
"Tidak apa-apa. Aku juga kan mau pulang jadi ya tidak akan direpotkan."
"Oh, benar juga."
Aku dan Rachel pun saling bertukar tawa kecil.
"Kak Rizal, kenapa kakak sangat berkeringat?"
Mendengar itu, aku memeriksa kepala yang mana sudah di penuhi oleh keringat.
"Benar juga, aku sampai tidak menyadari nya."
"Kak Rizal, tidak sehat jika sedang berkeringat mengunakan Air Conditioner. Boleh kah aku membuka jendela?"
"Silahkan!"
Rachel pun membuka jendela di sisi pintu nya dan menghadap keluar.
"Udara malam ini sungguh nyaman! Aku lebih suka menikmati udara malam seperti ini."
"Iya, tapi kalau terlalu lebar. Kamu akan terkena flu."
Rachel sontak melihat kearah ku, "Kak Rizal, buka juga jendela nya biar keringat nya hilang."
"Tidak usah, udara dari mu saja sudah cukup."
Seusai menjawab itu, Rachel mencari sesuatu di belakang mobil hingga dia menemukan beberapa kertas dokumen.
Setelah itu, dia mengambil nya dan mengipasi ku.
"Bagaimana sekarang?" tanya Rachel yang tersenyum kecil seraya mengipasi ku.
Lalu, aku menoleh kesamping. "Ini sangat menyegarkan."
Dan, sesaat menoleh kesamping. Aku baru sadar bahwa pakaian yang dikenakan oleh Rachel sangat lah seksi bahkan sabuk pengaman mobil membelah buah dada nya hingga terbentuk sempurna.
Hal itu membuat ku salah fokus dan kembali menghadap kedepan.
"Rachel, kamu tidak perlu sejauh ini."
"Kenapa? Kan kakak mengendarai mobil untuk mengantar ku juga dan ini tidak seberapa anggap saja ini sedikit pelayanan dari ku."
"Bukan nya seperti itu hanya saja ... Aku jadi sedikit gugup karena kamu wanita yang cantik."
Mendengar ucapan ku, Rachel sontak menghentikan mengipas dan terkejut dengan wajah yang memerah, "Apa?"
Memahami terkejut nya Rachel, aku pun sadar bahwa aku keceplosan dan blak-blakan.
"Maaf."
Meski aku sudah mengatakan itu. Namun, Rachel terlihat kesal dengan ku yang mana dia hanya melihat keluar tanpa berbicara apapun lagi.
Mungkin ini lah efek dari seseorang yang tidak pernah pacaran.
Sampai akhir tiba di rumah Rachel dan aku menghentikan mobil.
"Rachel, kita sudah sampai."
Setelah itu, Rachel menoleh kearah ku.
"Kak Rizal?"
"Iya."
Itulah kata yang bisa ku ucapkan karena dia pasti akan memarahi ku. Namun ....
"Kakak bisa membantu ku memasang kan lampu?"
"Lampu? Oh, iya. Tentu saja bisa."
Setelah itu, aku dan Rachel turun dari mobil. Lalu, masuk ke rumah Rachel.
Klak!
"Selamat datang di rumah dingin ku, kak Rizal!" ucap Rachel.
"Lalu, dimana yang harus ku ganti lampu nya?"
"Disini, kak!" ajak Rachel.
Setelah itu, aku pun mengikuti langkah Rachel dan ditengah itu, aku melihat ada sebuah piano disana.
"Itu piano ku," ucap Rachel yang tahu pandangan ku tertuju pada piano milik nya.
"Kamu suka bermain piano?"
"Iya, dahulu piano ini sering ku mainkan dan berlatih. Namun, sekarang hanya sebuah koleksi saja dan tidak pernah digunakan lagi."
"Kenapa?"
"Bukan hal yang penting," jawab Rachel dengan senyuman lebar. Lalu, dia meraih tangan ku. "Ayo, kak!"
Pegangan itu tentu membuat ku terkejut namun, aku tetap menerima nya sampai di sebuah ruangan yang dimana ruangan itu lampu nya tidak hidup meski aku memencet stop kontak dan ruangan itu ...
"Ini kamar ku," ucap Rachel.
"Tunggu biar aku ambilkan!" jawab Rachel yang pergi ke ruang yang berbeda
Dan, dia pun meninggalkan ku sendiri di kamar nya. Meski keadaan kamar itu gelap, Namun aku masih bisa melihat dengan jelas.
Semua kamar yang tertata rapih dan sangat wangi dan aku tidak pernah masuk ke kamar wanita selain ibu dan adik ku.
Meski begitu, entah kenapa hatiku berdebar-debar. Aku yang bingung sontak bertanya kepada Nova.
"Nova, apa yang terjadi kepada ku?"
[Kakak, nikmatilah malam ini! Dan, waktu nya untuk melepaskan nya.]
Melihat jawaban itu, aku menjadi sedikit kesal. "Apa maksudmu coba?" ucap batin ku.
Sungguh ini sebuah momen yang membuat ku gugup yang mana seorang gadis cantik yang tinggal seorang diri mengajak seorang pria ke kamar nya.
Ini sungguh momen yang berbahaya.
Tidak lama kemudian, Rachel datang dengan membawa lampu dan kursi.
"Ini kak, lampu dan kursi nya."
"Iya."
Benar, saat ini yang harus kulakukan tetap tenang. Aku kesini bukan maksud apa-apa dan murni yang ingin membantu.
Setelah itu, aku naik kursi dan memulai pergantian lampu. Lalu, Rachel mengunakan ponsel nya untuk membantu penerangan dalam pemasangan nya yang sebenarnya tidak perlu dilakukan namun, aku membiarkan nya.
Seusai memasang nya lampu pun sontak menyala dan langsung menyinari Rachel yang sedang menghadap keatas.
"Wow! Terang sekali!"
Mendengar itu, aku sontak menoleh kearah Rachel yang mana aku terpesona saat melihat nya.
Dari lampu yang sangat terang, aku bisa melihat kecantikan wajah nya serta belahan buah dadanya yang menonjol dari pakaian yang dikenakan nya.
Dan, melihat itu junior ku menjadi naik.
"Ah, gawat!"
Karena terkejut, aku pun sontak kehilangan keseimbangan dan jatuh kearah Rachel yang mana Rachel sontak panik dan kehilangan keseimbangan juga kearah belakang nya.
"Kakak!"
Mendengar itu, aku dengan sigap mendarat dan menahan jatuh nya Rachel ke tanah.
Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat kami terdiam yakni Rachel secara tidak sengaja memegang Junior ku yang sedang mengeras.
"Ah?"
Ini merupakan kejadian pertama kali seumur hidup ku junior dipegang oleh seorang gadis cantik dan membuat ku terbujur kaku.
Rachel yang bingung, dia pun menelan ludah dan meremas pelan yang tentu saja membuat junior ku semakin keras.
Memahami itu, aku sontak panik dan membantu Rachel berdiri. Lalu, berbalik badan.
"Maaf. Aku harus pergi!"
Dan, ini merupakan kejadian yang sangat memalukan dan ini semua kesalahanku.
Lalu, aku melangkah cepat keluar pintu namun, Rachel meraih tangan ku dan ...
"Tunggu! Ahh!"
Buk!
Suara jatuh terdengar dan aku pun menghentikan langkah. Lalu, menoleh kesamping yang mana Rachel terjatuh saat menahan langkah ku.
Menyadari itu, aku sontak membantu nya namun ...
Rachel sontak memegang kedua bibi ku dan memberikan ku ciuman bibir.
Hangat dan lembut itulah yang kurasakan dan ini kah juga yang disebut ciuman. Aku pun juga tidak ingin melepaskan kenikmatan ini.
Ciuman terus di berlanjut sampai Rachel bermain lidah didalam nya. Aku pun juga mengikuti nya sampai Rachel memutuskan untuk melepaskan ciuman.
Seusai itu, wajah putih Rachel kini berubah menjadi merah.
"Kak Rizal, aku minta maaf. Tapi, aku tidak ingin kakak pergi."
"Eh? Apa maksudnya?"
"Sejujurnya, aku terus memperhatikan kakak sejak pindah rumah namun ... aku tidak berani mendekati kakak dan saat tahu bahwa kakak menolong ku saat sedang mabuk, aku sangat senang meski itu sangat memalukan. Di mobil, kakak bilang kepada ku bahwa aku seorang gadis yang cantik. Aku merasa menjadi spesial untuk pertama kali nya. Maka, sebentar saja. Tinggal lah lebih lama bersama ku!"
Jujur saja, ini pertama kali ada wanita yang menyatakan perasaan nya kepada ku. Dahulu, aku yang selalu di hina dan di bully kini ada seorang gadis cantik yang menyukai ku. Maka, aku tidak boleh mengkhianati perasaan nya.
Ditengah lamunan nya itu, Rachel meraih tangan ku dan menempatkan nya ke salah satu buah dada nya.
"Dan, hari ini sosok yang ku puja menyelamatkan ku maka, tolong jadikan tubuhku ini untuk membalas kebaikan kakak!"
Memahami situasi ini, aku pun tersadar mungkin ini waktu nya untuk melepaskan keperjakaan.
"Rachel ..."
Seusai mengatakan itu, aku pun mencium nya dan Rachel menerima nya hingga kami berdiri dan menjatuhkan diri keatas kasur nya.
Berterimakasih kepada film dewasa yang pernah ku tonton, aku harap bisa memenuhi hasrat Rachel dan aku sendiri.
Ding!
[Kakak, selamat! Kakak telah berhasil melepaskan keperjakaan.]