
... Bab 51. Siap mati dan Cindy di luar Dungeon....
"Manusia, selamat datang!" ucap Lich.
Saat mendengar itu, para Hunter sontak panik dan terheran-heran seraya memberikan komentar nya.
"Seorang Orc baru saja berbicara bahasa manusia!"
"Bagaimana seorang Undead bisa berbahasa Indonesia?"
"Apakah ini sihir?"
....
Mendengar itu, aku hanya bisa menghela nafas panjang lantaran para Hunter tidak bisa menjaga mulut nya pada situasi seperti ini.
"Pemimpin kami ingin bertemu dengan kalian. Ikuti aku!"
Menghadapi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, tidak hanya Atha tetapi semua hunter di tim penyerang jatuh ke dalam kebingungan.
"Seekor monster ingin berbicara dengan manusia?" gumam Tanker.
"Belum pernah ada laporan tentang kasus seperti itu sebelumnya," sambung hunter yang lain.
“Ketua Atha, kuharap kamu tidak mendengarkan kata-kata monster!" seru gadis Healer.
“Tolong, kamu harus mengabaikannya!" sambung Summoner pria.
"Ketua Atha, ini jebakan. Apa pun yang terjadi?! Kita harus mencoba menyelesaikannya di sini!" sambung gadis Healer.
Meski para Hunter mengutarakan pendapatnya namun, Atha memiliki pemikiran tersendiri.
“Tetapi tetap saja. Jika itu Lich yang bisa kita ajak bicara, mungkin kita bisa-"
Sebelum Atha menyelesaikan perkataan, Gadis Healer coba membujuk nya.
"Ketua Atha, jangan berpikiran bodoh!"
Dalam waktu kurang dari satu detik, pendapat mereka pun terpecah.
Lalu, Atha menguatkan tekad nya dan bertanya.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya. Apakah pemimpin kalian yang memblokir Goa?"
"Benar sekali. Pemimpin kami adalah seorang Black magician dan Necromancer yang agung," jawab Lich.
Mendengar itu, aku sontak tersenyum kecil karena ini akan menjadi pertemuan kedua sosok Mancer yang lain.
Lalu, Atha bertanya dengan pertanyaan yang lain.
“Apakah ada sosok yang lebih kuat dari pemimpin mu di dalam goa ini?”
"Tidak ada. Dia yang terkuat!" Lich itu pun marah ketika di pertanyakan terus oleh Atha, "Kalian terlalu banyak bicara! Mati disini atau ikuti aku!"
"Kami akan ikut."
Jawaban langsung Atha mendorong mata para Hunter untuk tumbuh lebih lebar.
"Kak Atha!"
"Ketua Atha!"
"Pilihan yang tepat! Sekarang, ikut dengan ku!"
Memahami situasi itu, aku menduga Atha ingin negosiasi namun, lawan bicara nya monster.
Apakah bisa? Atau mungkin kah ...
Sebuah pemikiran dasar, Atha ingin membunuh bos Dungeon.
Memahami itu, aku memasukan kembali Greed kedalam inventori dan melanjutkan langkah mengikuti Atha dan tim nya.
Ditengah perjalanan, Atha memperlambat langkahnya dan berjalan sejajar dengan ku.
"Rizal?" sapa pelan Atha.
"Ya."
"Begitu Kami bertemu bos Dungeon, kami akan langsung menyerang. Ketika itu terjadi, terlepas dari apakah serangan kita berhasil atau tidak. Tapi, setidaknya bos Dungeon seharusnya tidak bisa mempertahankan mantra sihir yang menghalangi jalan keluar."
Mendengar itu, aku pun menganalisa bahwasanya Atha dan lainnya memiliki kemungkinan untuk kembali hidup-hidup sangat lah rendah.
"Lalu, saat perhatian mereka tertuju pada kita, Rizal, tolong kabur dari ruang bos! Setelah kamu keluar dari ruang bawah tanah, kamu harus memperingatkan pasukan penyerang utama," sambung Atha.
Meski begitu aku berhasil keluar maka kemungkinan mereka hidup sangatlah tipis dan Atha yang memahami itu, dia bersiap-siap untuk mati bersama rekan nya.
“Apakah kamu berpikir untuk mati bersama bos Dungeon?” tanya ku.
"Tugas kita bukan untuk keluar dari Dungeon ini hidup-hidup, tetapi untuk menutup Dungeon. Banyak orang di luar membayar kami banyak uang untuk tujuan itu," jawab Atha dengan penuh keyakinan.
Lalu, Gadis Healer yang ada didekat kami menyambung ucapan Atha.
"Kami akan melakukan pekerjaan kami sesuai dengan apa yang telah kami latih. Namun, kamu berbeda. Tidak ada alasan bagimu untuk mati di sini. Aku harap kamu bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup."
Fransiska yang berada di dekat ku juga mengatakan sesuatu.
"Rizal, maafkan kesalahan ku sewaktu di sekolah dulu," ucap Fransiska dengan ekpresi putus asa.
"Itu hanya masa lalu. Aku tidak pernah mempermasalahkan nya."
Mendengar jawaban ku, Fransiska sontak memberikan senyuman kecil kepada ku. "Terimakasih, Rizal dan aku harap kamu bisa hidup dengan damai sekeluar nya dari Dungeon ini dan ..." Fransiska mengambil sebuah note kecil dan memberikan nya kepada ku, "Rizal, Aku ingin minta tolong juga! Tidak banyak. Tapi, ini sangat berarti. Tolong antar catatan ini ke keluarga ku kalau kamu berhasil keluar!"
"Baiklah, aku terima. Tapi, bukan aku yang mengantar nya," jawab ku seraya menerima buku catatan itu dan menaruh nya didalam saku.
"Tidak masalah, Terimakasih," ucap Fransiska dengan senyuman kecil.
Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain, Cindy yang mengetahui teman dan tetangga bergabung dalam tim penambang, dia pun memutuskan untuk menghentikan pekerjaan nya yang menurut akan membahayakan Rizal.
Lalu, saat ini Cindy sudah berada di lokasi Dungeon Rank A untuk Tim B. Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tim penambangan.
Beberapa Hunter berjalan melewati Cindy dan melirik beberapa kali, tetapi mereka semua tetap bekerja untuk Guild dan tidak ada dari mereka yang memberi perhatian besar padanya setelah itu.
Sampai Cindy melihat kepala tim penambang dari kejauhan.
Buk, buk!
Jantung Cindy mulai berdetak lebih cepat.
Berdiri agak jauh dari mereka, Cindy mengamati wajah setiap penambang yang hadir. Namun, dia tidak bisa menemukan Rizal.
"Dimana Rizal?" gumam Cindy seraya melihat sekeliling nya.
"Apakah dia sudah berhenti menjadi penambang? Ah, lebih baik aku menunggu nya saja," sambung gumam Cindy.
Beberapa menit kemudian, Cindy tetap tidak bisa menemukan Rizal dan membuat nya menghela nafas panjang.
Setelah menghela nafas panjang, Cindy berbalik untuk pergi. Tapi, hanya setelah mengambil beberapa langkah, dia berbalik lagi dan kembali ke tempa sebelum nya dirinya berdiri.
Maka mau tidak mau, Cindy pun memutuskan untuk menghampiri kepala Tim penambang untuk mempertanyakan Rizal.
Lalu, Cindy melepas topinya dan menarik napas dalam-dalam beberapa kali sebelum berjalan menuju Kepala Tim penambang dan tatapan anggota tim penambangan diarahkan padanya.
Mengetahui kehadiran Cindy, kepala tim penambang sontak berlari menghampiri Cindy.
"Wakil ketua Cindy? Saya pikir Anda sedang istirahat hari ini?" sapa kepala tim penambang.
"Halo."
Cindy pun berbagi sapaan sederhana dengan kepala tim penambang dan setelah memastikan tidak ada yang menguping, dia dengan hati-hati mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Apakah ada Hunter bernama Rizal yang bekerja untukmu?"
Mendengar itu, Kepala Tim penambang terkejut karena nama Rizal diucapkan oleh Hunter Rank S, Cindy.
"Rizal ya ... Jika kamu mencari Rizal, dia menggantikan pekerjaan porter didalam Dungeon."
Saat mendengar itu, Cindy tersentak kaget.
"Seorang portir?! Apakah kamu mengatakan dia benar-benar masuk ke dalam Dungeon?!”
"Ya, Wakil Ketua. Itulah yang terjadi," jawab kepala Tim penambang seraya menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat seolah-olah untuk menunjukkan bahwa dia juga tidak bisa mempercayainya.
Mendengar itu, Cindy pun menganalisa sendiri yang mana seorang Hunter peringkat F mengajukan diri sebagai porter dan memasuki Dungeon peringkat A? Dan, dia bahkan tidak memiliki lusinan nyawa atau apapun juga.
"Apa yang sebenarnya dia pikirkan?" gumam heran Cindy.
Lepas dari itu, semua Cindy memikirkan kebaikan dan keramahan Rizal yang mana tidak pernah memandang nya sebagai Hunter rank S melainkan seorang teman.
Maka, Cindy memutuskan untuk menolongnya.
"Aku harus menolong nya," gumam Cindy seraya menggigit ibu jarinya.
Lalu, Cindy memberitahu keputusan kepada kepala tim penambang.
"Aku akan masuk gerbang sendiri."
Kepala tim penambang terkejut dengan keputusan Cindy.
"Hah?! Apakah ada kecelakaan? Haruskah kita meminta Guild untuk personel tambahan?" tanya panik Kepala Tim penambang.
"Tidak, tidak perlu. Ini masalah pribadi. Aku hanya ingin berbicara dengannya tentang sesuatu yang pribadi, jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab Cindy.
"Oh, begitu," jawab Kepala Tim penambang.
Lalu, Cindy berputar menuju Dungeon. Namun, sisinya terasa agak kosong.
‘Ah. Senjataku..’ ucap Cindy seraya meraba pinggangnya, hanya untuk terlambat mengingat bahwa dia telah meninggalkan pedangnya di rumah. Karena dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan memasuki Dungeon di hari liburnya seperti ini.
Meski Cindy berpikir, Atha seseorang yang benar-benar dapat dipercaya, dan anggota tim lainnya terdiri dari Hunter yang berbakat. Meski begitu ... Tak terbayangkan untuk memasuki ruang bawah tanah tanpa senjata di tangan.
Sebuah pertimbangan singkat itu membuat Cindy berbalik menghadap Kepala Tim penambang sekali lagi.
"Apakah ada hal lain, Wakil Ketua?" tanya heran Kepala Tim penambang.
“Kepala Tim penambang, bisakah saya meminjam senjata dari Anda?”
“Maaf?” tanya heran Kepala Tim penambang. Lalu, dia terpikir sesuatu dan memanggil rekan nya untuk membawa alat yakni beliung.
Lalu, Kepala Tim penambang memberikan beliung itu kepada Cindy.
Melihat itu, ekpresi Cindy terlihat kecewa.
"Permisi. Apa anda tidak punya yang lain?" tanya Cindy.
"Uhm, seperti?" balas Kepala Tim penambang.
"Misalnya, pedang atau tombak," jawab Cindy.
Kepala tim penambang tersenyum lebar seraya memegang kepala belakang nya. "Kami hanya pekerja. Tidak membawa senjata seperti itu."
Cindy pun menghela nafas pelan, "Aku mengerti."
Cindy pun dengan hati-hati menolak beliung yang diberikan oleh kepala tim penambang. Lalu, dia dengan cepat berjalan menuju Dungeon
Kepala Tim penambang dengan cemas bertanya pada Cindy saat melihat Cindy dari kejauhan.
"Cindy, apakah tidak apa-apa masuk kedalam dungeon dengan tangan kosong?"
Mendengar itu, Cindy tiba-tiba menghentikan langkah nya dan berdiri di sana sejenak.
Setelah itu, dia berjalan kembali untuk mengambil beliung dari Kepala Tim penambang.
"Kurasa itu yang terbaik, Wakil Ketua. Maksudku, akan berbahaya jika tidak memiliki senjata di dalam dungeon, apapun yang terjadi disana," ucap kepala tim penambang dengan senyuman lebar.
"Baiklah kalau begitu," jawab Cindy.
Lalu, Cindy pun masuk kedalam Dungeon.